Banyuwangi Club

Informasi, Wisata, Edukasi, Sejarah, Teknologi Banyuwangi

Klik Jasa Pembuatan / Service Website - Klik Jasa CCTV - Klik Jasa Pembuatan / Service Repeater

Jasa Pembuatan Sewa Repeater HT

Apa itu Repeater HT?
Repeater HT adalah perangkat yang berfungsi untuk memperluas jangkauan sinyal komunikasi radio radio rig dan Handy Talky (HT).

Perangkat ini melakukannya dengan cara menerima sinyal radio, memperkuatnya, dan kemudian memancarkannya kembali dengan power yang lebih besar.

Repeater merupakan perangkat Radio Pancar Ulang (RPU) yang berfungsi untuk menambah Jangkauan Komunikasi antara Radio HT 1 dengan Radio HT / Radio Base Station yang lain.

Sistem kerja Repeater adalah dengan mengandalkan Radio RX (Receiver) sebagai penerima & di Transmite kan kembali oleh Radio TX (Transmitter) Repeater dengan settingan Frekuensi Duflex.

Produk Repeater yang kami Tawarkan diantaranya : Repeater Motorola Mototrbo (ANALOG & DIGITAL), Repeater Hytera (ANALOG & DIGITAL), Repeater ICOM (ANALOG & DIGITAL).

Jasa Pembuatan Sewa Repeater Ht

Jasa Pembuatan Sewa Repeater Ht

Komponen Utama Repeater HT

Repeater HT memiliki beberapa komponen utama yang bekerja bersama-sama melakukan fungsinya dengan baik.

Komponen-komponen ini termasuk:

Penerima (Receiver)

Penerima adalah komponen yang bertanggung jawab untuk menangkap sinyal radio yang ditransmisikan oleh HT.
Sinyal ini umumnya lemah karena telah menempuh jarak jauh dan mungkin telah melewati berbagai hambatan fisik.

Oleh karena itu, peran penerima sangat penting dalam menangkap sinyal.

Pada dasarnya, penerima adalah rangkaian elektronik yang dirancang untuk memilih dan mengamplifikasi sinyal frekuensi yang sudah ditentukan

Komponen ini biasanya dilengkapi dengan filter untuk memblokir sinyal yang tidak diinginkan dan memperkuat sinyal yang diinginkan.

Pemancar (Transmitter)

CARA KERJA REPEATER HT
Setelah sinyal diterima dan diperkuat, tugas pemancar adalah memancarkan kembali sinyal tersebut ke segala arah

Pemancar pada repeater HT mengubah sinyal elektrik yang diperkuat menjadi gelombang radio yang kemudian dipancarkan melalui antena.

Alat ini dirancang untuk memancarkan sinyal frekuensi radio yang kuat dan stabil.

Komponen ini harus mampu bekerja dalam berbagai kondisi, termasuk suhu ekstrim dan gangguan sinyal,

Controller

Controller adalah otak dari repeater.
Komponen repeater HT ini bertugas mengatur repeater, termasuk menentukan kapan harus menerima dan memancarkan sinyal,

Selain itu, Controller juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa repeater bekerja sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku.

Seperti memastikan penggunaan frekuensi yang tepat dan memantau kondisi repeater untuk deteksi masalah atau gangguan.

Duplexer

Duplexer adalah komponen penting yang memungkinkan repeater ht untuk menerima dan memancarkan sinyal secara simultan.
Perangkat ini terdiri dari serangkaian filter yang dirancang untuk memisahkan dan mengarahkan sinyal yang diterima dan dipancarkan melalui 1 Antena

Duplexer membantu mencegah sinyal yang dipancarkan mengganggu sinyal yang diterima, yang bisa menyebabkan masalah seperti interferensi.

Kabel Antena

Kabel antena berperan penting karena menghubungkan antena dengan pemancar dan penerima dalam repeater.

Kualitas dan karakteristik kabel antena bisa sangat mempengaruhi performa keseluruhan dari repeater.

Pertama:
Kabel yang berkualitas tinggi biasanya memiliki insulasi yang baik, yang melindungi sinyal yang melewatinya dari gangguan luar.

Hal ini penting untuk menjaga integritas sinyal dan menghindari kerugian sinyal atau ‘losses’.

Kedua:
Diameter kabel antena juga penting.

Kabel dengan diameter yang lebih besar biasanya memiliki kapasitas yang lebih baik untuk membawa sinyal.

Namun, perlu diingat bahwa kabel dengan diameter yang lebih besar juga biasanya lebih mahal dan lebih sulit untuk dipasang.

Selain itu, panjang kabel antena juga berpengaruh terhadap kerugian sinyal.

Semakin panjang kabel, semakin besar potensi kerugian sinyal. Oleh karena itu, penting untuk memilih panjang kabel yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Antena

Antena adalah bagian yang sangat vital dari setiap repeater ht. Ini adalah komponen yang memancarkan dan menerima sinyal radio.
Perangkat Antena repeater biasanya dirancang untuk dapat mengirim dan menerima sinyal dalam berbagai arah dan jarak jauh.

Unit Antena Repeater HT harus memilik gain yang besar. Semakin besar gain antena semakin bagus jangkauan repeater ht tersebut.

Power Supply

Repeater memerlukan sumber daya untuk beroperasi, dan inilah fungsi dari power supply  merupakan unit independen yang dirancang untuk memberikan tegangan yang stabil dan aman bagi semua komponen repeater.

Power supply harus mampu menyediakan daya yang cukup untuk memastikan operasi yang efisien dan andal dari repeater.

Penempatan Antena Repeater HT
Posisi antena sangat mempengaruhi sejauh mana sinyal dapat menjangkau.

Oleh karena itu, antena repeater ht biasanya ditempatkan di tempat yang tinggi, seperti tower, gedung, atau gunung.

Hal ini bertujuan untuk memastikan sinyal dapat mencapai jangkauan maksimal dan menghindari hambatan fisik yang dapat mengurangi kekuatan sinyal.

Regulasi dan Hukum Penggunaan Repeater HT
Di Indonesia, penggunaan repeater dan frekuensi radio secara umum diatur oleh UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

Undang-undang ini mengatur penggunaan spektrum frekuensi radio dan satelit untuk memastikan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan spektrum frekuensi radio dan satelit untuk kepentingan nasional.

Selain itu, ada juga Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika / Permenkominfo tentang Penggunaan Spectrum Frekuensi Radio.

Peraturan ini lebih rinci dalam mengatur penggunaan spektrum frekuensi radio dan memastikan penggunaannya tidak mengganggu atau menginterferensi penggunaan lainnya.

Pemahaman tentang regulasi dan hukum ini sangat penting untuk setiap orang atau organisasi yang menggunakan repeater atau alat komunikasi dua arah lainnya.

Penggunaan yang tidak sesuai dengan peraturan bisa berakibat pada sanksi hukum dan kerugian lainnya.

radio pancar ulang repeater


Kominfo Fasilitasi Frekuensi Radio Pancar Ulang Untuk Gugus Tugas Covid-19 Kapuas - MMC Kalteng Baca Selengkapnya

Permudah Komunikasi Nelayan di Laut, Timah Serahkan Repeater Radio Pancar Ulang ke RAPI Beltim - PosBelitung.co Baca Selengkapnya

YPI Bangun Tower Stasiun Radio Pancar Ulang Antisipasi Bencana - Media Alkhairaat - Media Alkhairaat Online Baca Selengkapnya

Diduga Ilegal, Repeater Milik 3 Instansi Pemkab Tuban Disegel - ngopibareng.id Baca Selengkapnya

Satbrimob Polda Banten Gelar Mobile Repeater – JAPOSCO - Japos.Co Baca Selengkapnya

PLN Aceh Bantu Penguatan Sistem Komunikasi RAPI untuk Siaga Bencana » The Aceh Post - Theacehpost Baca Selengkapnya

Pengurus Radio Antar Penduduk Indonesia Daerah 13 Jatim Wilayah 02 Banyuwangi Laporkan Dugaan Pelanggaran ... - HARIAN SIBER Baca Selengkapnya

Bromo Labil, Desa Ngadas Dipasangi Radio Pancar Ulang - Nasional Tempo Baca Selengkapnya

Orari Belitung Pasang Antena Radio Pancar Ulang - Bangkapos.com Baca Selengkapnya

Walkie Talkie


Consumer Walkie-Talkie Twintalker 4710 DCP

Protofon (Bahasa Inggris: Walkie talkie) adalah sebuah alat komunikasi genggam yang dapat mengomunikasikan dua orang atau lebih dengan menggunakan gelombang radio.

Indonesia melalui Peraturan Menteri Kominfo no 2/2023 memberikan izin penggunaan Walkie Talkie dengan klasifikasi Class License bernama PMR (Private Mobile Radio) di frekuensi 409 MHz. Di luar alokasi PMR409 ini, semua pemakaian Walkie Talkie harus mempunyai Izin penggunaan frekuensi, baik berupa ISR (Izin Spektrum Radio), IAR (Izin Amatir Radio), atau IKRAP (Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk).

Kebanyakan walkie talkie digunakan untuk melakukan kedua fungsinya yaitu berbicara ataupun mendengar. Walkie Talkie dikenal dengan sebutan Two Way Radio ataupun radio dua arah, yang dapat melakukan pembicaraan dua arah, berbicara dan mendengar lawan bicara secara bergantian. Walkie talkie dapat digunakan dalam jarak 0,5 Km sampai dengan 2,5 Km tanpa menggunakan biaya pulsa seperti menelpon. Walkie talkie merupakan transceiver langsung (antar perangkat) tanpa melalui stasiun pengulang (repeater). Karena ia memiliki sifat two way radios tersebut, alat ini memiliki radio transmitter dan sinyal penerima komunikasi radio.

Sejarah

Donald L Hings

Walkie Talkie dibuat pada tahun 1937 oleh seorang penemu asal Kanada yang bernama, Donald Lewes Hings , P.Eng, M.B.E., C.M. Pada saat pertamakali ditemukan, walkie talkie belum dinamakan walkie talkie, benda tersebut adalah waterproof 2ways radio dan diproduksi untuk Dominico pada tahun 1938. Setelah itu waterproof 2 way radio yang dapat juga disebut dengan Light Aircraft Emergency Set memiliki berat 12 pounds, besarnya 6” x 7” x 13” dengan antena yang melipat kebawah, serta baterai di dalamnya.

Akhir tahun 1938, Hings mengembangkan kabin pesawat udara permanen, 10PC20. 10PC20 memiliki bobot 3.5 Ibs, 29 watt, memiliki pemancar dan penerima suara ataupun kode, dapat bekerja efektif dalam wilayah 250 miles pada frekuensi 5000 kilocycles.

Awal tahun 1940, Hings mengirimkan surat kepada Canadian Air Force berhubungan dengan wireless transceiver suara 10PC20 untuk penggunaan pesawat udara militer dan mereka yang setuju bahwa teknologi tersebut memiliki fungsi yang sangat penting.

Penggunaan nama Walkie Talkie pertamakali terdengar pada tahun 1941, saat itu Hings mengatakan pada media bahwa walkie talkie berasal dari seorang prajurit yang berjalan menggunakan C 18 dengan seragamnya, dan seorang reporter berita bertanya kepadanya apa yang prajurit itu lakukan. Prajurit tersebut membalas dengan mengakatan bahwa kau dapat berbicara (talk) dengan ini (C 18) disaat kau sedang berjalan (walk) menggenggam ini (C 18). Dengan pristiwa itulah para jurnalis ataupun reporter menuliskan walkie talkie pada berita harian mereka mengenai penemuan terbaru tersebut yang diambil oleh pembicaraan tersebut.

Al Gross

Al Gross

Inovasi mengenai walkie talkie juga datang pada seorang penemu yang lahir di Kanada dan dibesarkan di Amerika, Al Gross. Operator Ham Radio (Call sign W8PAL) walkie talkie adalah penemuan pertamanya yang menggunakan hand-held radio FM kecil dengan alat komunikasi dua arah yang ia kembangkan pada tahun 1938 disaat ia duduk di bangku SMA di Cleveland.

Gross direkrut oleh OSS (Office of Strategic Service) yang sekarang dapat kita sebut dengan CIA, untuk mengembangkan dua arah sistem udara ke darat untuk digunakan untuk berkomunikasi dengan intelegen di luar garis yang diketahui oleh musuh. Pada tahun 1941, Gross mengembangkan sebuah model walkie talkie yang dapat berkerja dengan baik yang hanya memiliki berat 4 pounds dengan antena yang simple. Baterainya yang dapat dioperasikan pada unit 260 MHz, frekuensi yang tidak mudah diserang pada wilayah kawasan musuh.

US Army Signal Corps

Sejarah lain mengenai walkie talkie merupakan walkie talkie model SCR-194 merupakan bentuk walkie-talkie pertama yang dibuat oleh US Army Signal Corps Contribution. SCR-194 didesain untuk digunakan oleh tim altilery untuk berkomunikasi di antara grup.

Motorola

Motorola juga memiliki peran penting dalam perkembangan walkie-talkie. Penemuan pertama mereka pada tahun 1940 adalah Handie Talkie, sebuah walkie talkie dua arah atau dapat disebut dengan SCR-536. Sinyal Corps untuk unitnya dapat melihat aksi apapun di dalam kejadian pada perang dunia tersebut. Perusahaan tersebut memproduksi full SCR-536 pada bulan Juli 1941, 6 bulan sebelum tragedi Pearl Harbor.

Awal tahun 1940, Daniel Noble, orang yang mengembangkan sistem komunikasi FM mobile untuk Connecticut State Police. Daniel Noble adalah orang pertama yang membuktikan sistem FM kepada kebutuhan khusus dari departemen kepolisian. Noble tidak memiliki tanggung jawab dalam pengembangan radio Handie-Talkie tetapi ia pergi ke Fort Monmounth, New Jersey, bersama dengan Don Mitchell dalam membentuk presentasi mengenai unit kepada Signal Corps.

Pada presentasi tersebut Signal Corps diwakilkan dengan Col. Colton dan Major J. D. O’Connell yang memiliki peran penting dalam perkembangan dari jangkauan yang lebih jauh daripada radio Handie Talkie. N SCR-300 (FM) hadir pada akhir tahun 1940, pengetesan contoh asli transceiver pun telah berhasil pada musim semi tahun 1941.

Rentangan waktu perkembangan walkie talkie dari tahun 1937 sampai tahun 1942

Jaringan Walkie Talkie memerlukan petunjuk untuk memungkinkan cara kerja yang efisien walaupun jaringan tersebut digunakan oleh banyak ataupun sedikit walkie talkie. Setiap pengguna yang menggunakan jaringan tersebut harus waspada untuk menggunakan aturan walkie talkie tersebut. Cara penggunaan walkie talkie berbeda antar jaringan yang satu dengan yang lainnya ataupun merk yang satu dengan merk lainnya, tetapi ada cara-cara yang general dalam menggunakan walkie-talkie tersebut, yaitu:

  1. Gunakan pesan ataupun transmisi yang pendek ataupun to the point, jika pengguna memiliki pesan yang cukup panjang, jadikan pesan tersebut pendek dan pastikan bahwa penerima pesan tersebut mengerti apa yang dimaksud pada pesan tersebut.
  2. Bicara dengan jelas dan dalam kondisi suara yang normal dengan mulut yang berjarak 3 inchi dari microphone radio.
  3. Gunakan kata-kata istilah yang standar dalam mempraktikannya kepada orang lain yang menggunakan walkie talkie pada jaringan yang sama.
  4. Jangan gunakan obscenities, sebuah jaringan radio yang menggunakan gelombang publik, gelombang tersebut dikontrol oleh Federal Communications Commission’s (FCC’s) policies. FFC memiliki wewenang untuk memonitor percakapan kita kapan saja.
  5. Saat mengoperasikan Walkie-Talkie, tekan tombol push-to-talk selama satu detik sebelum memulai untuk berbicara. Pada sebagian walkie-talkie pengguna akan mendengarkan bunyi ‘beep’ setelah menahan tombol tersebut yang menyatakan bahwa pengguna sudah dapat untuk berbicara.

Apabila pengguna sudah menjalankan semua aturan penggunaan walkie-talkie sesuai dengan yang tertulis diatas. Diharapkan maka komunikasi melalui walkie-talkie menjadi efektif maupun efisien dan tidak terjadi miss communication.

Pengguna

Militer

Pada sejarah terbentuknya walkie talkie dijelaskan bahwa walkie talkie pertama kali digunakan untuk kebutuhan militer khususnya apabila terjadinya perang. Walkie-talkie pertama yang digunakan oleh anggota militer adalah Radio Man, alat tersebut berbahaya, karena tentara yang menggunakannya hanya dapat menggunakan senjata kecil saat menggunakan alat tersebut. Hal itu terjadi karena beratnya Radio Man. Tugas tersebut merupakan tugas penting, karena alat tersebut, prajurit-prajurit dapat menyampaikan ataupun menerima informasi kepada base-campnya mengenai posisi musuh ataupun tempat untuk mengirimkan berita perang.

Kepolisian

Kepolisian adalah kelompok selanjutnya yang menggunaka walkie-talkie. Kepolisian menggunakan walkie talkie untuk mengirimkan laporan kepada kepolisian pusat mengenai informasi kejahatan seperti perampokan bank, kecelakaan lalu lintas ataupun pembunuhan.

Pemadam Kebakaran

Pemadam kebakaran menggunakan walkie talkie untuk memberitahukan kepada orang-orang yang terjebak pada wilayah kebarakan agar menghindari tempat tersebut. Para pemadam kebakaran akan masuk kedalam ruangan dan perlu untuk berkomunikasi mengenai situasi yang terjadi di dalam sana, maka ia membutuhkan walkie-talkie untuk berkomunikasi dengan partnernya.

Keamanan Lingkungan

Keamanan Lingkungan (Satpam atau Hansip) menggunakan walkie talkie sebagai alat komunikasi antar anggota. Sebagai koordinasi pengamanan, penggunaan walkie talkie sangat membantu.

Hiburan

Walkie talkie merupakan teknologi komunikasi yang simple, hemat dan juga mudah untuk dioperasikannya. Oleh sebab itu Walkie talkie digunakan untuk bersenang-senang seperti pada keluarga yang sedang melakukan camping, hiking, climbing ataupun saat berbelanja dipasar, karena walkie talkie dapat mengkomunikasi pengguna dengan teman atau saudara saat sedang bersama.

Perbedaan dengan Handie Talkie (HT)

Walkie talkie berbeda dengan handie talkie (HT). Walaupun keduanya mengacu prinsip yang sama mengenai radio dua arah, tetapi keduanya memiliki perbedaan.

Handie talkie memerlukan izin untuk menggunakannya, sedangkan walkie talkie tidak memerlukannya di alokasi yang ditentukan pemerintah masing-masing negara. Dalam Peraturan Menteri Kominfo 2/2023, Indonesia menentukan frekuensi 409 MHz untuk penggunaan PMR (Private Mobile Radio) Walkie Talkie, serupa dengan ketentuan FRS 409 di China/Hongkong. PMR 409 ini memberikan izin Walkie Talkie sebagai Class License, bebas menggunakan 409 MHz asalkan perangkat sudah tersertifikasi Postel.

Handie talkie memiliki power dan range frekuensi yang lebih besar dan bebas dibandingkan dengan walkie talkie. Walkie Talkie tidak memiliki keypad numeric, dan biasanya terdapat 16-20 channel program. Isi Channel dalam Walkie Talkie sudah ditentukan dan terprogram frekuensinya, tidak bisa diubah sendiri dari perangkat.

Dalam definisinya, Handie talkie merupakan alat komunikasi dua arah yang tidak menggunakan kabel. Pada awalnya jarak yang dapat ditempuh oleh alat ini hanya sejauh 2 mil, belakangan ini handie talkie dapat mencakup hingga jarak 12 mil.

Lihat pula

Referensi

  • Onslow, David. (2008). How to Choose a Two-Way Radio. Kanada. intercomOnline.com.
  • Anderson H, Leonard. (2005) The First Walkie Talkie Radio. USA. IntercomsOnline.com.
  • Jones, S., Kovac, R. & Groom F. M. (2009). Introduction to Communication Technologies: A Guide for Non-Engineers. Boca Raton, FL: CRC Press.

Bacaan lanjut

  • Dunlap, Orrin E., Jr. Marconi: The man and his wireless. (Arno Press., New York: 1971)
  • Harlow, Alvin F., Old Waves and New Wires: The History of the Telegraph, Telephone, and Wireless. (Appleton-Century Co., New York: 1936)
  • Herrick, Clyde N., Radio: Theory and Servicing. (Reston Publishing Company, Inc., Virginia 1975)
  • Martin, James. Future Developments in Telecommunications 2nd Ed., (Prentice Hall Inc., New Jersey: 1977)
  • Martin, James. The Wired Society. (Prentice Hall Inc., New Jersey: 1978)
  • Silver, H. Ward. Two-Way Radios and Scanners for Dummies. (Wiley Publishing, Hoboken, NH, 2005, ISBN 978-0-7645-9582-0)

Pranala luar

Jasa Pembuatan Rpu