Banyuwangi Club

Informasi, Wisata, Edukasi, Sejarah, Teknologi Banyuwangi

Klik Jasa Pembuatan / Service Website - Klik Jasa CCTV - Klik Jasa Pembuatan / Service Repeater

PANTAI SUKAMADE BANYUWANGI

PANTAI SUKAMADE BANYUWANGI

Pantai Sukamade – Kalau Taman NasionalMeru Betiri dikenal sebagai surganya flora dan fauna, barangkali julukan yang tepat untuk Pantai Sukamade adalah surganya penyu bertelur di Banyuwangi. Di sini pengunjung dapat menyaksikan secara langsung penyu bertelur, melihat penangkaran penyu dan mengikuti kegiatan pelepasan tukik (anak penyu) ke laut.
Pantai Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi.
Pantai Sukamade

Pantai Sukamade dikenal sebagai satu dari tiga tujuan wisata utama di Banyuwangi, selain Pantai Plengkung dan Gunung Ijen. Ketiga tempat wisata ini menjadi andalan sektor pariwisata Banyuwangi, yang dikenal dengan istilah Triangle Diamonds (segitiga berlian). Karena jika ditarik garis lurus yang menghubungkan lokasi ketiga tempat wisata tersebut, maka akan terbentuk sebuah segitiga.

Triangle diamonds tempat wisata di Banyuwangi.
Triangle diamonds
Pada mulanya pantai ini ditemukan oleh Belanda pada tahun 1927. Sukomade merupakan hutan lindung alam di Jawa Timur yang berhubungan dengan penangkaran penyu.Di sini juga terdapat perkebunan karet, kopi dan coklat yang ditanam di areal seluas 1200 hektar.

Pantai Sukamade yang lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini, letaknya searah dengan Pantai Rajekwesi dan Pantai Teluk Hijau. Jika Anda sudah sampai di Teluk Hijau dan memiliki waktu yang cukup, sayang jika tidak sekalian melanjutkan perjalanan ke Pantai Sukamade. Jaraknya hanya sekitar 15KM lagi. Walau jaraknya relatif dekat, tapi membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapainya, mengingat medan jalannya berbatu dan harus melewati sungai, sangat menjanjikan petualangan yang menantang adrenalin.< ?xml:namespace prefix = o />

 

Dari pintu gerbang Taman Nasional Meru Betiri, untuk mencapai Pantai Sukamade bisa ditempuh dengan menggunakan mobil dobel gardan, sepeda motor atau … jalan kaki.
Pantai Sukamade adalah satu dari dua lokasi penyu bertelur di Banyuwangi, selain PantaiNgagelan. Mungkin habitat penyu terbesar di Indonesia terdapat di pantai ini. Selama ribuan tahun, Sukamade adalah tempat bertelur penyu-penyu raksasa dari Samudera Hindia dan Pacific. Hal ini tidak lepas dari letak Sukamade yang terpencil, sehingga penyu-penyu bisa bertelur dengan lebih aman, minim gangguan manusia dan habitatnya pun terjaga.
Pada puncaknya, dalam sehari penyu yang mendarat bisa mencapai 80 ekor, mulai dari petang sampai pagi, namun belakangan jumlahnya terus menurun hingga tinggal belasan ekor saja.Salah satu penyebabnya banyaknya kapal-kapal nelayan yang mencari ikan di sekitar Pantai Sukamade memasang lampu yang sangat banyak di kapalnya membuat lokasi perairan menjadi terang.Akibatnya penyu menjadi takut untuk mendarat karena ia tidak suka cahaya. Karena itu di pantai dilarang menyalakan lampu supaya kondisi pantai tetap gelap gulita untuk membuat kondisi sealami mungkin bagi penyu mendarat.
                                       
Terdapat empat spesies penyu yang bertelur di Pantai Sukamade, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Slengkrah (Lepidochelys olivacea), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae). Dari empat spesies penyu tersebut,Penyu Hijau adalah jenis  yang paling banyak dan mudah ditemukan bertelur di Pantai Sukamade. Menurut laporan penelitian WWW (World Wide Fund for Nature), Penyu Hijau yang paling umum bersarang di Sukamade. Karena itu Pantai Sukamade pantas juga disebut sebagai tempat pendaratan penyu hijau terbaik di Indonesia.
PENYU HIJAU
Sesuai namanya, Penyu Hijau (Chelonia mydas) memang berwarna agak hijau pada bagian tubuh, daging, dan lemaknya. Saat dewasa biasanya berukuran rata-rata 100 cm, bahkan ada yang hingga mencapai 250 cm. Saat masih kecil atau anakan, jenis ini merupakan karnivora, tapi saat dewasa dia juga memakan ganggang dan daun-daun vegetasi mangrove/pantai.
Ciri morfologinya antara lain terdapat sepasang sisik prefrontal pada kepala, tempurung berbentuk hati dengan tepi rata dan berwarna hijau coklat dengan bercak coklat tua sampai hitam. Karapas terdiri dari empat pasang costal, lima vertebral dan 12 pasang marginal yang tidak menutupi satu sama lain. Terdapat sepasang kuku pada flipper/dayung depan, kepalanya kecil dan bundar. Keping perisai punggung tukik penyu hijau berwarna hitam, sedangkan bagian ventral berwarna putih.
Penyu Hijau (Chelonia mydas)
Penyu Hijau

 

Penyu Sisik di Pantai Sukamade, Banyuwangi.
Penyu Sisik

Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) disebut juga Penyu Genteng. Penyu Sisik juga dikenal sebagai Hawksbill turtle karena paruhnya tajam dan menyempit/meruncing dengan rahang yang agak besar mirip paruh burung elang. Demikian pula karena memiliki karapas yang bertumpuk atau tumpang tindih (imbricate) seperti sisik ikan, maka dinamai penyu sisik. Ciri-ciri umum adalah warna karapasnya bervariasi kuning, hitam dan coklat bersih, plastron berwarna kekuning-kuningan. Terdapat dua pasang sisik prefrontal. Penyu Sisik selalu memilih kawasan pantai yang gelap, sunyi dan berpasir untuk bertelur. Paruh penyu sisik agak runcing sehingga memungkinkan mampu menjangkau makanan yang berada di celah-celah karang seperti sponge dan anemon. Mereka juga memakan udang dan cumi-cumi.

Penyu Slengkrah di Pantai Sukamade.
Penyu Slengkrah/Lekang

Penyu Slengkrah (Lepidochelys olivacea) disebut juga Penyu Lekang, Penyu Abu-abu atau Penyu Sisik Semu.Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Olive Ridley turtle.Warna karapasnya abu-abu kehijauan, tukik berwarna abu-abu. Penampilan Penyu Slengkrah serupa dengan penyu Hijau tetapi kepalanya secara komparatif lebih besar dan bentuk karapasnya lebih langsing dan besudut. Tubuhnya berwarna Hijau pudar, mempunyai lima buah atau lebih sisik lateral di sisi sampingnya dan merupakan penyu terkecil diantara semua jenis penyu yang ada. Penyu Slengkrah/ Lekang adalah carnivora, ia memakan kepiting, kerang, udang dan kerang remis.

Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae)
Penyu Belimbing
Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) adalah satu-satunya jenis penyu yang tidak memiliki cangkang/tempurung/karapas  yang keras.Ia hanya mempunyai kulit kenyal dengan lima garis bergerigi (ridge) ke arah ekor, sehingga tubuhnya tampak seperti buah belimbing.Karapasnya berbentuk juring-juring seperti buah belimbing, tidak berpetak-petak seperti pada jenis penyu lain. Tubuhnya berwarna hitam dengan berbintik putih.

Penyu Belimbing tidak memiliki rahang yang cukup kuat untuk memecahkan biota laut yang keras, karena itu umumnya hanya memakan ubur-ubur saja.Penyu Belimbing memiliki kemampuan menyelam luar biasa hingga kedalaman 1000 meter.

Dari keempat jenis penyu tersebut, Penyu Belimbing paling besar ukuran tubuhnya, yaitu bisa mencapai 1,8 meter panjangnya dan berat badan penyu dewasa bisa mencapai 700 kg. 

Penyu betina yang hendak bertelur akan datang ke daratan dimana dulu pertama kalinya dia dilepas.Penyu betina biasanya bertelur ratusan yang diletakkan di dalam pasir di pantai. Penyu betina mulai mendarat di pantai jam 07.30 malam dan kembali ke laut pada jam 12.00 malam hari. Bulan Nopember hingga maret adalah musim penyu bertelur.
Di Pantai Sukamade ini setiap malam dilakukan patroli dan pengamatan penyu untuk menjaga agar telur penyu aman dari pencurian sekaligus mendata penyu-penyu yang mendarat dan bertelur di patai yang curam dan berombak besar ini. Untuk jenis yang masih muda, biasanya dalam satu kali bertelur mengeluarkan sekitar 50 – 80 butir telur, sedangkan yang sudah dewasa bisa lebih dari 100 butir telur dalam satu malam.

Patroli penyu yang dilakukan setiap harinya dibagi menjadi 2 shift  yaitu patroli sore/malam dan patroli pagi. Patroli sore/malam dilakukan pada pukul 20.00 – 24.00 WIB sedangkan patroli pagi dilakukan pada pukul 02.00 – 06.00 WIB. Setiap kali patroli dibagi menjadi 2 tim, yaitu tim barat dan tim timur. Tim barat tugasnya menyapu daerah bagian barat yaitu mulai dari sektor 1 hingga sektor 8 sedangkan tim timur bertugas menyapu daerah bagian timur yaitu dari sektor 9 hingga 34 yang daerahnya menyeberang muara sungai. Panjang pantai sukamade ini kurang lebih 2,3 km dengan penandaan 34 sektor tempat pendaratan penyu yang jarak masing masing sektor adalah 100 meter.

PENANGKARAN PENYU

Dahulu habitat penyu di Pantai Sukamade sempat berancam keberadaannya karena diburu oleh masyarakat.  Hingga tahun 1979 telur penyu di Sukamade masih diburu oleh para pengumpulnya. Namun, sekarang pengumpulan, pemindahan anakan, dan penangkapan penyu dilarang keras, karena Penyu hijau termasuk satwa yang dilindungi.

Di Sukamade terdapat tempat penangkaran penyu semi alami, dilakukan di kantor resort Sukamade, SPTN 1 Sarongan, Taman Nasional Meru Betiri. Penangkaran itu berukuran 5×12 M dengan dinding yang dibiarkan berlubang agar sirkulasi angin didalam rumah tersebut lancar dan lantainya berupa pasir Pantai Sukamade. 

Di dalamnya terdapat tempat penetasan telur penyu secara semi alami / hatchery semi alami yang memiliki 4 buah bak penetasan yang masing masing bak mampu menampung  kurang lebih 50 buah sarang telur penyu yang akan ditetaskan.

Telur penyu yang akan ditetaskan ditanam di hatchery, yang dilakukan pada pagi hari saat suhu udara masih rendah. Kedalaman lubang sarang telur di hatchery disesuaikan dengan kedalaman sarang di tempat alaminya, yaitu berkisar antara 80 – 90 cm. Proses peletakan telur yang dilakukan ke dalam lubang dilakukan secara perlahan – lahan supaya embrio telur tidak rusak.

Setelah telur diletakkan selanjutnya sarang ditutup kembali dengan pasir secara perlahan tanpa ditekan supaya telur tidak pecah dan memudahkan tukik yang menetas untuk keluar dari sarang nantinya. Telur yang telah selesai ditanam tersebut selanjutnya diberi patok label yang isinya antara lain nomor sarang, spesies penyu, jumlah telur dan tanggal relokasi telur. 

Dari label penanda yang ada di tempat penetasan telur penyu, dapat dilihat bahwa tidak setiap hari ada penyu yang bertelur.  Rata-rata seminggu bisa tiga sampai empat penyu yang bertelur.  Jadi meskipun bulan November sampai Maret biasanya merupakan waktu bertelur,namun tidak setiap hari ada penyu yang turun ke pantai untuk bertelur pada bulan-bulan tersebut.Ada kalanya si penyu cuma mendarat saja tanpa bertelur jika situasinya membuat penyu tidak merasa aman.

Tukik yang baru menetas.

Dari semua telur yang ditanam dalam pasir, tidak semuanya menetas secara sempurna. Ada beberapa yang menetas dengan kondisi cacat, ada yang sama sekali tidak menetas. Ini dikarenakan tertindih telur-telur diatasnya. 

Cangkang telur dan telur busuk ini tidak dibuang dengan cara dipendam melainkan dikumpulkan dan menjadi makanan bagi binatang lain seperti monyet dan biawak. 

Setelah telur penyu yang ditanam berumur 60-75 hari, maka telur-telur tersebut sudah menetas dan dilakukan pembongkaran sarang telur untuk membantu tukik yang mengalami kesulitan keluar dari pasir supaya tidak mati. Selain itu juga mengurangi predator pemangsa tukik yang baru menetas, seperti semut merah dan tikus.Pembongkaran sarang telur penyu juga untuk melakukan pembersihan pasir sarang dari sisa-sisa cangkang dan telur yang gagal menetas.

Anak tukik yang baru menetas di tempat penangkaran pantai sukamade, Meru Betiri, Banyuwangi.
Tukik yang baru menetas di bak penampungan.

Setelah menetas, maka tukik-tukik tersebut di tampung dulu di bak khusus pemeliharaan sementara sampai dianggap cukup umur untuk dilepaskan kembali ke laut.Ada 8 buah bak pemeliharaan tukik.Padat penebaran tiap bak pemeliharaan ini tidak menentu, disesuaikan dengan jumlah tukik yang menetas dari hatchery semi alami saja. 

Untuk sistem rotasi pelepasan tukik ke laut, bak yang tukik dipelihara paling lama akan dilepaskan terus di isi tukik yang baru menetas lagi sehingga rotasinya berjalan sesuai umur  tukik yang harus dilepas. Air tiap bak dijaga pada ketinggian 10 – 15 cm. Sistem pergantian air yang dilakukan disini setiap 2 hari sekali, yaitu dengan cara mengganti air secara keseluruhan.

MELIHAT PENYU BERTELUR

Melihat penyu bertelur di pantai adalah saat-saat yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan, karena Anda akan merasakan pengalaman yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.  

Sama halnya dengan di Pantai Ngagelan, di Pantai Sukamade ini kita bisa berwisata dengan mengikuti semua kegiatan petugas/ranger setempat dalam pengelolaan penyu. Mulai dari melihat langsung penyu mendarat dan bertelur di malam hari, penetasan telur, hingga pelepasan tukik.

Untuk melihat penyu yang bertelur, pengunjung dapat mengikuti tur dengan pemandu yang dimulai pada malam hari – karena biasanya para penyu mulai naik ke pantai sekitar pukul 19.30 dan kembali ke laut setelah pukul 24.00.

 

Biasanya pengunjung akan diminta untuk bersiap sekitar pukul 20.00 WIB untuk memulai pencarian penyu yang bertelur di pantai. Dari depan resort Sukamade Anda dan rombongan lain berjalan kaki beriringan dalam kegelapan malam menuju pantai yang berjarak 700 M. Anda akan disarankan untuk mengenakan pakaian hangat, membawa air mineral dan camilan secukupnya. Satu hal penting, dilarang menyalakan senter di area pantai agar tidak mengganggu penyu yang akan bertelur.
 
Jalan menuju pantai cukup nyaman untuk pejalan kaki namun untuk mencapai Pantai Sukamade Anda harus menembus hutan belantara. Setelah 30 menit perjalanan Anda sampai di pantai dan sang petugas akan menyuruh rombongan untuk berhenti di pintu gerbang pantai dan menunggu isyarat selanjutnya. Petugas akan kembali mengingatkan seluruh rombongan untuk tidak menyalakan apapun karena saat hendak bertelur penyu sangat sensitif pada cahaya dan suara. Jadi semua harus menahan diri tidak menyalakan senter dan berbicara perlahan.
 
Jika masih ada yang melanggar aturan tersebut, yang dirugikan adalah seluruh rombongan. Sebab penyu akan takut jika melihat sinar di pantai. Kemungkinan terbesarnya, penyu berputar arah kembali ke laut. Akibatnya, Anda harus menunggu datangnya penyu yang lain.
 
Penyu membutuhkan waktu sekitar satu jam dari laut untuk menelusuri pantai Sukamade, mencari pasir empuk hangat buat meletakkan telur. Lalu ia butuh waktu satu jam lagi untuk bertelur, sekitar 100 butir, lalu menutupnya dengan pasir. Satu jam lagi untuk menggali lubang tipuan/kamuflase.Lubang tipuan ini dibuat untuk menipu predatornya yaitu babi hutan yang biasanya menyerang dan memakan telur-telur penyu.
Penyu menggunakan keempat siripnya saat berjalan di atas pasir, dan bekas jejaknya di pasir itu yang menjadi petunjuk arah bagi petugas saat patroli penyu bertelur.Biasanya penyu akan memilih lokasi pasir pantai yang relatif tinggi dan bersih sebagai lokasi bertelur. Itu adalah persyaratan sederhana. Selain hal tersebut, faktor suhu menjadi faktor penentu. Penyu memiliki naluri alamiah yang bisa mendeteksi mana lokasi yang suhunya sesuai dan mana yang tidak. Penyu memilih tempat bertelur yang jauh dari jangkauan ombak karena telur penyu sulit menetas jika terkena air laut. 
Selama menunggu dalam kesunyian dan kegelapan, mungkin akan menjadi saat-saat yang menjemukan karena tidak ada kepastian berapa lama Anda harus menunggu sampai seekor penyu mendarat untuk bertelur. Namun Anda akan menikmati keindahan bintang-bintang yang menghiasi langit yang luas laksana bertabur jutaan berlian.
Sementara anda dan rombongan menunggu, petugas melakukan patroli sepanjang pantai. Pencarian penyu yang mendarat ke pantai dimulai dengan menyisir pantai dan melihat track/jejak dari penyu di pasir. Pada malam hari jejak penyu yang naik ke pantai tersebut terlihat seperti garis hitam yang panjang. Bila ditemukan track/jejak penyu, para petugas akan langsung mendekati penyu secara diam – diam dan melihat keadaan penyu.
Setelah sekian lama menunggu dan mendapat isyarat dari petugas bahwa penyunya telah berlabuh di pantai, maka Anda diperbolehkan untuk berjalan lebih dekat dengan induk penyu yang sedang bertelur. Namun jika penyu baru merangkak ke pantai dan memulai membuat lubang, pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengamati penyu dari dekat. Bahkan petugas pun harus menjaga jarak, tidak berisik dan tidak menyalakan cahaya apapun. Sebab proses mencari tempat bertelur dan membuat lubang adalah masa-masa peka bagi penyu.
Penyu bertelur di Pantai Sukamade.
Penyu sedang menggali lubang untuk bertelur.
Petugas sedang mengukur dan mengidentifikasi penyu.
Setelah menemukan lokasi bertelur yang cocok, penyu akan menggunakan keempat tungkai/siripnya menggali pasir untuk menanam tubuhnya. selanjutnya, penyu akan membuat lubang vertikal didalam lubang besar yang menanam tubuhnya, sedalam 50 hingga 60 cm, dengan lebar sekitar 10 cm hingga 20 cm. Untuk membuat lubang vertikal, penyu menggunakan tungkai belakangnya. Dalam proses ini, penyu masihlah peka oleh suara berisik dan sinar.
Penyu bertelur di Pantai Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi.
Penyu sedang bertelur
Lubang vertikal berfungsi untuk menampung telur-telur penyu. Ketika lubang vertikal sudah selesai dibuat, barulah penyu siap untuk bertelur. Ini adalah saat dimana petugas pantau memberikan isyarat pada para pengunjung untuk datang mendekat. Dalam kondisi seperti itu, penyu betina tidak akan peduli lagi dengan situasi di sekitarnya. Anda pun dibebaskan untuk mengabadikan proses tersebut dengan syarat  tanpa lampu flash dan hanya boleh diambil dari samping dengan bantuan senter. Penyorotan dari depan wajah ibu penyu hanya akan membuatnya terganggu dan kehilangan orientasi menuju air laut kembali.

Saat bertelur penyu mengeluarkan cairan melalui matanya, seperti menangis memang, tapi penyu ini bukan sedang menangis melainkan ia sedang mengeluarkan air garam, satu per satu telur berwarna putih seperti bola pingpong mulai dikeluarkannya.Air mata yang keluar dari sepasang mata penyu itu berfungsi untuk membersihkan pasir pantai agar tidak melukai kedua matanya.
Proses pengurukan pasir usai bertelur.
Sesaat setelah telur terakhir sudah dikeluarkan, penyu akan menutup lubang telur yang dilakukan dengan menggunakan kedua tungkai belakangnya. Lalu diteruskan dengan menutup lubang besar yang tadi menutupi tubuhnya.Proses ini memerlukan usaha yang cukup keras dari sang penyu. Kadang-kadang dia berhenti sejenak karena kecapekan.
 
Ketika penyu sedang melakukan proses penutupan lubang, hati-hati dengan kibasan pasir yang ditimbulkan. Disarankan untuk tidak membelakangi penyu, terutama bagi pengunjung yang membawa kamera DSLR.
Dalam proses penutupan lubang telur, pergerakan dan sinar terang masih bisa ditolerir. Namun, ketika penyu betina sudah bergerak kembali ke arah laut, petugas menyarankan seluruh pengunjung untuk mematikan lampu senter. Sinar hanya akan membuat penyu kebingungan akan arah. Selain itu, tidak adanya cahaya juga untuk berjaga-jaga kemungkinan ada penyu lain yang akan naik ke pantai.
 
Penyu kembali ke laut setelah bertelur.
Setelah lubang sudah tertutup sempurna, penyu akan berjalan ke tempat lain untuk membuat kamuflase tempat ia bertelur, gunanya untuk menipu predator yang mengincar telurnya.Setelah itu penyu pun kembali ke bibir pantai untuk kembali lagi ke habitatnya di lautan luas.
Setelah penyu selesai bertelur, petugas akan mengambil telur-telur tersebut untuk selanjutnya dipindahkan ke tempat penetasan telur penyu.Kegiatan pengambilan telur penyu ini dilakukan setelah penyu selesai bertelur, tapi terkadang petugas dapat langsung mengambil telur penyu tanpa menunggu penyu selesai menutup sarangnya. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi waktu.

 

Jejak yang ditinggalkan penyu setelah bertelur.

Tapi untuk sarang penyu yang sudah ditutup, petugas akan memberi tanda lokasi telur dengan menancapkan sebatang besi/kayu di pasir sebagai tanda bahwa didalamnya terdapat telur penyu. Jika tidak diberi tanda maka tidak nampak jejak sama sekali bahwa sebelumnya ada kubangan berdiameter hampir 1 meter dengan kedalaman kurang lebih 30cm.Sebab jejak penyunya sendiri pasti akan terhapus ombak pasang keesokan paginya. Setelah menemukan letak telur yang tepat, petugas langsung membongkar sarang tersebut untuk mengambil telurnya dan selanjutnya membawa ke tempat penetasan.

Telur penyu di Pantai Sukamade
Telur penyu
Telur penyu yang berhasil dikumpulkan, siap ditetaskan.

 

PANDUAN PENGAMATAN PENYU DI PANTAI SUKAMADE
 
– Kurangi kegaduhan hingga paling minimum tetaplah tenang dan bergerak dengan pelan.
– Jangan mendekati penyu yang baru saja mendarat, karena pada saat ini level kewaspadaan penyu sedang pada tingkat tinggi, penyu dapat menjadi ketakutan dan kembali kelaut.
– Indukan penyu yang baru bertelur harus di tinggalkan sendiri, tak boleh di dekati.
– Minimalkan penggunaan senter, sebaiknya menggunakan lampu merah jangan mengarahkan langsung ke muka induk penyu mundurlah pelan-pelan jika penyu merasa ketakutan.
– Tidak boleh mengganggu tukik jika sedang bertemu dengan tukik ketika melakukan pengamatan penyu bertelur.
– Jangan mengambil foto dengan lampu blitz sebelum indukan bertelur, karena lampu blits akan membuat penyu buta sesaat.
PELEPASAN TUKIK

Salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan di Pantai Sukamade adalah acara pelepasan tukik ke laut.Para pengunjung diperbolehan untuk melepaskan penyu ini dengan memberikan donasi secukupnya untuk UPKP.Pelepasan tukik ini bisa dilakukan kapan saja, tapi biasanya antara pagi sampai sore hari.Asal dilakukan tidak lebih dari 7 hari setelah menetas. Lebih cepat lebih baik karena tukik harus segera beradaptasi dengan kondisi alamnya di lautan untuk bisa bertahan hidup hingga 200 tahun ke depan sesuai umur normalnya.
Melepas tukik di Pantai Sukamade.
Tukik yang siap dilepas ke habitatnya di laut lepas.
Pelepasan tukik pada pagi hari biasanya dilakukan pada pukul 06.30 WIB. Sedangkan pelepasan tukik pada sore hari dilakukan pada pukul 15.00 – 17.00 WIB.
Hingga usia 3 bulan depan tukik menghadapi masa-masa lost atau hilang tanpa jejak di lautan.Periode tersebut adalah masa tukik menghadapi bahaya dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Semasa masih berupa telur sudah berhadapan dengan manusia, biawak dan babi hutan, setelah menetas menjadi tukik berhadapan dengan burung elang dan ikan, besar sedikit lagi ia harus kembali berhadapan dengan manusia yang mengincar dagingnya. Sungguh perjuangan yang berat bagi tukik untuk mencapai usia remajanya.

Begitu dilepas, tukik-tukik ini akan mulai merangkak menuju laut. Mereka mungkin tidak akan bergerak dengan cepat, terkadang berhenti sejenak. Tukik-tukik itu memang sengaja dilepas agak jauh dari bibir pantai. Tukik-tukik ini perlu mengenal dan mengingat dulu karakter pantai yang akan mereka tinggalkan, dan suatu saat ingatan yang mereka bentuk akan membuat mereka bisa kembali lagi ke pantai ini.

 

Melepas tukik di pantai,ternyata ada caranya tersendiri. Kita tidak ada boleh sembarangan memegang tukik, ada bagian tubuhnya yang tidak boleh dipegang,yaitu bagian perutnya.Mungkin bagian tersebut masih lemah.Sehingga cara memegang yang benar adalah menyentuh pinggir samping tempurungnya. 
 

 

 

Saling menyusul temannya.

 

 

 

 

Disaat pelepasan tukik itu,predator alami seperti elang berdatangan siap mengancam. Elang bisa datang beberapa kali dan menyambar beberapa ekor tukik, baik yang masih merangkak di pasir ataupun yang sudah berenang di lepas pantai. Dan tukik yang tidak beruntung pun hidupnya berakhir di hari pembebasannya, menjadi santapan sang predator.

elang salah satu predator tukik
Elang sang predator tukik.

AKOMODASI DI SUKAMADE

Kalau mau melihat penyu bertelur, pengunjung harus menginap karena waktunya berlangsung pada malam hari. Di Sukamade ada dua pilihan penginapan. Di desa Sukamade yang  berjarak sekitar 4-5 KM dari pantai atau di sekitar pantai Sukamade.
 
Di Pantai Sukamade terdapat wisma atau penginapan milik PT Sukamade Baru, perusahaan kopi dan coklat, milik PT Ledokombo, yang cukup terawat. Mereka menyediakan makan malam dan sarapan.
Penginapan di Sukamade
Tampak depan.

Sedangkan yang suka petualangan, tersedia camping ground yang dilengkapi dengan pendapa untuk ruang pertemuan. Fasilitas lain yang tersedia adalah Mushola, kamar mandi umum dan kantin/warung yang buka di hari-hari libur saja. Namun untuk fasilitas listrik hanya bisa dinikmati dalam waktu terbatas. Tentu bisa dimengerti karena resort Sukamade letaknya jauh di dalam hutan, maka di sini tidak ada jaringan listrik. Para petugas menggunakan genset untuk memasok kebutuhan listrik mereka dan para pengunjung yang bermalam, itupun baru dinyalakan ketika menjelang malam hari dan dimatikan pada pagi harinya.

RUTE MENUJU SUKAMADE

Gerbang masuk pantai Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi.
Pintu masuk Pantai Sukamade

Dari kota Banyuwangi ke Pantai Sukomade jaraknya sekitar 97 km ke arah barat daya. Lokasi Pantai Sukamade masih satu arah dengan Pantai Rajekwesi maupun Teluk Hijau yang sama-sama berada di wilayah Taman Nasional Meru Betiri.

Untuk mencapai Pantai Sukamade,kendaraan yang paling ideal menggunakan mobil 4×4 alias double gardan atau kendaraan sejenis off road lainnya.Jika Anda menggunakan kendaraan umum, maka tidak ada transportasi yang langsung menuju Pantai Sukamade.

Rute menuju Pantai Sukamade bisa ditempuh dari arah Banyuwangi kota di timur (rute dari Situbondo) atau dari Jember di sebelah barat.Dari Banyuwangi kota/Situbondo :

BANYUWANGI KOTA – JAJAG – PESANGGARAN – SARONGAN – RAJEGWESI – SUKAMADE

Dari Terminal Karangente naik bis jurusan Jember/Surabaya dan turun di Terminal Jajag.

Dari Jember atau Surabaya :

JEMBER/SURABAYA – JAJAG – PESANGGARAN – SARONGAN – RAJEGWESI – SUKAMADE

– Jika naik bis turun di Terminal Jajag.
– Jika naik kereta api turun di Stasiun Kalibaru, selanjutnya ganti naik bis jurusan ke Banyuwangi dan turun di Terminal Jajag yang berjarak sekitar 25 KM.

Kota Kecamatan Jajag menjadi titik transit,karena baik rute dari timur (Banyuwangi kota) maupun barat (Jember) akan bertemu di Jajag yang merupakan jalan utama menuju Sukamade (Taman Nasional Meru Betiri).

Dari Terminal Jajag perjalanan dilanjutkan menuju Pesanggaran/Sanggar. Bis Jajag-Sanggar hanya ada dari pukul 7 pagi sampai 4 sore. Dari terminal Sanggar ke Sarongan/Rajegwesi tersedia angkot dengan tarif kurang lebih IDR 10.000 (kadang tergantung jumlah penumpang). Biasanya beberapa angkot hanya berhenti sampai pasar Sarongan, sebelum Rajegwesi. Pastikan tawar-menawar dengan supir sebelum berangkat dari Sanggar.

Rajegwesi sendiri adalah sebuah desa yang ada di Taman Nasional Meru Betiri, sekaligus menjadi pintu gerbang jika ingin memasuki Taman Nasional Meru Betiri.

Jika tidak tersedia angkot yang menuju Rajegwesi, bisa menggunakan jasa ojek motor dari pasar Sarongan menuju Rajegwesi atau Sukamade. Atau jika pagi hari biasanya terdapat truk yang langsung mengangkut sembako dari pasar Sarongan menuju Sukamade.

Resiko bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan umum, mau tidak mau harus berpindah-pindah kendaraan. Sedangkan jika Anda menggunakan mobil pribadi atau menyewa mobil, tinggal mengikuti rute yang telah disebut dan menikmati perjalanan.Sampai di Sarongan perjalanan relatif nyaman-nyaman saja dengan medan jalan yang sudah beraspal. Namun setelah Rajegwesi, medannya total offroad.

Sepanjang perjalanan antara Rajegwesi-Sukamade, Anda akan merasakan pengalaman seru yang bakal tak terlupakan. Jalanan yang berkelok, menanjak bebukitan, batuan terjal dan tanah berlumpur yang sengaja dibiarkan alami.Untuk mencapai Pantai Sukamade mau tidak mau kendaraan harus melewati sungai dengan kedalaman 40 cm bahkan kadang bisa mencapai 1 meter. Tidak hanya satu sungai, tapi ada lima anak sungai yang harus dilalui. Tiga diantaranya merupakan sungai besar, dimana pada musim hujan airnya bisa setinggi mobil jeep. Tentu saja ini akan menjadi petulangan yang sangat menantang.

Jika menggunakan motor dapat menyeberang sungai menggunakan gethek.

Setelah mencapai perjalanan sejauh 10 KM sejak dari Rajegwesi, Anda akan mencapai Simpang Sumbersuko. Jika Anda menggunakan sepeda motor, maka sebelum bertemu dengan jembatan roboh ikuti jalur ke kiri jalan sampai mencapai di bibir sungai. Selanjutnya dengan membayar Rp 5.000,- per orang untuk naik rakit/gethek menyeberangi sungai ke desa seberang.

Ketika memasuki pos desa Sukamade, pengunjung diminta melapor dengan mengisi buku tamu, begitu juga ketika tiba di pos pantai Sukamade. Jarak antara pos desa dengan pos pantai 5 km.

Video perjalanan menuju Pantai Sukamade

 

Perjalanan dari Rajegwesi menuju Pantai Sukamade memang penuh tantangan seperti tergambarkan dalam video di atas. Namun hasil yang diperoleh sepadan dengan nilai pengalaman yang diperoleh.

Sunset di Pantai Sukamade


TIPS KE PANTAI SUKAMADE

Perjalanan menuju ke Pantai Sukamade melewati di medan yang berat dan memakan waktu cukup lama,tidak tersedia listrik secara permanen dan tidak ada sinyal seluler di sana, sehingga bagi Anda yang akan berkunjung ke Pantai Sukamade barangkali perlu memperhatikan beberapa hal berikut :
– Gunakan kendaraan double gardan dan supir yang berpengalaman di medan berbatu.
– Pastikan Anda tidak memiliki janji menelepon atau menerima telepon selama disana.
– Sebaiknya membawa air minum mineral sendiri dari rumah.
– Selain itu membawa bekal makanan yang cukup.
– Membawa peralatan standar : korek api, senter, lilin atau alat penerang lainnya.
– Jangan lupa membawa jas hujan jika datang di musim hujan.
– Di pantai banyak nyamuk, jadi jangan lupa bawa lotion anti nyamuk.

Pantai Sukamade Banyuwangi


Sebanyak 928 penyu bertelur di Pantai Sukamade Banyuwangi pada 2023 - ANTARA Baca Selengkapnya

Cek! Harga Tiket Masuk Pantai Sukamade di Banyuwangi: Wisatawan Disuguhi Penyu Bertelur hingga Pelepasan - tugujatim.id Baca Selengkapnya

4 Wisata di Taman Nasional Meru Betiri, Ada Tempat Penyu Bertelur - Kompas.com Baca Selengkapnya

3 Pantai di Banyuwangi ini Menjadi Surga Bagi Penyu: Salah Satunya di Alas Purwo - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

9 Pantai di Banyuwangi yang Paling Eksotis - Auto2000 Baca Selengkapnya

Tawarkan Pengalaman Berbeda, Berikut 5 Rekomendasi Pantai di Wilayah Banyuwangi Selatan - Bwi24jam Baca Selengkapnya

Destinasi Wisata di Banyuwangi ini Sangat Menarik Untuk Dikunjungi - zonamerdekacom Baca Selengkapnya

7 Wisata Pantai Tercantik di Jawa Timur, Salah Satunya Bisa Saksikan Aktivitas Penyu - SINDOnews Lifestyle Baca Selengkapnya

Harga Tiket Masuk dan Cara Melihat Penyu di Pantai Sukamade Banyuwangi Halaman all - Kompas.com - Kompas.com Baca Selengkapnya

Wisata Hidden Gem Segara Anakan, Surga Aktivitas Laut di Perairan Cantik Tengah-tengah Kekayaan Alam Banyuwangi - Selingkar Wilis - Selingkar Wilis Baca Selengkapnya

Saat Tukik-tukik Lucu Dilepas di Pantai Sukamade Banyuwangi - detikTravel Baca Selengkapnya

Cocok untuk Healing, Ini 10 Tempat Wisata di Banyuwangi yang Wajib Dikunjungi - Kontan Baca Selengkapnya

Menikmati Keindahan Alam Kabupaten Banyuwangi: 15 Destinasi Wisata Terbaru, Nomor 3 Kamu Bisa Berenang Bersama Ikan Hiu - Timenews - Timenews Baca Selengkapnya

Tak Sah Jika di Banyuangi Tidak Ke Sini, Pesona Keindahan Teluk Hijau - Radar Madura - Radar Madura Baca Selengkapnya

5 Rekomendasi Pantai di Banyuwangi yang Cantik Bikin Wisatawan Terhipnotis: Cocok Masuk Waiting List Weekend - tugujatim.id Baca Selengkapnya

Banyuwangi


Di pesisir Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang merupakan penghubung utama antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Masyarakat penghuni daerah ini adalah suku Jawa Osing atau Wong Blambangan.

Sejarah

Artikel utama: Sejarah Banyuwangi

Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Kangjeng Suhunan Prabu Tawang Alun.

Sejak tahun 1743, secara administratif VOC telah menganggap Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar Perjanjian Ponorogo yang diantara isinya adalah penyerahan kekuasaan Kartasura di Jawa bagian timur (termasuk Blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal Kartasura tidak pernah mewarisi Blambangan dari Kesultanan Mataram karena Kangjeng Suhunan Prabu Tawangalun telah menyatakan kemerdekaan Balambangan pada 23 Pebruari 1653 dan Mataram tidak pernah menundukkannya lagi hingga Mataram hancur akibat Perang Raden Trunajaya.

Pasca Perjanjian Ponorogo tahun 1743, VOC tidak pernah benar-benar menancapkan kekuasaannya sampai pada akhir abad ke-17, ketika Perusahaan Hindia Timur Britania menjalin hubungan dagang dengan Blambangan..

VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaannya atas Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (1767–1772) dan bahkan baru berakhir tahun 1777.

Dalam rangkaian peperangan itu terdapat beberapa pertempuran dahsyat yang salah satunya disebut Perang Puputan Bayu yang merupakan perlawanan rakyat Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu VOC.

Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 Desember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Sayangnya, perang ini tidak dikenal luas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kompeni Belanda.

Akhir dari perang ini, VOC-lah yang memperoleh kemenangan dengan diangkatnya R. Wiroguno I (Mas Alit) sebagai Bupati Banyuwangi pertama dan tanda runtuhnya Kerajaan Blambangan. Tetapi perlawanan sporadis rakyat Blambangan masih terjadi meskipun VOC sudah menguasai Blambangan. Itu bisa terlihat dengan tidak adanya pabrik gula yang dibangun oleh VOC saat itu, berbeda dengan kabupaten lainnya di Jawa Timur.

Legenda

Tokoh legenda yang terkenal adalah Putri Sri Tanjung yang di bunuh oleh suaminya di pinggir sungai karena dicurigai oleh suaminya telah selingkuh ketika dia ditinggal menuju medan perang. Dengan sumpah janjinya kepada sang suami sang putri berkata: "Jika darah yang mengalir di sungai ini amis memang Sri Tanjung selingkuh, tetapi jika berbau harum (wangi) maka Sri Tanjung tidak selingkuh". Dan ketika darah yang mengalir ke dalam sungai tersebut berbau wangi, maka menyesallah sang suami yang dikenal sebagai Sidopekso ini.

Harumnya air itulah yang kemudian diyakini sebagai asal mula nama daerah itu sebagai Banyuwangi.

Tokoh sejarah lain ialah Minak Djinggo, seorang Adipati dari Blambangan yang memberontak terhadap Kerajaan Majapahit dan dapat ditumpas oleh utusan Majapahit, yaitu Damarwulan. Namun sesungguhnya nama Minak Djinggo tidak ada dalam daftar raja Balambangan menurut Babad Sembar sehingga dapat dipastikan bahwa kisah ini hanya legenda saja.

Julukan

Patung selamat datang di Banyuwangi pada kaki gunung Gumitir

Banyuwangi menyandang beberapa julukan, di antaranya:

  • The Sunrise of Java

Julukan The Sunrise of Java disandang Kabupaten Banyuwangi tidak lain karena daerah yang pertama terkena sinar matahari terbit di Pulau Jawa.

  • Bumi Blambangan

Sejarah berdirinya Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Blambangan, karena Blambangan merupakan cikal bakal dari Banyuwangi. Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Blambangan adalah kerajaan yang paling gigih bertahan terhadap serangan VOC serta Blambanganlah kerajaan yang paling akhir ditaklukkan penjajah Belanda di Pulau Jawa.

  • Osing

Salah satu keunikan Banyuwangi adalah penduduk yang multikultur, dibentuk oleh 3 elemen masyarakat yaitu Jawa Mataraman, Madura, dan Banyuwangen (kini lebih dikenal dengan Osing).

Suku Osing adalah penduduk asli Kabupaten Banyuwangi. Mereka mempunyai adat-istiadat, budaya maupun bahasa yang sedikit berbeda dari masyarakat Jawa umumnya.

  • Santet

Julukan Banyuwangi bumi santet terkenal sejak peristiwa memilukan ketika 100 orang lebih dibunuh secara misterius karena dituduh memiliki ilmu santet. Peristiwa ini dikenal luas oleh masyarakat sebagai “Tragedi Santet” Tahun 1998.

  • Gandrung

Banyuwangi terkenal dengan Tari Gandrung yang menjadi maskot kabupaten ini.

  • 'Banteng

Banyuwangi dijuluki bumi banteng dikarenakan di Banyuwangi tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo terdapat banyak banteng jawa.

  • Pisang

Sejak dahulu Banyuwangi sangat dikenal sebagai penghasil pisang terbesar, bahkan tiap dipekarangan rumah warga selalu terdapat pohon pisang.

  • Festival

Berawal dari sukses penyelenggaraan kegiatan budaya Banyuwangi Ethno Carnival pertama pada tahun 2011 lalu, maka pada tahun-tahun berikutnya seakan tak terbendung lagi semangat dan kegairahan masyarakat Banyuwangi untuk mengangkat potensi dan budaya daerah melalui rangkaian kegiatan yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi Festival.

Maka sejak 2012 acara Banyuwangi Ethno Carnival ditahbiskan menjadi agenda tahunan berbarengan dengan kegiatan lain, baik yang bersifat seni, budaya, fesyen, dan wisata olahraga.

Geografi

GentengBangorejoKalibaruGlenmoreSronoSonggonLicinBanyuwangiSempuRogojampiGiriKalipuroGambiranTegalsariPesanggaranPurwoharjoWongsorejoGlagahKabatSingojuruhBlimbingsariMuncarCluringTegaldlimoSiliragung Peta administrasi kabupaten Banyuwangi

Secara geografis Kabupaten Banyuwangi terletak pada koordinat 7º45’15”–8º43’2” LS dan 113º38’10” BT.

Wilayah Banyuwangi cukup beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan. Kawasan perbatasan dengan Bondowoso, terdapat rangkaian Dataran Tinggi Ijen dengan puncaknya Gunung Raung (3.344 m) dan Gunung Merapi (2.799 m). Di balik Gunung Merapi terdapat Gunung Ijen yang terkenal dengan kawahnya. Gunung Raung dan Gunung Ijen adalah gunung api aktif.

Bagian selatan terdapat perkebunan, peninggalan sejak zaman Hindia Belanda. Di perbatasan dengan Kabupaten Jember bagian selatan, merupakan kawasan konservasi yang kini dilindungi dalam sebuah cagar alam, yakni Taman Nasional Meru Betiri. Pantai Sukamade merupakan kawasan penangkaran penyu. Di Semenanjung Blambangan juga terdapat cagar alam, yaitu Taman Nasional Alas Purwo.

Pantai timur Banyuwangi yang menghadap ke Selat Bali merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Tepatnya di Kecamatan Muncar yaitu pelabuhan perikanan Muncar.

Batas wilayah

Wilayah Kabupaten Banyuwangi berbatasan langsung dengan beberapa wilayah lain, yakni:

Kabupaten Banyuwangi terletak di ketinggian 0–2.500 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan tingkat kelerengan, wilayah Kabupaten Banyuwangi terbagi dalam empat kategori tingkat kelerangan, yaitu tingkat kelerengan 0–2%, tingkat kelerengan 2–15%, tingkat kelerengan 15–40%, dan tingkat kelerengan >40%. Berikut adalah detailnya:

  • Tingkat kelerengan 0–2% dapat dijumpai di seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi
  • Tingkat kelerengan 2–15% dapat dijumpai di hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Muncang dan Kecamatan Cluring
  • Tingkat kelerengan 15–40% dapat dijumpai di sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Muncal, Cluring, Gambiran, Tegalsari, Genteng, Srono, Rogojampi, Singojuruh, Giri, dan Banyuwangi.
  • Tingkat kelerengan >40% dapat dijumpai di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Purwoharjo, Muncal, Cluring, Gambiran, Tegalsari, Genteng, Srono, Rogojampi, Kabat, Singojuruh, Giri, Sempu, dan Banyuwangi.

Geohidrologi

Beberapa sungai besar maupun kecil yang melintas Kabupaten Banyuwangi mulai dari bagian utara ke selatan sehingga merupakan daerah yang cocok pertanian lahan basah, yaitu meliputi :

  • Sungai Bajulmati (20 km), melewati Kecamatan Wongsorejo.
  • Sungai Selogiri (6,173 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Ketapang (10,26 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Sukowidi (15,826 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Bendo (15,826 km), melewati Kecamatan Glagah.
  • Sungai Sobo (13,818 km), melewati Kecamatan Banyuwangi dan Glagah.
  • Sungai Pakis (7,043 km), melewati Kecamatan Banyuwangi.
  • Sungai Tambong (24,347 km), melewati Kecamatan Glagah dan Kabat.
  • Sungai Binau (21,279 km), melewati Kecamatan Rogojampi.
  • Sungai Bomo (7,417 km), melewati Kecamatan Rogojampi, Srono, dan Muncar.
  • Sungai Setail (73,35 km), melewati Kecamatan Sempu, Genteng, Tegalsari, Gambiran, Purwoharjo dan Muncar.
  • Sungai Porolinggo (30,70 km)melewati Kecamatan Genteng.
  • Sungai Kalibarumanis (18 km), melewati Kecamatan Kalibaru dan Glenmore.
  • Sungai Wagud (14,60 km), melewati Kecamatan Genteng, Cluring dan Muncar.
  • Sungai Karangtambak (25 km), melewati Kecamatan Pesanggaran.
  • Sungai Bango (18 km), melewati Kecamatan Bangorejo dan Pesanggaran.
  • Sungai Baru (80,70 km), melewati Kecamatan Kalibaru, Glenmore, Tegalsari, Siliragung dan Pesanggaran.

Iklim

Suhu udara di wilayah datara rendah berkisar antara 20°–34°C, sedangkan wilayah dataran tinggi bersuhu udara kurang dari 19°C. Tingkat kelembapan di Kabupaten Banyuwangi bervariasi antara 73–84%. Berdasarkan klasifikasi iklim Koppen, hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi masuk dalam kategori iklim tropis basah dan kering (Aw & Am) dengan dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau di wilayah Kabupaten Banyuwangi berlangsung pada periode MeiOktober dengan puncak musim kemarau adalah bulan Agustus. Sementara itu, musim hujan di wilayah Banyuwangi berlangsung pada periode NovemberApril dengan bulan terbasah adalah bulan Januari dan Februari yang curah hujan bulanannya lebih dari 280 mm per bulan. Curah hujan tahunan di wilayah Banyuwangi berkisar antara 1.000–2.000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan bervariasi antara 80–150 hari hujan per tahun.

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dalam empat periode terakhir.

Kecamatan

Artikel utama: Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi

Kabupaten Banyuwangi terdiri dari 25 kecamatan, 28 kelurahan, dan 189 desa (dari total 666 kecamatan, 777 kelurahan, dan 7.724 desa di Jawa Timur). Pada tahun 2021, luas wilayah Kabupaten Banyuwangi adalah 3.593,06 km².

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi, adalah sebagai berikut:

Transportasi

Ibu kota Kabupaten Banyuwangi berjarak 290 km sebelah timur Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Banyuwangi merupakan ujung paling timur jalur pantura serta titik paling timur jalur kereta api pulau Jawa yaitu Stasiun Ketapang.

Pelabuhan Ketapang terletak di Kota Banyuwangi bagian utara, menghubungkan Jawa dan Bali dengan kapal Ferry, LCM, roro dan tongkang.

Angkutan Antarkota

Dari Surabaya, Kabupaten Banyuwangi dapat dicapai dari dua jalur jalan darat, jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara merupakan bagian dari jalur pantura yang membentang dari Anyer hingga pelabuhan Panarukan dan melewati Kabupaten Situbondo. Sedangkan jalur selatan merupakan pecahan dari jalur pantura dari Kabupaten Probolinggo melewati Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember. Di kedua jalur tersebut tersedia bus ekonomi maupun non-ekonomi.

Angkutan Kereta Api

Terdapat pula moda transportasi darat lainnya, yaitu jalur kereta api lintas timur Jawa dan berakhir di Banyuwangi. Stasiun Banyuwangi Kota merupakan stasiun terdekat dengan Kota Banyuwangi. Stasiun Ketapang terletak di utara Kota Banyuwangi tidak jauh dari Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Stasiun kereta api yang cukup besar di Banyuwangi adalah Stasiun Ketapang, Banyuwangi Kota, Rogojampi, Stasiun Kalisetail, (Kecamatan Sempu), dan Kalibaru. Selain itu ada juga stasiun yang lebih kecil seperti Singojuruh, Temuguruh, Glenmore, Sumberwadung dan Halte Krikilan.

Angkutan Daerah

Untuk transportasi wilayah perkotaan terdapat moda angkutan mikrolet, taksi Bosowa, Ramayana, Using Transport serta van atau yang oleh masyarakat setempat disebut 'colt' yang melayani transportasi antar kecamatan dan minibus yang melayani trayek Banyuwangi dengan kota-kota kabupaten di sekitarnya.

Angkutan Udara

Bandar Udara Internasional Banyuwangi di kecamatan Blimbingsari dalam pembangunannya sempat tersendat akibat kasus pembebasan lahan, dan memakan korban 2 bupati yang menjabat dalam masa pembangunannya yaitu Bupati Samsul Hadi (2000–2005) dan Bupati Ratna Ani Lestari (2005–2010). Dan pada tanggal 28 Desember 2010, Bandar Udara Blimbingsari telah dibuka untuk penerbangan komersial Banyuwangi (BWX) – Jakarta (CGK) – Banyuwangi (BWX) dan Banyuwangi (BWX) – Surabaya (SUB) – Banyuwangi (BWX).

Angkutan Laut dan Barang

Selain itu terdapat Pelabuhan Tanjung Wangi di Ketapang, Kecamatan Kalipuro selain sebagai pelabuhan bongkar muat barang dan peti kemas, juga melayani pelayaran ke kepulauan di bagian timur Madura, seperti Kep. Sapeken, Kep. Kangean, dan Kep. Sapudi.

Moda transportasi alternatif yang juga sudah diluncurkan berupa Kapal Cepat Marina Srikandi yang memiliki kapasitas hingga 145 orang penumpang. Pengoperasian kapal ini didorong oleh pemikiran bahwa pertumbuhan pariwisata Banyuwangi juga ditopang oleh pertumbuhan pariwisata di Bali dan Lombok, sehingga perjalanan yang menghubungkan ketiganya harus terus ditingkatkan.

Penduduk

Penduduk Kabupaten Banyuwangi terdiri dari beragam suku.

Kabupaten Banyuwangi memiliki banyak objek wisata seperti:

Wisata Alam

Wisata Sejarah

Wisata Desa

  • Desa Kemiren, desa dengan adat istiadat dan budaya masyarakat suku Osing yang masih terjaga.
  • Desa Tamansari, desa di kaki Gunung Ijen yang menawarkan keindahan alam khas dataran tinggi.
  • Desa Gintangan, desa dengan produk unggulan berupa kerajinan anyaman bambu kualitas ekspor yang banyak diburu wisatawan.
  • Desa Bangsring, desa yang menawarkan keindahan bawah laut Selat Bali dan eksotika Pulau Tabuhan.
  • Desa Patoman, desa yang dijuluki sebagai "Miniatur Pulau Bali" karena menawarkan suasana perdesaan ala Pulau Dewata.
  • Kelurahan Gombengsari, kelurahan dengan perkebunan kopi yang luas dan sajian olahan kopi lokal yang khas.
  • Kelurahan Temenggungan, kampung di pusat Kota Banyuwangi yang menawarkan suasana perkampungan klasik tempo dulu dengan balutan seni dan budaya lokal yang senantiasa dilestarikan.

Kebudayaan

Petirtan di Pura Beji Ananthaboga dan Pelinggih Ganesha

Kabupaten Banyuwangi merupakan wilayah lintas pulau antara Pulau Jawa dan Pulau Bali, sehingga menjadi salah satu tempat pertemuan berbagai jenis kebudayaan. Budaya masyarakat Banyuwangi sangat beragam dan meliputi budaya lokal dari suku Jawa, suku Bali, suku Madura, dan suku Melayu. Terdapat pula budaya asing yang meliputi budaya Eropa.

Di dusun Selorejo, kecamatan Glenmore, di lereng Gunung Raung, terdapat Pura Beji Ananthaboga, sebuah pura dan petirtaan yang terletakserta menempati wilayah Perhutani KPH Banyuwangi Barat.

Batik

Batik yang disebut-sebut sebagai jati diri Bangsa Indonesia tak bisa diragukan. Keberadaannya memang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa. Motif-motifnya pun terinspirasi tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan banyuwangi, memiliki beberapa motif yang terkenal yaitu

  • Gajah Oling
  • Paras Gempal
  • Sekar Jagad
  • Kangkung Setingkes
  • Mata Ayam

Jenis Batik tadi merupakan sebagian dari Motif Batik khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

Lagu Daerah

  • Umbul-Umbul Blambangan
  • Ugo-Ugo
  • Banyuwangi Ijo Royo-Royo
  • Seblang Lukinto
  • Cengkir Gadhing
  • Ulan Andung Andung

Kesenian tradisional

Kesenian tradisional khas Banyuwangi antara lain:

Jenis kesenian tadi merupakan sebagian dari kesenian khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

Musik khas Banyuwangi

Gamelan Banyuwangi khususnya yang dipakai dalam tari Gandrung memiliki kekhasan dengan adanya kedua biola, yang salah satunya dijadikan sebagai pantus atau pemimpin lagu. Menurut sejarahnya, pada sekitar abad ke-19, seorang Eropa menyaksikan pertunjukan Seblang (atau Gandrung) yang diiringi dengan suling. Kemudian orang tersebut mencoba menyelaraskannya dengan biola yang dia bawa waktu itu, pada saat dia mainkan lagu-lagu Seblang tadi dengan biola, orang-orang sekitar terpesona dengan irama menyayat yang dihasilkan biola tersebut. Sejak itu, biola mulai menggeser suling karena dapat menghasilkan nada-nada tinggi yang tidak mungkin dikeluarkan oleh suling.

Selain itu, gamelan ini juga menggunakan "kluncing" (triangle), yakni alat musik berbentuk segitiga yang dibuat dari kawat besi tebal, dan dibunyikan dengan alat pemukul dari bahan yang sama, dan angklung, atau rebana.