Banyuwangi Club

Informasi, Wisata, Edukasi, Sejarah, Teknologi Banyuwangi

Klik Jasa Pembuatan / Service Website - Klik Jasa CCTV - Klik Jasa Pembuatan / Service Repeater

PENDOPO SABHA SWAGATA BLAMBANGAN BANYUWANGI

Pendopo Banyuwangi

Wisata Banyuwangi – Biasanya pendopo di suatu kabupaten identik dengan kesan sebuah bangunan yang feodal, bersekat tembok tinggi, serba tertutup dan steril dari masyarakat sekitarnya. Tapi kesan ini sirna begitu menginjak kaki ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan di Kabupaten Banyuwangi.Bangunan yang juga merupakan tempat tinggal Bupati Banyuwangi ini, suasananya asri serta memiliki bangunan yang unik nan cantik didalamnya. Di dalamnya terdapat green house mirip bunker serta spot-spot cantik untuk berfoto ria. Pendapa tersebut terasa sangat homey dengan hamparan warna hijau yang sejuk, membikin orang serasa di rumah. Dan yang menarik, pendopo tersebut juga terbuka bagi wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. Di dekat pintu gerbang pendopo terdapat pos satpam, pengunjung bisa meminta ijin untuk masuk dan berfoto.

Wajah pendopo sebelum dan sesudah renovasi.
< ?xml:namespace prefix = o />

Tadinya tampilan Pendopo Sabha Swagata tidak berbeda dengan pendopo di daerah lain. Memiliki pagar tembok yang tinggi melingkari pendopo, membentuk sebuah batas nyata antara penguasa dan rakyat. Selain itu terdapat bangunan yang kotor dan kumah serta berbau pesing di salah satu bagiannya.
Ketika Abdullah Azwar Anas menjadi Bupati Banyuwangi pada 2010, mulailah dilakukan pembenahan. Satu langkah awal Bupati Anas adalah membongkar pagar tembok pendopo dan menggantinya dengan gundukan tanah dan bunga pisang-pisangan. Atap pendopo juga mengalami perubahan, dibarengi penataan taman di sekitar pendopo. Secara filosofis, kata Anas, pembongkaran itu menghapus jarak antara birokrat dan masyarakat. Ia berkeinginan agar pendopo bukan lagi menjadi tempat angker bagi masyarakat untuk berkunjung. 
Untuk mewujudkan impiannya membangun pendopo Sabha Swagata dengan konsep yang ramah lingkungan, Anas tak segan melibatkan sejumlah arsitek papan atas, diantaranya Adi Purnomo,  Andra Matin, Yori Antar, Budi Pradono, serta Ahmad Djuhara. Hasilnya pun mengubah wajah pendopo Banyuwangi menjadi asri dan tampak menarik.
Musala 3 dimendasi yang unik di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi.
Musala unik yang mengadaptasi gerakan Salat.

Di halaman depan kompleks Pendopo yang dibangun pada 1771 itu terdapat musala berbentuk tak lazim. Dengan luas 8 x 9 meter, ruang salat itu terdiri atas tumpukan kayu ulin dengan rangka baja. Tingginya 8 meter, tanpa kubah, kaligrafi, bahkan pintu. Musala yang baru rampung dibangun itu dirancang oleh Andra Matin, salah satu arsitek kenamaan Indonesia. 

Lantai musala terbuat dari kayu.

Lantai musala terbuat dari kayu.Dilihat dari luar, bangunan ini tampak asimetris namun berdesain minimalis modern. Ini adalah musala yang dibangun untuk menggantikan musala lama, Babur Rahmah yang terletak di bagian belakang pendopo.

Bentuk asimetris dari musala tersebut rupanya menggambarkan bentuk bangun ruang 3 dimensi yang mengadaptasi gerakan sujud pada salat. Bagian lantainya juga terbuat dari kayu, dengan tikar dan lemari untuk mukena dan Al Quran.

Musala unik di pendopo Banyuwangi.
Musala dikelilingi parit yang berisi ikan koi.

Di sekeliling musala terdapat kolam kecil penuh ikan koi. Toilet dan tempat untuk berwudhu ada di samping musala. Keduanya bersih dan berdesain kontemporer, menggunakan bebatuan alam sebagai tembok dan lantainya.


Jalan setapak menuju musala juga didesain sedemikian rupa. Saat malam, deretan lampu di jalan tersebut akan menyala sehingga pemandangan pun makin apik.

Bagian belakang pendapa menjelma menjadi sebuah lanskap hijau yang unik. Rerumputan menghampar. Pohon-pohon juga berdiri. Ada mangga, kelengkeng, sawo kecik, belimbing wuluh, palem, asam jawa, hingga kopi –salah satu komoditas kebanggaan Banyuwangi. Ada pula pohon kepel yang langka yang merupakan hadiah dari Keraton Jogjakarta pada awal abad ke 19.

Pohon besar disamping timur
Pohon-pohon itu memang dipertahankan. Sebab, dalam merenovasi kompleks pendapa, Anas mewanti-wanti agar tidak ada sebatang pohon pun yang ditebang. Tidak ada setangkai pun yang dipindah dari tempatnya. “Pembangunan yang harus menyesuaikan alam. Membangun harus bisa merangkul alam,”tutur Anas.


GUEST HOUSE BERBUKIT ALA BUNKER 

Persis di belakang musala terdapat Green House, alias guesthouse beratap rumput yang tampak seperti bunker bawah tanah. Green House ini punya 6 kamar utama, ruang makan, dan dapur bersih. Bangunan keren ini dirancang oleh arsitek kenamaan lainnya dari Indonesia, yakni Adi Purnomo

Ada dua bangunan ramah lingkungan (green house) di dalam pendopo tersebut, yang bila diamati dari luar akan terlihat seperti sebuah taman. Yang pertama green house yang berada di barat dari bangunan utama Pendopo. Green house ini sebenarnya merupakan sebuah guest house yang digunakan tempat menginap para tamu penting. Dan bangunan green house kedua berada di timur bangunan utama pendopo. Bangunan yang ini berfungsi sebagai tempat rapat, kantor atau sekretariat kegiatan.

guest house di pendopo Banyuwangi berbentuk bunker.
Guest house berbentuk bunker.
Guest house yang terdapat di dalam pendopo, sebelumnya kumah dan tidak menarik, disulap menjadi tempat yang indah. Guest house yang merupakan bangunan lama yang terletak memanjang di sisi barat belakang pendapa itu, bentuknya kamar-kamar berjajar. Meskipun namanya guest house, kamar-kamar itu tak difungsikan sebagai tempat menerima tamu. Fungsinya tidak jelas. Ada bagian yang jadi gudang. Pernah juga jadi mes Persewangi, klub sepak bola milik pemkab. Bahkan ada bagian guest house yang menjadi kandang ayam!

Guest house sebelum renovasi (kiri) dan sesudah renovasi (kanan)

Bukit telebubbies.
Semua itu menjadi cerita lama. Rumah tamu yang kumuh tersebut sudah dikubur timbunan tanah. Ia kini menjadi bukit kecil setinggi 5 meter yang ditanami rumput nan hijau. Sekilas bukit hijau ini tampak seperti bunker bawah tanah, karena di dalamnya terdapat ruang-ruangan yang  diperuntukan bagi tempat menginap para tamu penting bupati. Jadilah guest house yang beratap rumput ini tampak seperti bunker bawah tanah. Bangunannya seolah mampu berkamuflase menjadi taman rumput nan hijau, lengkap dengan pancuran air otomatisnya. Maka  Guest house di pendopo pun berubah menjadi green house.

Mengimbangi perubahan wajah guest house tersebut, gedung PKK dan Dharma Wanita di bagian timur pendapa pun diubah menjadi ”bukit Teletubbies”. Karena itu, area terbuka hijau di halaman belakang pendopo pun kian luas. Ada dua bukit panjang yang mengapit halaman belakang tersebut. Semuanya berhias rerumputan yang hijau.

Suasana bunker di siang hari.
Suasana bunker di malam hari.
Di lereng-lereng bukit kecil dengan kemiringan 60 derajat itu terdapat cerobong batu dengan tutup kaca. Mirip sumur pendek berbentuk kotak. Cerobong itulah yang menjadi lubang cahaya serta lubang hawa bagi kamar-kamar guest house di perut bukit tersebut. Mirip Teletubbies, karakter gendut-imut dalam film anak-anak, yang hidup di bawah bukit. Mirip pula dengan para Hobbit dalam film The Lord of the Rings yang punya rumah-rumah imut dengan pintu melengkung di bawah gundukan tanah berumput. Bedanya, bunker guest house  itu bisa dimasuki lewat lorong cantik dengan dinding berlapis batu yang menembus perut bukit.
Perut bukit tersebut menyimpan tujuh kamar utama, dengan perabot cukup mewah bak hotel berbintang. Di bagian luar kamar terdapat taman mini untuk bersantai. Lalu ada lagi enam kamar yang lebih kecil, biasanya untuk ajudan atau driver para pejabat yang menginap. Di antara dinding lorongnya terpasang lukisan reproduksi bertema perjalanan sejarah Banyuwangi. Lalu di ujung utara  ada dapur besar dan ruang makan yang asri dan interior yang mewah, meja makanya pun di buat dari kayu yang di belah menjadi 2 dan di haluskan.
Meski berada di dalam timbunan tanah, kamar-kamar beserta lorongnya sama sekali tidak gelap atau pengap. Pencahayaan di dalam bangunan sangat terang disaat siang hari. Cahaya yang menerangi bukan dari lampu listrik. Melainkan dari cahaya matahari yang masuk melalui celah pemecah sinar matahari yang telah direkayasa sedemikian rupa. Dinding-dindingnya yang dominan putih membuat ruangan kian terang. Maka, tak perlu ada lampu menyala saat siang hari di bawah tanah tersebut.
Hebatnya, meskipun disorot matahari langsung dari atas dan tanpa AC, namun ruangan di bawah tanah ini udaranya tidak panas. Rasanya nyaman-nyaman aja.

Mengimbangi perubahan wajah guest house tersebut, gedung PKK dan Dharma Wanita di bagian timur pendapa pun diubah menjadi ”bukit Teletubbies”. Karena itu, area terbuka hijau di halaman belakang pendopo pun kian luas. Ada dua bukit panjang yang mengapit halaman belakang tersebut. Semuanya berhias rerumputan yang hijau. Maka tidak heran, Guest house Kabupaten Banyuwangi pernah diapresiasi Mark, majalah dunia dalam bidang arsitektur, edisi Juni-Juli 2013.
Ada 2 pintu masuk guesthouse, masing-masing terletak di bagian ujung bangunan. Begitu masuk, traveler akan dihadapkan pada lorong panjang penuh kerajinan khas Banyuwangi. Lorong tersebut disinari pencahayaan alami dari sunroof yang terpatri di atap rumput. Sepanjang lorong tersebut, berjejer kerajinan khas Banyuwangi yang didominasi oleh unsur kayu. Ada pajangan, furnitur sampai lukisan.
Total ada 7 kamar tamu di Green House ini. Masing-masing ditata apik dan penuh furnitur modern. Pencahayaannya masih berasal dari sunroof, sangat hemat listrik! 
Persis di depan tiap kamar, terdapat kamar khusus ajudan atau asisten. Kamarnya cukup kecil, namun bersih dan nyaman. Hal ini agar para ajudan bisa langsung mengecek dan menjaga tamu Bupati.
Ini adalah salah satu kamar utama di Green House. Dubes AS Robert O Blake pernah menginap di sini pada perayaan Thanksgiving 2014 di Banyuwangi. 
Tiap kamar di Green House punya beranda, masing-masing disekat tembok sehingga privasi terjaga. Beranda tersebut dilengkapi kursi dan meja yang adalah kerajinan asli Banyuwangi. 
Di ujung lorong terdapat area makan yang cukup luas. Ada 2 meja panjang besar yang menghadap langsung halaman penuh rumput hijau. Ruangan besar ini juga menggunakan pencahayaan alami.
Ini adalah dapur bersih yang terhubung langsung dengan area makan. Waktu Dubes AS, Robert O Blake menghabiskan liburan Thanksgiving, jamuan makan malam digelar di dua ruangan tersebut.
Pintu keluarnya terbuat dari batu-batu alam, dengan lampu di beberapa titik sehingga tampak dramatis saat malam.
Di tengah halaman belakang pendopo terdapat bangunan menyerupai gazebo yang sangat asri dan sejuk. Tempat ini biasa digunakan untuk bersantai atau mengadakan acara jamuan bagi para tamu Bupati.
Taman yang berada di bagian tengah komplek sangat cantik. Rumput hijau memenuhi segala penjuru, pohon-pohon menjulang tinggi.
Lampu-lampu bulat tersebut menyala saat malam.

Perayaan Thanksgiving 2014 yang pernah digelar Kedubes AS di halaman Pendopo Sabha Swagata.
Rumah Dinas Bupati Banyuwangi yang merupakan rumah peninggalan jaman Belanda yang sudah direnovasi. Tampak Asri dan nyaman.

Teras rumah utama Pendopo Banyuwangi. Inilah tempat tinggal Bupati Anas. Turis tidak boleh masuk ke dalamnya, namun bisa berfoto di bagian teras yang cantik.

Di sisi timur tepatnya di belakang bunker terdapat rumah adat Using, konon rumah ini di bangun supaya para tamu yang berkunjung ke sini tahu bahwa ini merupakan rumah adat Using.

Nah, kalau Anda datang ke ke Banyuwangi, jangan lewatkan untuk mampir ke rumah dinas bupati Banyuwangi tersebut. Anda tidak akan menyesal!

BLAMBANGAN


Sempat Lenyap, Tiket Kereta Api Blambangan Ekspres Sudah Tersedia, Akan Pakai Kelas Ekonomi New Generation Mulai 18 Juni 2024 - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

Kereta Api Blambangan Ekspress Ganti Sarana Ekonomi New Generation Mulai 18 Juni 2024 - Tribunnewswiki Baca Selengkapnya

Tiket KA Blambangan Ekspres Keberangkatan mulai 18 Juni 2024 Belum Bisa Dipesan, Ini Alasannya - Kompas.com - KOMPAS.com Baca Selengkapnya

Polsek Blambangan Umpu Datangi TKP Kebakaran Rumah di Sidoarjo - Tribratanews Lampung Baca Selengkapnya

Kebakaran di Dusun 3 Kampung Sidoarjo, Polsek Blambangan Umpu Sigap Tanggulangi Situasi - wartamu.id Baca Selengkapnya

Mulai Hari ini, Tiket KA Blambangan Ekspres Keberangkatan 18-30 Juni 2024 Sudah Bisa Dipesan - ngopibareng.id Baca Selengkapnya

TIket KA Blambangan Ekspres Bisa Dipesan Kembali setelah Dihentikan Beberapa Hari - Jatim Times - Jatim Times Baca Selengkapnya

Buleleng Siap Suguhkan Fragmen Tari Pasukan Goak Gebuk Blambangan - NusaBali Baca Selengkapnya

Pasar Blambangan Direvitalisasi, Ini Dampaknya untuk Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2024 - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

Banyuwangi Kolo Semono Sukses Tingkatkan Kunjungan ke Museum Blambangan - SUARA INDONESIA Baca Selengkapnya

Melihat Sejarah Blambangan dari Abad ke-13 di Omahseum Banyuwangi - Travel Tempo.co Baca Selengkapnya

100-An Orang Bersih-bersih Bendung Blambangan Peninggalan Belanda di Klaten - Soloraya Solopos.com Baca Selengkapnya

Ancam Korban Dengan Pistol, Begal Motor di Way Kanan Diringkus Polisi - Kupastuntas.co Baca Selengkapnya

Festival Banyuwangi Kolo Semono Ajak Pelajar Gali Sejarah Blambangan - SUARA INDONESIA Baca Selengkapnya

Tiket Kereta Api Blambangan Ekspres Banyuwangi - Semarang Belum Tersedia Mulai 18 Juni 2024, Cari Tahu Alternatif Perjalanannya di Sini - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

Banyuwangi


Di pesisir Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang merupakan penghubung utama antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Masyarakat penghuni daerah ini adalah suku Jawa Osing atau Wong Blambangan.

Sejarah

Artikel utama: Sejarah Banyuwangi

Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Kangjeng Suhunan Prabu Tawang Alun.

Sejak tahun 1743, secara administratif VOC telah menganggap Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar Perjanjian Ponorogo yang diantara isinya adalah penyerahan kekuasaan Kartasura di Jawa bagian timur (termasuk Blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal Kartasura tidak pernah mewarisi Blambangan dari Kesultanan Mataram karena Kangjeng Suhunan Prabu Tawangalun telah menyatakan kemerdekaan Balambangan pada 23 Pebruari 1653 dan Mataram tidak pernah menundukkannya lagi hingga Mataram hancur akibat Perang Raden Trunajaya.

Pasca Perjanjian Ponorogo tahun 1743, VOC tidak pernah benar-benar menancapkan kekuasaannya sampai pada akhir abad ke-17, ketika Perusahaan Hindia Timur Britania menjalin hubungan dagang dengan Blambangan..

VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaannya atas Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (1767–1772) dan bahkan baru berakhir tahun 1777.

Dalam rangkaian peperangan itu terdapat beberapa pertempuran dahsyat yang salah satunya disebut Perang Puputan Bayu yang merupakan perlawanan rakyat Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu VOC.

Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 Desember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Sayangnya, perang ini tidak dikenal luas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kompeni Belanda.

Akhir dari perang ini, VOC-lah yang memperoleh kemenangan dengan diangkatnya R. Wiroguno I (Mas Alit) sebagai Bupati Banyuwangi pertama dan tanda runtuhnya Kerajaan Blambangan. Tetapi perlawanan sporadis rakyat Blambangan masih terjadi meskipun VOC sudah menguasai Blambangan. Itu bisa terlihat dengan tidak adanya pabrik gula yang dibangun oleh VOC saat itu, berbeda dengan kabupaten lainnya di Jawa Timur.

Legenda

Tokoh legenda yang terkenal adalah Putri Sri Tanjung yang di bunuh oleh suaminya di pinggir sungai karena dicurigai oleh suaminya telah selingkuh ketika dia ditinggal menuju medan perang. Dengan sumpah janjinya kepada sang suami sang putri berkata: "Jika darah yang mengalir di sungai ini amis memang Sri Tanjung selingkuh, tetapi jika berbau harum (wangi) maka Sri Tanjung tidak selingkuh". Dan ketika darah yang mengalir ke dalam sungai tersebut berbau wangi, maka menyesallah sang suami yang dikenal sebagai Sidopekso ini.

Harumnya air itulah yang kemudian diyakini sebagai asal mula nama daerah itu sebagai Banyuwangi.

Tokoh sejarah lain ialah Minak Djinggo, seorang Adipati dari Blambangan yang memberontak terhadap Kerajaan Majapahit dan dapat ditumpas oleh utusan Majapahit, yaitu Damarwulan. Namun sesungguhnya nama Minak Djinggo tidak ada dalam daftar raja Balambangan menurut Babad Sembar sehingga dapat dipastikan bahwa kisah ini hanya legenda saja.

Julukan

Patung selamat datang di Banyuwangi pada kaki gunung Gumitir

Banyuwangi menyandang beberapa julukan, di antaranya:

  • The Sunrise of Java

Julukan The Sunrise of Java disandang Kabupaten Banyuwangi tidak lain karena daerah yang pertama terkena sinar matahari terbit di Pulau Jawa.

  • Bumi Blambangan

Sejarah berdirinya Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Blambangan, karena Blambangan merupakan cikal bakal dari Banyuwangi. Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Blambangan adalah kerajaan yang paling gigih bertahan terhadap serangan VOC serta Blambanganlah kerajaan yang paling akhir ditaklukkan penjajah Belanda di Pulau Jawa.

  • Osing

Salah satu keunikan Banyuwangi adalah penduduk yang multikultur, dibentuk oleh 3 elemen masyarakat yaitu Jawa Mataraman, Madura, dan Banyuwangen (kini lebih dikenal dengan Osing).

Suku Osing adalah penduduk asli Kabupaten Banyuwangi. Mereka mempunyai adat-istiadat, budaya maupun bahasa yang sedikit berbeda dari masyarakat Jawa umumnya.

  • Santet

Julukan Banyuwangi bumi santet terkenal sejak peristiwa memilukan ketika 100 orang lebih dibunuh secara misterius karena dituduh memiliki ilmu santet. Peristiwa ini dikenal luas oleh masyarakat sebagai “Tragedi Santet” Tahun 1998.

  • Gandrung

Banyuwangi terkenal dengan Tari Gandrung yang menjadi maskot kabupaten ini.

  • 'Banteng

Banyuwangi dijuluki bumi banteng dikarenakan di Banyuwangi tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo terdapat banyak banteng jawa.

  • Pisang

Sejak dahulu Banyuwangi sangat dikenal sebagai penghasil pisang terbesar, bahkan tiap dipekarangan rumah warga selalu terdapat pohon pisang.

  • Festival

Berawal dari sukses penyelenggaraan kegiatan budaya Banyuwangi Ethno Carnival pertama pada tahun 2011 lalu, maka pada tahun-tahun berikutnya seakan tak terbendung lagi semangat dan kegairahan masyarakat Banyuwangi untuk mengangkat potensi dan budaya daerah melalui rangkaian kegiatan yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi Festival.

Maka sejak 2012 acara Banyuwangi Ethno Carnival ditahbiskan menjadi agenda tahunan berbarengan dengan kegiatan lain, baik yang bersifat seni, budaya, fesyen, dan wisata olahraga.

Geografi

GentengBangorejoKalibaruGlenmoreSronoSonggonLicinBanyuwangiSempuRogojampiGiriKalipuroGambiranTegalsariPesanggaranPurwoharjoWongsorejoGlagahKabatSingojuruhBlimbingsariMuncarCluringTegaldlimoSiliragung Peta administrasi kabupaten Banyuwangi

Secara geografis Kabupaten Banyuwangi terletak pada koordinat 7º45’15”–8º43’2” LS dan 113º38’10” BT.

Wilayah Banyuwangi cukup beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan. Kawasan perbatasan dengan Bondowoso, terdapat rangkaian Dataran Tinggi Ijen dengan puncaknya Gunung Raung (3.344 m) dan Gunung Merapi (2.799 m). Di balik Gunung Merapi terdapat Gunung Ijen yang terkenal dengan kawahnya. Gunung Raung dan Gunung Ijen adalah gunung api aktif.

Bagian selatan terdapat perkebunan, peninggalan sejak zaman Hindia Belanda. Di perbatasan dengan Kabupaten Jember bagian selatan, merupakan kawasan konservasi yang kini dilindungi dalam sebuah cagar alam, yakni Taman Nasional Meru Betiri. Pantai Sukamade merupakan kawasan penangkaran penyu. Di Semenanjung Blambangan juga terdapat cagar alam, yaitu Taman Nasional Alas Purwo.

Pantai timur Banyuwangi yang menghadap ke Selat Bali merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Tepatnya di Kecamatan Muncar yaitu pelabuhan perikanan Muncar.

Batas wilayah

Wilayah Kabupaten Banyuwangi berbatasan langsung dengan beberapa wilayah lain, yakni:

Kabupaten Banyuwangi terletak di ketinggian 0–2.500 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan tingkat kelerengan, wilayah Kabupaten Banyuwangi terbagi dalam empat kategori tingkat kelerangan, yaitu tingkat kelerengan 0–2%, tingkat kelerengan 2–15%, tingkat kelerengan 15–40%, dan tingkat kelerengan >40%. Berikut adalah detailnya:

  • Tingkat kelerengan 0–2% dapat dijumpai di seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi
  • Tingkat kelerengan 2–15% dapat dijumpai di hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Muncang dan Kecamatan Cluring
  • Tingkat kelerengan 15–40% dapat dijumpai di sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Muncal, Cluring, Gambiran, Tegalsari, Genteng, Srono, Rogojampi, Singojuruh, Giri, dan Banyuwangi.
  • Tingkat kelerengan >40% dapat dijumpai di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Purwoharjo, Muncal, Cluring, Gambiran, Tegalsari, Genteng, Srono, Rogojampi, Kabat, Singojuruh, Giri, Sempu, dan Banyuwangi.

Geohidrologi

Beberapa sungai besar maupun kecil yang melintas Kabupaten Banyuwangi mulai dari bagian utara ke selatan sehingga merupakan daerah yang cocok pertanian lahan basah, yaitu meliputi :

  • Sungai Bajulmati (20 km), melewati Kecamatan Wongsorejo.
  • Sungai Selogiri (6,173 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Ketapang (10,26 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Sukowidi (15,826 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Bendo (15,826 km), melewati Kecamatan Glagah.
  • Sungai Sobo (13,818 km), melewati Kecamatan Banyuwangi dan Glagah.
  • Sungai Pakis (7,043 km), melewati Kecamatan Banyuwangi.
  • Sungai Tambong (24,347 km), melewati Kecamatan Glagah dan Kabat.
  • Sungai Binau (21,279 km), melewati Kecamatan Rogojampi.
  • Sungai Bomo (7,417 km), melewati Kecamatan Rogojampi, Srono, dan Muncar.
  • Sungai Setail (73,35 km), melewati Kecamatan Sempu, Genteng, Tegalsari, Gambiran, Purwoharjo dan Muncar.
  • Sungai Porolinggo (30,70 km)melewati Kecamatan Genteng.
  • Sungai Kalibarumanis (18 km), melewati Kecamatan Kalibaru dan Glenmore.
  • Sungai Wagud (14,60 km), melewati Kecamatan Genteng, Cluring dan Muncar.
  • Sungai Karangtambak (25 km), melewati Kecamatan Pesanggaran.
  • Sungai Bango (18 km), melewati Kecamatan Bangorejo dan Pesanggaran.
  • Sungai Baru (80,70 km), melewati Kecamatan Kalibaru, Glenmore, Tegalsari, Siliragung dan Pesanggaran.

Iklim

Suhu udara di wilayah datara rendah berkisar antara 20°–34°C, sedangkan wilayah dataran tinggi bersuhu udara kurang dari 19°C. Tingkat kelembapan di Kabupaten Banyuwangi bervariasi antara 73–84%. Berdasarkan klasifikasi iklim Koppen, hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi masuk dalam kategori iklim tropis basah dan kering (Aw & Am) dengan dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau di wilayah Kabupaten Banyuwangi berlangsung pada periode MeiOktober dengan puncak musim kemarau adalah bulan Agustus. Sementara itu, musim hujan di wilayah Banyuwangi berlangsung pada periode NovemberApril dengan bulan terbasah adalah bulan Januari dan Februari yang curah hujan bulanannya lebih dari 280 mm per bulan. Curah hujan tahunan di wilayah Banyuwangi berkisar antara 1.000–2.000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan bervariasi antara 80–150 hari hujan per tahun.

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dalam empat periode terakhir.

Kecamatan

Artikel utama: Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi

Kabupaten Banyuwangi terdiri dari 25 kecamatan, 28 kelurahan, dan 189 desa (dari total 666 kecamatan, 777 kelurahan, dan 7.724 desa di Jawa Timur). Pada tahun 2021, luas wilayah Kabupaten Banyuwangi adalah 3.593,06 km².

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi, adalah sebagai berikut:

Transportasi

Ibu kota Kabupaten Banyuwangi berjarak 290 km sebelah timur Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Banyuwangi merupakan ujung paling timur jalur pantura serta titik paling timur jalur kereta api pulau Jawa yaitu Stasiun Ketapang.

Pelabuhan Ketapang terletak di Kota Banyuwangi bagian utara, menghubungkan Jawa dan Bali dengan kapal Ferry, LCM, roro dan tongkang.

Angkutan Antarkota

Dari Surabaya, Kabupaten Banyuwangi dapat dicapai dari dua jalur jalan darat, jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara merupakan bagian dari jalur pantura yang membentang dari Anyer hingga pelabuhan Panarukan dan melewati Kabupaten Situbondo. Sedangkan jalur selatan merupakan pecahan dari jalur pantura dari Kabupaten Probolinggo melewati Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember. Di kedua jalur tersebut tersedia bus ekonomi maupun non-ekonomi.

Angkutan Kereta Api

Terdapat pula moda transportasi darat lainnya, yaitu jalur kereta api lintas timur Jawa dan berakhir di Banyuwangi. Stasiun Banyuwangi Kota merupakan stasiun terdekat dengan Kota Banyuwangi. Stasiun Ketapang terletak di utara Kota Banyuwangi tidak jauh dari Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Stasiun kereta api yang cukup besar di Banyuwangi adalah Stasiun Ketapang, Banyuwangi Kota, Rogojampi, Stasiun Kalisetail, (Kecamatan Sempu), dan Kalibaru. Selain itu ada juga stasiun yang lebih kecil seperti Singojuruh, Temuguruh, Glenmore, Sumberwadung dan Halte Krikilan.

Angkutan Daerah

Untuk transportasi wilayah perkotaan terdapat moda angkutan mikrolet, taksi Bosowa, Ramayana, Using Transport serta van atau yang oleh masyarakat setempat disebut 'colt' yang melayani transportasi antar kecamatan dan minibus yang melayani trayek Banyuwangi dengan kota-kota kabupaten di sekitarnya.

Angkutan Udara

Bandar Udara Internasional Banyuwangi di kecamatan Blimbingsari dalam pembangunannya sempat tersendat akibat kasus pembebasan lahan, dan memakan korban 2 bupati yang menjabat dalam masa pembangunannya yaitu Bupati Samsul Hadi (2000–2005) dan Bupati Ratna Ani Lestari (2005–2010). Dan pada tanggal 28 Desember 2010, Bandar Udara Blimbingsari telah dibuka untuk penerbangan komersial Banyuwangi (BWX) – Jakarta (CGK) – Banyuwangi (BWX) dan Banyuwangi (BWX) – Surabaya (SUB) – Banyuwangi (BWX).

Angkutan Laut dan Barang

Selain itu terdapat Pelabuhan Tanjung Wangi di Ketapang, Kecamatan Kalipuro selain sebagai pelabuhan bongkar muat barang dan peti kemas, juga melayani pelayaran ke kepulauan di bagian timur Madura, seperti Kep. Sapeken, Kep. Kangean, dan Kep. Sapudi.

Moda transportasi alternatif yang juga sudah diluncurkan berupa Kapal Cepat Marina Srikandi yang memiliki kapasitas hingga 145 orang penumpang. Pengoperasian kapal ini didorong oleh pemikiran bahwa pertumbuhan pariwisata Banyuwangi juga ditopang oleh pertumbuhan pariwisata di Bali dan Lombok, sehingga perjalanan yang menghubungkan ketiganya harus terus ditingkatkan.

Penduduk

Penduduk Kabupaten Banyuwangi terdiri dari beragam suku.

Kabupaten Banyuwangi memiliki banyak objek wisata seperti:

Wisata Alam

Wisata Sejarah

Wisata Desa

  • Desa Kemiren, desa dengan adat istiadat dan budaya masyarakat suku Osing yang masih terjaga.
  • Desa Tamansari, desa di kaki Gunung Ijen yang menawarkan keindahan alam khas dataran tinggi.
  • Desa Gintangan, desa dengan produk unggulan berupa kerajinan anyaman bambu kualitas ekspor yang banyak diburu wisatawan.
  • Desa Bangsring, desa yang menawarkan keindahan bawah laut Selat Bali dan eksotika Pulau Tabuhan.
  • Desa Patoman, desa yang dijuluki sebagai "Miniatur Pulau Bali" karena menawarkan suasana perdesaan ala Pulau Dewata.
  • Kelurahan Gombengsari, kelurahan dengan perkebunan kopi yang luas dan sajian olahan kopi lokal yang khas.
  • Kelurahan Temenggungan, kampung di pusat Kota Banyuwangi yang menawarkan suasana perkampungan klasik tempo dulu dengan balutan seni dan budaya lokal yang senantiasa dilestarikan.

Kebudayaan

Petirtan di Pura Beji Ananthaboga dan Pelinggih Ganesha

Kabupaten Banyuwangi merupakan wilayah lintas pulau antara Pulau Jawa dan Pulau Bali, sehingga menjadi salah satu tempat pertemuan berbagai jenis kebudayaan. Budaya masyarakat Banyuwangi sangat beragam dan meliputi budaya lokal dari suku Jawa, suku Bali, suku Madura, dan suku Melayu. Terdapat pula budaya asing yang meliputi budaya Eropa.

Di dusun Selorejo, kecamatan Glenmore, di lereng Gunung Raung, terdapat Pura Beji Ananthaboga, sebuah pura dan petirtaan yang terletakserta menempati wilayah Perhutani KPH Banyuwangi Barat.

Batik

Batik yang disebut-sebut sebagai jati diri Bangsa Indonesia tak bisa diragukan. Keberadaannya memang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa. Motif-motifnya pun terinspirasi tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan banyuwangi, memiliki beberapa motif yang terkenal yaitu

  • Gajah Oling
  • Paras Gempal
  • Sekar Jagad
  • Kangkung Setingkes
  • Mata Ayam

Jenis Batik tadi merupakan sebagian dari Motif Batik khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

Lagu Daerah

  • Umbul-Umbul Blambangan
  • Ugo-Ugo
  • Banyuwangi Ijo Royo-Royo
  • Seblang Lukinto
  • Cengkir Gadhing
  • Ulan Andung Andung

Kesenian tradisional

Kesenian tradisional khas Banyuwangi antara lain:

Jenis kesenian tadi merupakan sebagian dari kesenian khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

Musik khas Banyuwangi

Gamelan Banyuwangi khususnya yang dipakai dalam tari Gandrung memiliki kekhasan dengan adanya kedua biola, yang salah satunya dijadikan sebagai pantus atau pemimpin lagu. Menurut sejarahnya, pada sekitar abad ke-19, seorang Eropa menyaksikan pertunjukan Seblang (atau Gandrung) yang diiringi dengan suling. Kemudian orang tersebut mencoba menyelaraskannya dengan biola yang dia bawa waktu itu, pada saat dia mainkan lagu-lagu Seblang tadi dengan biola, orang-orang sekitar terpesona dengan irama menyayat yang dihasilkan biola tersebut. Sejak itu, biola mulai menggeser suling karena dapat menghasilkan nada-nada tinggi yang tidak mungkin dikeluarkan oleh suling.

Selain itu, gamelan ini juga menggunakan "kluncing" (triangle), yakni alat musik berbentuk segitiga yang dibuat dari kawat besi tebal, dan dibunyikan dengan alat pemukul dari bahan yang sama, dan angklung, atau rebana.