Banyuwangi Club

Informasi, Wisata, Edukasi, Sejarah, Teknologi Banyuwangi

Klik Jasa Pembuatan / Service Website - Klik Jasa CCTV - Klik Jasa Pembuatan / Service Repeater

TRADISI SUROAN DI BANYUWANGI

Seperti halnya masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, beragam kegiatan dilakukan masyarakat di Banyuwangi dalam menyambut tahun Baru Islam, 1 Muharam atau 1 Suro dalam tradisi Jawa. Selain kegiatan yang lazim seperti mengadakan pengajian, berpuasa, hingga jamasan atau mensucikan keris dan barang antik, ternyata ada beberapa daerah di Banyuwangi yang memiliki tradisi yang khas untuk menyambut bulan Suro. Berikut diantaranya
Grebeg Tumpeng Suro Masyarakat Dusun Pekulo
Menyambut pergantian Tahun Baru Islam (Muharam) atau dalam kalender masyarakat Jawa dikenal dengan bulan Suro, ratusan masyarakat di Dusun Pekulo, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Banyuwangi, mengikuti acara Grebeg Tumpeng Suro.

Beberapa tumpeng raksasa yang dibuat atas swadaya masyarakat di arak keliling desa. Tumpeng tersebut dilengkapi dengan lauk pauk beraneka macam. Selain itu, terdapat tumpeng yang terbuat dari palawija hasil pertanian masyarakat setempat.

SUROAN DI BANYUWANGI

SUROAN DI BANYUWANGI

Ratusan ancak juga disiapkan untuk dimakan bersama dengan masyarakat yang datang, pada acara yang digelar setahun sekali tersebut.

Menurut Andre Subandrio, Ketua Panitia Grebeg Tumpeng Suro, selamatan dengan tumpeng biasanya dilakukan di masing-masing lingkungan, namun sejak empat tahun terakhir dijadikan satu agar lebih rukun.

“Harapannya semakin banyak yang datang dan ikut makan maka semakin berkah. Dan semoga selama setahun ke depan kita terhindar dari bahaya,” jelas Andre.

Menurut Andre hampir seluruh masyarakat di wilayahnya berkerja sebagai petani dan juga buruh tani dan memiliki lahan pertanian yang cukup luas.

“Di sini semua warganya kerja tidak jauh jauh dari pertanian. Tidak ada pabrik di sini,” katanya.
Setelah diarak keliling desa, rombongan yang membawa tumpeng berhenti di simpang tiga desa dan berdoa bersama. Selanjutnya masyarakat berebut tumpengan palawija dan makan bersama di sepanjang jalan Dusun Pekulo.

READ  SEJARAH BLAMBANGAN

Palawija yang berhasil diperoleh warga, selanjutnya dimasak bersama keluarga di rumah agar mendapat berkah.
Masyarakat Suku Osing Membuat Jenang Suro
Masyarakat suku Osing Banyuwangi, mempunyai cara khusus dalam rangka merayakan Tahun Baru Islam. Mereka membuat jenang suro sebagai hantaran ke tetangga atau saudara.

Salah seorang warga Banyuwangi, Yarmeli (56) mengatakan masyarakat di desa-desa menggelar selamatan dengan membuat jenang suro.

Makanan ini terbuat dari tepung beras yang ditanak dengan santan dan serai, diberi kuah kare, irisan telur dadar, dan kacang tanah yang digoreng. Ada juga yang menambahkan serundeng atau kelapa yang digoreng. Rasanya mirip bubur ayam.

Mengantar jenang suro, kata Yarmeli merupakan tradisi turun temurun bagi keluarga osing yang akan terus diajarkan kepada anak cucu. Ini juga bermakna memperkuat hubungan silaturahmi dengan tetangga dan saudara.
Menariknya, saat mengantarkan jenang suro dengan piring ke tetangga atau keluarga, si penerima cukup menarik alas daun pisang yang dibentuk membulat, kemudian dipindahkan ke piring lainnya.

Kegiatan selamatan ini tidak secara khusus diumumkan di masjid, namun lebih kepada inisiatif masing-masing individu.

Di Ketapang Para Santri Gelar Ider Bumi

Di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, puluhan santri dari Yayasan Jamiyah Tauhid dan Pondok Pesantren Al-Hikam, menggelar ritual Ider Bumi untuk memperingati 1 Muharam Tahun Hijriyah.

READ  INFO JADWAL KERETA API SURABAYA - BANYUWANGI

Ritual tahunan yang digelar sejak puluhan tahun ini diikuti puluhan santri dan masyarakat sekitar. Ritual Ider Bumi ini untuk mendoakan Indonesia agar terhindar bahaya dan bencana.

ADAT SUROAN DI BANYUWANGI

ADAT SUROAN DI BANYUWANGI

Sebelum menggelar ritual, santri dan masyarakat menggelar pengajian hingga menjelang pagi. Mereka pun juga berpuasa dan makan sahur hanya dengan segenggam nasi dan air putih.

Para santri dan masyarakat yang mengikuti Ider Bumi ini, berkeliling jalan kampung, desa dan kelurahan sejak dini hari, hingga menjelang matahari terbenam. Di sepanjang mereka melafalkan Istigfar sambil membawa bendera merah putih.

“Ini adalah budaya dan tradisi di Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, kita harus melestarikan sekaligus mendoakan Indonesia agar terhindar dari mara bahaya dan bencana,” ujar pengasuh Yayasan Jamiyah Tauhid dan Ponpes Al-Hikam Banyuwangi, KH Mas Syaifulloh Ali Bagiono.

Menurut KH Mas Syaifulloh Ali, ritual Ider Bumi dalam pandangan ajaran jawa kuno, adalah membersihkan diri dari kotoran 4 unsur manusia. Antara lain, unsur api, air, tanah dan angin.

Sedangkan dalam pandangan Islam, Ider Bumi merupakan napak tilas dari Nabi Adam, AS, saat diturunkan di bumi saat mencari Siti Hawa. Sekaligus ritual ini merupakan napak tilas para pahlawan saat merebut kemerdekaan dulu.
“Inti dari Ider Bumi ini adalah membersihkan diri. Selain mereka yang melakukan, juga membersihkan alam semesta dan seisinya. Pembersihannya dilakukan dengan bacaan Istighfar yang dilakukan peserta Ider Bumi,” tambahnya.

READ  Pantai Rajegwesi Banyuwangi

Berbagai kegiatan di bulan Suro dilakukan di Banyuwangi, mulai dari jamasan atau mensucikan keris dan barang antik, hingga kegiatan pengajian. Kegiatan ini semuanya dilakukan untuk membersihkan diri, hati dan pikiran, agar di tahun ke depan lebih dipermudah dalam menjalankan segala kegiatan ataupun aktivitas. (Detik.com, Kompas.com, Republika.co.id)

TRADISI SUROAN DI BANYUWANGI


Tradisi Perayaan Tahun Baru Islam di Banyuwangi - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

Petik Laut Kala Suro, Ritual Ngalap Berkah Warga Pesisir Banyuwangi - detikJatim Baca Selengkapnya

Tradisi Satu Suro di Banyuwangi, dari Jamasan hingga Petik Laut - Kompas.com Baca Selengkapnya

Mengenal Tradisi Jamasan Pusaka di Banyuwangi pada Bulan Suro - SUARA INDONESIA Baca Selengkapnya

Kerukunan dan Gotong Royong Tercermin dalam Tradisi Jenang Suro Desa Segobang Banyuwangi - Bwi24jam Baca Selengkapnya

Serba-serbi Keunikan bulan Suro, Ada Tradisi Keboan di Rogojampi Banyuwangi - artik.id Baca Selengkapnya

Riuh Ribuan Warga Banyuwangi Ikuti Petik Laut 1 Suro di Pantai Lampon, Larung Sesaji ke Laut - Liputan6.com Baca Selengkapnya

Petik Laut, Ritual Ngalap Berkah Warga Pesisir Banyuwangi Saat 1 Suro - detikTravel Baca Selengkapnya

Serunya Tradisi Grebeg Suro Di Banyuwangi, Warga Berebut Tumpeng Raksasa - arahJATIM.com Baca Selengkapnya

Melihat Persiapan Warga Desa Aliyan Banyuwangi Gelar Tradisi Keboan Suro, Kompak Buat Lawang Kori - Liputan6.com Baca Selengkapnya

Perayaan 1 Suro di Banyuwangi... Halaman all - Kompas.com - Kompas.com Baca Selengkapnya

Tradisi Sakral Memperingati Malam 1 Suro, Para Petapa Jalan Kaki ke Alas Purwo - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

READ  10 Tempat Wisata Banyuwangi yang indah

Tradisi Baritan di Malam 1 Suro, Warga Lereng Gunung Raung Minta Keselamatan - detikJatim Baca Selengkapnya

Mengenal Ritual Petik Laut Lampon Saat 1 Suro di Banyuwangi, Tradisi sejak 94 Tahun Lalu Halaman all - Kompas.com - Kompas.com Baca Selengkapnya

Tradisi Suroan; Berebut Air Suci, Selamatan, hingga Cukur Gundul - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

Kebo Keboan


Upacara Adat Kebo-keboan Alasmalang, Banyuwangi

Kebo-Keboan merupakan salah satu upacara adat yaitu berubah menjadi kebo Banyuwangi. Dengan dikutuk oleh masyarakat. Upacara adat tersebut sudah adat sejak 300 tahun yang lalu, tepatnya pada abad ke-18. Kebo-Keboan biasa dilakukan di awal bulan Suro, penanggalan Jawa. Tujuan dari upacara adat ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, atas hasil panen yang melimpah dan merupakan doa, agar proses tanam benih untuk tahun depan dapat menghasilkan panen yang melimpah. Terdapat dua desa di Banyuwangi yang masih melestarikan tradisi Kebo-Keboan. Desa tersebut adalah Aliyan dan Alasmalang. Tujuan dan fungsinya sama, yang membedakan adalah alur penyajiannya. Di desa Aliyan seluruh ritual masih dilakukan secara aturan adat, sedangkan Kebo-Keboan di desa Alasmalang merupakan imitasi yang dilakukan dengan tujuan pariwisata. Kerbau mempunyai simbol sebagai tenaga andalan bagi petani. Binatang kerbau merupakan binatang yang lekat dengan kebudayaan agraris. Dalam kehidupan agraris, kerbau dan sapi, merupakan binatang yang membantu petani dalam mengolah lahan sawahnya. Bahkan dalam mengolah sawah kerbau dianggap lebih kuat daripada sapi. Binatang kerbau di berbagai wilayah di Indonesia menjadi binatang penting dalam ritual adat. Dari asalnya kebo kenanga ini sangat lah istimewa dalam tradisi Banyuwangi

READ  PLENGKUNG BANYUWANGI

Sejarah

Tokoh Kebo-keboan Alasmalang, Banyuwangi

Legenda tentang upacara adat Kebo-Keboan berasal dari kisah Buyut Karti yang mendapat wagsit untuk menggelar upacara bersih desa, Bila melihat sejarah upacara Kebo-Keboan sudah ada sejak abad 18. Upacara adat ini pada zaman dahulu merupakan sebuah media untuk melestarikan tradisi luhur. Pada tahun 1960 tradisi ini mulai jarang dilaksanakan. Setelah reformasi tradisi kebo-keboan muncul kembali di Desa Alasmalang. Inisiator kembalinya Kebo-Keboan di masyarakat atas bantuan Sahuni. Selain di desan Alasmalang, tradisi ini juga berkembang di desa Aliyan.

Mbah Muradji (75) merupakan pelestari Tradisi Kebo-keboan di Desa Alasmalang, Kabupaten Banyuwangi. Saat ditanya kapan alasannya aktif melestarikan tradisi kesenian tersebut, Dia menjelaskan bahwa, Tradisi yang dijalaninya sejak tahun 1960 ini merupakan warisan budaya turun temurun dari Kakek Buyutnya yaitu Buyut Karti (alm) yang merupakan pendiri tradisi kebo-keboan di daerah tersebut pada awal Abad 18 Masehi.

"Pada saat Tahun 1994, Saya menjadi perwakilan Kabupaten Banyuwangi dalam Pekan Budaya Jawa Timur, yang saat itu berlokasi di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Dalam ajang Nasional tersebut Alhamdulillah saya mampu membanggahkan Kabupaten Banyuwangi dengan berhasil masuk sebagai 10 Besar Budaya Lokal Terbaik Seluruh Indonesia." Lanjutnya dengan menunjukan foto saat melakonkan kebo-keboan.

Makna tradisi Kebo-Keboan berkaitan juga dengan ajaran Hindu dan Budha. Di dalam kitab Purana, tokoh Dewi Durga digambarkan mempunyai tangan delapan. Tangan kanan berjumlah empat dengan posisi memegang cakra berapi, sara, serta seekor kerbau. Tangan kiri juga berjumlah empat, masing-masing memegang sangkha, dua pasa, dan rambut asura. Tangan kanan melambangkan kebajikan atau kebaikan yang diartikan sebagai penguasa tanaman dan kesuburan. Hal ini dilambangkan oleh seekor kerbau atau Sang Hyang Nandini, sedangkan tangan kiri sebagai lambang angkara murka, pembinasa asura, dan menguasai berbagai penyakit menular. Oleh karena Kebo-Keboan masih berkaitan dengan kerjaan Blambangan, pemilihan kerbau sebagai media dalam upacara adat merupakan simbol kebaikan bagi rakyat, khusunya dalam bidang pertanian.

READ  Jasa CCTV Banyuwangi

Penyajian

Penyajian di Desa Alasmalang

Upacara Ngider Bumi (Tumpeng Hasil Bumi)

Tradisi Kebo-Keboan di Alasmalang berfungsi sebagai daya tarik pariwisata., diakhiri dengan penanaman benih padi oleh manusia kerbau, yang diharapkan bisa memberikan panen yang melimpah. Selain itu, tokoh yang mempunyai peran sebagai Dewi Sri, mempunyai tugas untuk membagikan benih padi tersebut.

Penyajian di Desa Aliyan

Tradisi Kebo-Keboan di desa Aliyan masih kental dengan aturan adat yang terstruktur. Alur pelaksanaa upacara adat Kebo-Keboan di desa Aliyan adalah sebagai berikut: pertama, diakhiri dengan ngurit. Pada kegiatan ini ada tokoh yang bernama Dewi Sri bertugas memberikan benih kepada ketua adat yang selanjutnya diberikan kepada masyarakat agar ditanam.

Tradisi Suroan Di Banyuwangi