Banyuwangi Club

Informasi, Wisata, Edukasi, Sejarah, Teknologi Banyuwangi

Klik Jasa Pembuatan / Service Website - Klik Jasa CCTV - Klik Jasa Pembuatan / Service Repeater

10 Tempat Wisata Banyuwangi yang indah

10 Tempat Wisata Banyuwangi yang indah. Dalam beberapa tahun terakhir ini, wisata Banyuwangi menjadi salah satu tempat wisata booming di Indonesia. Lokasi Banyuwangi berada pada bagian timur pulau Jawa dan sangat populer.

Popularitas tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Hal ini karena keberadaan Pelabuhan Ketapang sebagai jalur penyeberangan para wisatawan dari pulau Jawa ke pulau Bali. Dari sinilah, Banyuwangi mulai terekspos berbagai potensi tempat wisatanya.

Rekomendasi Tempat Wisata Banyuwangi

Nah jika kamu penasaran dengan apa saja tempat wisata di Kabupaten bagian timur pulau Jawa tersebut, berikut adalah rekomendasi yang bikin kamu makin malas pulang.

1. Taman Nasional Alas Purwo

Menara Pantau di Taman Nasional Alas Purwo yang menjadi lokasi spot foto andalan

Kamu mungkin tidak asing dengan Taman Nasional Baluran yang berada pada bagian utara Kabupaten Banyuwangi dan masuk dalam Kabupaten Situbondo. Tetapi, Banyuwangi sebelah selatan menawarkan salah satu tempat wisata yang wajib kamu kunjungi, yaitu Taman Nasional Alas Purwo.

Begitu kamu menginjakkan kaki di lokasi, kamu akan disuguhkan dengan area savana mirip seperti Afrika. Apabila kamu melihat langsung di peta, Taman Nasional Alas Purwo mempunyai bentuk cukup unik. Letaknya berada pada Semenanjung Blambangan pada bagian ujung Tenggara pulau Jawa.

Selain Savana Taman Nasional Alas Purwo juga merupakan tempat dimana hutan bakau dan hutan gugur tropis tetap terjaga. Bahkan Taman Nasional Alas Purwo juga tidak jauh dari beberapa lokasi pantai cantik seperti pantai Plengkung. Apa yang dapat kamu lakukan di taman nasional adalah melihat berbagai macam spesies langka termasuk anjing hutan Asia, lutung kelabu, dan banteng Jawa.

Untuk menuju ke Taman Nasional Alas Purwo, kamu harus menuju ke Kutorejo, kalipait, Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.

2.  De Djawatan

Taman De Djawatan terkenal dengan rimbunnya pohon trembesi yang sudah berusia ratusan tahun

Objek wisata Banyuwangi berikutnya yaitu De djawatan, sebuah kawasan hutan lindung milik Djawatan Perhutani. Di tempat wisata tersebut, terdapat hingga 50 pohon Trembesi besar dengan penampakan unik.

Dulu, area tersebut tampak seram karena tidak terawat tetapi pihak pemerintah Banyuwangi melakukan penataan sehingga menjadikan lokasi tersebut sebagai salah satu tempat wisata keren di Banyuwangi.

Hal ini karena hutan Trembesi ditata lebih rapi supaya menghilangkan kesan seram di De Djawatan. Apalagi sudah banyak fasilitas wisata termasuk papan nama warna-warni juga tempat ibadah.

Akan tetapi, tempat wisata ini hanya untuk para pengunjung yang sangat menikmati Wisata Alam Asri. Bagian menariknya adalah hutan De Djawatan juga memperoleh julukan sebagai hutan Lord of the Rings karena tampak mirip dengan suasana hutan di film tersebut.

Untuk menuju ke De Djawatan, kamu harus menuju ke Purwosari, Benculuk, Celuring, Kabupaten Banyuwangi. Tempat wisata ini dibuka setiap hari Mulai pukul 8 hingga 5 sore kecuali pada hari Senin karena libur.

3. Pulau Tabuhan

Pulau tak berpenghuni ini memiliki pantai yang sangat indah, dengan perpaduan air yang jernih dan langit yang biru dijamin foto liburanmu bakalan bagus banget deh!

Berada pada bagian utara pada saat Bali, pulau kecil ini terlepas dari Pulau Jawa. Walaupun demikian, Pulau Tabuhan masih menjadi bagian Kabupaten Banyuwangi. Selain pulau yang indah, tempat wisata Banyuwangi ini sangat populer.

Jika kamu punya waktu berkunjung dan menikmati tempat wisata Banyuwangi, maka Pulau Tabuhan merupakan salah satu rekomendasi terbaik karena kamu bisa mendapatkan foto liburan yang luar biasa dengan background laut dan langit yang biru.

Pulau Tabuhan juga menawarkan Spot snorkeling yang wajib kamu coba dan pasir putih yang menarik untuk area bermain. Jika ingin menuju ke Pulau Tabuhan, kamu dapat menggunakan kapal yang berada pada pantai Kampe yaitu 40 menit dari pusat Kota Banyuwangi. Atau kamu juga bisa bergabung dengan travel agent untuk ikut paket tour ke Pulau Tabuhan.

Penasaran dan pengen banget ke Pulau Tabuhan? Kamu bisa lho ikut open tripnya DISINI

4. Pantai Plengkung

Pantai Plengkung ini ikonik dengan ombaknya yang sangat disukai oleh para peselencar, tapi Anda juga bisa menikmati pantainya yang cantik sambil duduk-duduk santai di tepian

Pilihan selanjutnya untuk tempat wisata Banyuwangi yang wajib kamu kunjungi pada Tahun 2022 ini adalah pantai Plengkung. Hal ini karena tempat wisata di Banyuwangi tersebut merupakan lokasi terbaik bagi para pecinta surfing bahkan dari berbagai belahan dunia.

Pantai Plengkung mampu menawarkan ombak besar bergulung-gulung sehingga menjadi pilihan pantai terbaik untuk surfing secara profesional. Banyak yang mengatakan bahwa ombak pada pantai Plengkung merupakan salah satu ombak terbaik setelah pantai di Hawaii.

Jika kamu sangat menyukai berselancar, ombak di Pantai Plengkung adalah ombak raksasa sehingga para surfer bisa mencoba tube riding, sebuah istilah bagi para surfer ketika berselancar Di dalam lingkungan ombak. Bahkan bagi para peselancar internasional, pantai Plengkung masuk dalam deretan G-land dan sering digunakan sebagai tempat untuk penyelenggaraan surfing internasional.

Untuk menuju ke Pantai Plengkung kamu harus menuju ke Purworejo, Kalipait, Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Hal ini karena lokasi Pantai Plengkung masuk dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Jika dari pusat Kota Banyuwangi kamu membutuhkan perjalanan 74 KM yang dapat kamu tempuh menggunakan sewa mobil atau sewa motor.

5. Pantai Sukamade

Bagi Anda penikmat matahari terbenam, pantai Sukamade adalah pilihan berlibur yang tepat. Apalagi jika Anda memiliki waktu libur yang cukup lama

Sedang mencari tempat wisata pantai di Banyuwangi? Kamu layak mempertimbangkan rekomendasi Pantai Sukamade sebagai salah satu wisata Banyuwangi yang menarik. Pantai Sukamade merupakan area konservasi penyu yang terkenal dengan lokasi yang tidak jauh dari Teluk Hijau dan merupakan kawasan area Taman Nasional Meru Betiri. Setiap malam, penyu dewasa selalu mampir ke pantai dan memilih mengubur seluruh telurnya. Saat pagi hari, kamu bisa melihat bayi-bayi penyu yang sudah menetas dari telur-telur yang dikubur, bergerak menuju ke lautan.

Melihat pemandangan seperti ini justru membuat kamu akan tertarik sehingga menjadi pengalaman tak terlupakan atau bahkan kamu juga bisa malas pulang. Apalagi, tidak jauh dari lokasi pantai tersebut terdapat penginapan atau homestay untuk menginap para pengunjung.

Jika dari kota Banyuwangi, lokasinya terbilang cukup jauh yaitu 97 KM. Apalagi jalan menuju kawasan Sukamade terbilang cukup menantang sehingga akan lebih baik menginap pada sekitar pantai Sukamade.

Banyak travel agent menyediakan paket tour dengan memilih Pantai Sukamade sebagai salah satu bagian dari tour tersebut. Kamu bisa menikmati kegiatan konservasi penyu saat di pantai ini sekaligus mampir ke Pantai Pulau Merah dan Teluk Hijau.

6. Teluk Hijau

Pantai Teluk Ijo adalah lokasi tepat buat piknik bareng orang terdekat nih, tenang dan jauh dari hiruk pikuk.

Teluk Hijau atau Green Bay merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Meru Betiri, sebuah teluk hijau turquoise dipadu dengan pasir putih lembut.

Salah satu tempat wisata Banyuwangi tersebut diapit area hijau sehingga membuat keindahan panorama di sekitar teluk tersebut sangat sempurna. Sebagai salah satu bagian dari taman nasional, Teluk Hijau berada di Dusun Krajan, Sarongan, Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Jika kamu berkunjung ke Teluk Hijau ini, sebaiknya perhatikan barang bawaan. Hal ini karena di sekitar pantai tersebut terdapat banyak monyet liar, sehingga hindari memberi makan monyet.

Untuk menuju ke lokasi terbilang cukup jauh yaitu sekitar 86 km atau membutuhkan waktu 2,5 jam. Akses menuju ke teluk tersebut terbilang sangat buruk sehingga akan lebih baik jika kamu mengambil paket tour dari Banyuwangi menuju ke Teluk Hijau, Pantai Sukamade, juga Pantai Pulau Merah.

7. Pantai Pulau Merah

Selain terkenal dengan sunsetnya, panorama pagi hari disini juga bagus banget

Pantai di Banyuwangi ini mempunyai pulau kecil yang tidak jauh dari lokasi pantai bagian paling menarik dari pulau tersebut adalah karena kondisi tanah berwarna merah. Kamu juga bisa menuju ke lokasi dengan cara berjalan kaki apabila tertarik menjelajahi Pulau Merah. Cara ini dapat kamu lakukan ketika laut surut.

Tidak hanya pula merah yang membuat pantai semakin unik, Pantai Pulau Merah juga mempunyai pasir halus sehingga sangat ideal untuk menikmati waktu bermain di hamparan pasir pantai. Salah satu alasan mengapa banyak pengunjung memilih Pantai Pulau Merah adalah karena dapat digunakan untuk berselancar atau surfing karena kondisi ombak yang bergulung indah untuk berselancar.

Hal tersebut masih tergolong berbeda dengan pantai Plengkung yang terkenal sebagai spot selancar para peselancar dunia. Sehingga jika kamu merasa bahwa pantai Plengkung mempunyai ombak yang terlalu sulit ditaklukan, maka kamu bisa belajar berselancar terlebih dahulu di Pantai Pulau Merah. Bahkan kamu juga bisa menggunakan layanan sewa papan selancar.

Untuk menuju ke lokasi Pantai Pulau Merah Banyuwangi yaitu dengan menuju ke dusun Pancer Sumberagung, Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi. Jika kamu berada di tengah kota Banyuwangi, maka kamu membutuhkan jam untuk menempuh jarak 60 KM menggunakan kendaraan roda empat. Atau kamu juga bisa berkunjung ke Pantai Pulau Merah dengan membuat rencana open trip sekaligus mengunjungi Pantai Sukamade serta Teluk Hijau.

8. Taman Nasional Baluran

Mau foto liburan hits dan kece kayak gini? Yuk ke Taman Nasional Baluran!

Pilihan tempat wisata berikutnya di sekitar Banyuwangi yang tidak kalah populer jika dibandingkan dengan tempat wisata lainnya yaitu Taman Nasional Baluran. Jika kamu pernah melihat video klip milik Raisa pada lagu berjudul “Jatuh Hati”, maka lokasi syuting tersebut berada di Taman Nasional Baluran.

Kamu akan disuguhkan dengan pemandangan savana Afrika di Jawa Timur tersebut. Walaupun secara teknis, lokasi Taman Nasional Baluran berada di Kabupaten Situbondo, tetapi Baluran sangat terkenal sebagai salah satu destinasi wisata jika kamu berkunjung ke Banyuwangi. Hal ini karena lokasi taman tersebut tidak jauh dari kawasan Banyuwangi.

Apabila kamu berada di tengah kota Banyuwangi, maka kamu hanya perlu membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam saja. Tidak hanya savanna Afrika, tetapi, kamu juga dapat melihat berbagai satwa liar. Contohnya adalah rusa-rusa lucu, atau berfoto dengan lanskap magis pada Savana Bekol, maupun berkunjung ke Pantai Bama.

Lokasi Taman Nasional Baluran yaitu berada di Gerbang Masuk Taman Nasional Baluran, Randu Agung, Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo.

Kamu juga dapat menuju ke lokasi tersebut dengan menggunakan mobil pribadi, yaitu dari Banyuwangi dan mengambil arah menuju ke Jalan Raya Pantura. Apabila kamu tidak berencana menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa mencoba mengambil paket private tour atau open trip ke Taman Nasional Baluran.

9. Kawah Ijen

Tempat wisata paling populer di Banyuwangi, tentunya Kawah Ijen. Blue firenya sangat mendunia, tapi pemandangan matahari terbit disini juga menakjubkan lho!

Kawah Ijen juga merupakan salah satu tempat wisata populer di Banyuwangi bagi para pengunjung di Indonesia. Lokasi kawah Ijen berada di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso Provinsi Jawa Timur. Tidak hanya terkenal dengan kawah hijau dengan panorama indah, tetapi Kawah Ijen merupakan lokasi pertambangan belerang.

Kawah Ijen juga menawarkan salah satu fenomena unik yaitu api biru atau blue Fire. Fenomena ini terjadi akibat adanya gas sulfur yang terbakar pada retakan Gunung Api Ijen dengan temperatur mencapai 600 derajat Celsius.Blue Fire di Kawah Ijen tersebut merupakan yang paling besar di dunia sedangkan lokasi lainnya di dunia ini yang mempunyai fenomena blue fire terdapat di Gunung dallol tepatnya di Ethiopia.

Salah satu kegiatan yang dapat kamu lakukan ke kawah Ijen adalah dengan hiking atau mendaki. Para pengunjung harus melakukan pendakian sejauh 3 km dengan waktu yang dibutuhkan sekitar 1,5 hingga 2 jam, mengikuti kecepatan berjalan.

Pendakian dan bau belerang kuat di sekitar kawah membuat tempat wisata Banyuwangi ini bukan menjadi pilihan tepat bagi lansia, pengunjung dengan disabilitas, pengunjung dengan masalah gangguan fungsi tulang, gangguan fungsi hati, gangguan pernapasan, mata sensitif, atau kondisi medis yang serius. Lokasi ini juga bukan merupakan pilihan tepat bagi para pengunjung yang sedang hamil.

Karena lokasi kawah Ijen berada pada perbatasan Kabupaten, maka jika kamu dari pusat Banyuwangi, kamu harus menempuh perjalanan cukup jauh. Apabila kamu memilih menggunakan kendaraan roda empat, kamu bisa menuju ke lokasi dalam waktu 1 jam.

Dari pusat kota, kamu harus menuju ke Kecamatan Licin, menuju Paltuding sebagai pos pertama pendakian. Biasanya tersedia paket tour menuju ke kawah Ijen dengan aktivitas pendakian saat tengah malam supaya kamu bisa melihat blue fire dan matahari terbit pada waktu yang tepat.

10. Bangsring Underwater

Bangsring Underwater ini salah satu tempat wisata yang menawarkan pengalaman berbeda, yakni snorkeling bersama hiu. Kapan lagi bisa nyobain snorkeling bersama hiu yakan?

Jika kamu sangat menyukai kegiatan snorkeling, maka tidak ada salahnya untuk mampir ke alam bawah air Banyuwangi. Apabila kamu tertarik, kamu bisa mampir ke Bangsring Underwater dan menikmati pesonanya.

Bagian menarik dari tempat wisata ini adalah pengelolaan yang dikelola langsung secara Swadaya oleh nelayan setempat. Sehingga saking baiknya pengelolaan tersebut, membuat lokasi ini mampu menyabet gelar Penghargaan Kalpataru pemerintah pusat.

Untuk menuju ke lokasi, kamu bisa memulai perjalanan menuju Bangsring, Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Jam operasional tempat wisata ini yaitu setiap hari pada pukul 7 pagi sampai 6 malam. Kemudian untuk tiket masuk tidak ada biaya sama sekali alias gratis, tetapi terdapat biaya retribusi untuk menyebrang pada spot rumah apung yaitu sebesar Rp5.000.

Itulah informasi lengkap tentang apa saja pilihan tempat wisata Banyuwangi yang bikin kamu jadi malas pulang karena pesonanya. Dari seluruh tempat wisata tersebut, mana lokasi yang paling ingin kamu kunjungi?

10 Tempat Wisata Banyuwangi


10 Destinasi Tempat Wisata Terbaru dan Terpopuler di Banyuwangi, Nomor 7 Tak Terlupakan - Timenews - Timenews Baca Selengkapnya

5 Destinasi Wisata Angker Banyuwangi yang Cocok untuk Uji Nyali - Radar Madura - Radar Madura Baca Selengkapnya

10 Tempat Wisata Terpopuler Banyuwangi, Air Terjun Selendang Arum hingga Kawah Ijen - Okezone Travel Baca Selengkapnya

Menyelami Keindahan Pantai Terbaru dan Populer di Banyuwangi 2024 - Timenews Baca Selengkapnya

Sungguh Agung CiptaanNya, 10 Destinasi Tempat Wisata Terbaik di Banyuwangi, Pemandangan Yang Eksotik Sambil Menikmati Kawah Ijen & Blue Fire - Lamongan Network - Lamongan Network Baca Selengkapnya

Eksotisme Wisata Jopuro Banyuwangi, Sejuknya Mata Air Gunung Ijen hingga Warna-warni Capung yang Menyita ... - Merdeka.com Baca Selengkapnya

Destinasi Wisata 10 Kota di Jawa Timur Rekomendasi Khofifah - JatimNow Baca Selengkapnya

17 Tempat Wisata Banyuwangi yang Bikin Ogah Pulang - IDN Times Baca Selengkapnya

10 Destinasi Wisata Malang Raya Rekomendasi Khofifah, Yuk Dikunjungi Selama Libur Lebaran - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

Libur Lebaran 2024, Destinasi Wisata dan Hotel di Banyuwangi Dibanjiri Gelombang Wisatawan - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

10 Tempat Wisata Terbaru dan Terpopuler di Banyuwangi untuk Liburan Bersama Keluarga dan Teman-teman - Timenews - Timenews Baca Selengkapnya

Suasananya Sejuk Nan Indah, 10 Destinasi Wisata Terbaru dan Instagenik di Banyuwangi yang Selalu Menjadi Incaran Semua Wisatawan - Timenews - Timenews Baca Selengkapnya

Wajib Coba! Berikut ini 10 Tempat Wisata Kuliner yang Paling Enak dan Legendaris di Jalan Surya Kencana Bogor, Asik Banget Bila Liburan ke Sini - Timenews - Timenews Baca Selengkapnya

7 Destinasi Wisata Banyuwangi Viral dan Populer dengan Keindahannya yang Menakjubkan, Cocok untuk Hiburan Bersama Keluarga Ataupun Teman - Timenews - Timenews Baca Selengkapnya

CATAT : 10 Tempat Wisata Terbaru Paling Hits dan Terpopuler di Banyuwangi - Timenews - Timenews Baca Selengkapnya

Banyuwangi


Di pesisir Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang merupakan penghubung utama antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Masyarakat penghuni daerah ini adalah suku Jawa Osing atau Wong Blambangan.

Sejarah

Artikel utama: Sejarah Banyuwangi

Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Kangjeng Suhunan Prabu Tawang Alun.

Sejak tahun 1743, secara administratif VOC telah menganggap Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar Perjanjian Ponorogo yang diantara isinya adalah penyerahan kekuasaan Kartasura di Jawa bagian timur (termasuk Blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal Kartasura tidak pernah mewarisi Blambangan dari Kesultanan Mataram karena Kangjeng Suhunan Prabu Tawangalun telah menyatakan kemerdekaan Balambangan pada 23 Pebruari 1653 dan Mataram tidak pernah menundukkannya lagi hingga Mataram hancur akibat Perang Raden Trunajaya.

Pasca Perjanjian Ponorogo tahun 1743, VOC tidak pernah benar-benar menancapkan kekuasaannya sampai pada akhir abad ke-17, ketika Perusahaan Hindia Timur Britania menjalin hubungan dagang dengan Blambangan..

VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaannya atas Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (1767–1772) dan bahkan baru berakhir tahun 1777.

Dalam rangkaian peperangan itu terdapat beberapa pertempuran dahsyat yang salah satunya disebut Perang Puputan Bayu yang merupakan perlawanan rakyat Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu VOC.

Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 Desember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Sayangnya, perang ini tidak dikenal luas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kompeni Belanda.

Akhir dari perang ini, VOC-lah yang memperoleh kemenangan dengan diangkatnya R. Wiroguno I (Mas Alit) sebagai Bupati Banyuwangi pertama dan tanda runtuhnya Kerajaan Blambangan. Tetapi perlawanan sporadis rakyat Blambangan masih terjadi meskipun VOC sudah menguasai Blambangan. Itu bisa terlihat dengan tidak adanya pabrik gula yang dibangun oleh VOC saat itu, berbeda dengan kabupaten lainnya di Jawa Timur.

Legenda

Tokoh legenda yang terkenal adalah Putri Sri Tanjung yang di bunuh oleh suaminya di pinggir sungai karena dicurigai oleh suaminya telah selingkuh ketika dia ditinggal menuju medan perang. Dengan sumpah janjinya kepada sang suami sang putri berkata: "Jika darah yang mengalir di sungai ini amis memang Sri Tanjung selingkuh, tetapi jika berbau harum (wangi) maka Sri Tanjung tidak selingkuh". Dan ketika darah yang mengalir ke dalam sungai tersebut berbau wangi, maka menyesallah sang suami yang dikenal sebagai Sidopekso ini.

Harumnya air itulah yang kemudian diyakini sebagai asal mula nama daerah itu sebagai Banyuwangi.

Tokoh sejarah lain ialah Minak Djinggo, seorang Adipati dari Blambangan yang memberontak terhadap Kerajaan Majapahit dan dapat ditumpas oleh utusan Majapahit, yaitu Damarwulan. Namun sesungguhnya nama Minak Djinggo tidak ada dalam daftar raja Balambangan menurut Babad Sembar sehingga dapat dipastikan bahwa kisah ini hanya legenda saja.

Julukan

Patung selamat datang di Banyuwangi pada kaki gunung Gumitir

Banyuwangi menyandang beberapa julukan, di antaranya:

  • The Sunrise of Java

Julukan The Sunrise of Java disandang Kabupaten Banyuwangi tidak lain karena daerah yang pertama terkena sinar matahari terbit di Pulau Jawa.

  • Bumi Blambangan

Sejarah berdirinya Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Blambangan, karena Blambangan merupakan cikal bakal dari Banyuwangi. Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Blambangan adalah kerajaan yang paling gigih bertahan terhadap serangan VOC serta Blambanganlah kerajaan yang paling akhir ditaklukkan penjajah Belanda di Pulau Jawa.

  • Osing

Salah satu keunikan Banyuwangi adalah penduduk yang multikultur, dibentuk oleh 3 elemen masyarakat yaitu Jawa Mataraman, Madura, dan Banyuwangen (kini lebih dikenal dengan Osing).

Suku Osing adalah penduduk asli Kabupaten Banyuwangi. Mereka mempunyai adat-istiadat, budaya maupun bahasa yang sedikit berbeda dari masyarakat Jawa umumnya.

  • Santet

Julukan Banyuwangi bumi santet terkenal sejak peristiwa memilukan ketika 100 orang lebih dibunuh secara misterius karena dituduh memiliki ilmu santet. Peristiwa ini dikenal luas oleh masyarakat sebagai “Tragedi Santet” Tahun 1998.

  • Gandrung

Banyuwangi terkenal dengan Tari Gandrung yang menjadi maskot kabupaten ini.

  • 'Banteng

Banyuwangi dijuluki bumi banteng dikarenakan di Banyuwangi tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo terdapat banyak banteng jawa.

  • Pisang

Sejak dahulu Banyuwangi sangat dikenal sebagai penghasil pisang terbesar, bahkan tiap dipekarangan rumah warga selalu terdapat pohon pisang.

  • Festival

Berawal dari sukses penyelenggaraan kegiatan budaya Banyuwangi Ethno Carnival pertama pada tahun 2011 lalu, maka pada tahun-tahun berikutnya seakan tak terbendung lagi semangat dan kegairahan masyarakat Banyuwangi untuk mengangkat potensi dan budaya daerah melalui rangkaian kegiatan yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi Festival.

Maka sejak 2012 acara Banyuwangi Ethno Carnival ditahbiskan menjadi agenda tahunan berbarengan dengan kegiatan lain, baik yang bersifat seni, budaya, fesyen, dan wisata olahraga.

Geografi

GentengBangorejoKalibaruGlenmoreSronoSonggonLicinBanyuwangiSempuRogojampiGiriKalipuroGambiranTegalsariPesanggaranPurwoharjoWongsorejoGlagahKabatSingojuruhBlimbingsariMuncarCluringTegaldlimoSiliragung Peta administrasi kabupaten Banyuwangi

Secara geografis Kabupaten Banyuwangi terletak pada koordinat 7º45’15”–8º43’2” LS dan 113º38’10” BT.

Wilayah Banyuwangi cukup beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan. Kawasan perbatasan dengan Bondowoso, terdapat rangkaian Dataran Tinggi Ijen dengan puncaknya Gunung Raung (3.344 m) dan Gunung Merapi (2.799 m). Di balik Gunung Merapi terdapat Gunung Ijen yang terkenal dengan kawahnya. Gunung Raung dan Gunung Ijen adalah gunung api aktif.

Bagian selatan terdapat perkebunan, peninggalan sejak zaman Hindia Belanda. Di perbatasan dengan Kabupaten Jember bagian selatan, merupakan kawasan konservasi yang kini dilindungi dalam sebuah cagar alam, yakni Taman Nasional Meru Betiri. Pantai Sukamade merupakan kawasan penangkaran penyu. Di Semenanjung Blambangan juga terdapat cagar alam, yaitu Taman Nasional Alas Purwo.

Pantai timur Banyuwangi yang menghadap ke Selat Bali merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Tepatnya di Kecamatan Muncar yaitu pelabuhan perikanan Muncar.

Batas wilayah

Wilayah Kabupaten Banyuwangi berbatasan langsung dengan beberapa wilayah lain, yakni:

Kabupaten Banyuwangi terletak di ketinggian 0–2.500 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan tingkat kelerengan, wilayah Kabupaten Banyuwangi terbagi dalam empat kategori tingkat kelerangan, yaitu tingkat kelerengan 0–2%, tingkat kelerengan 2–15%, tingkat kelerengan 15–40%, dan tingkat kelerengan >40%. Berikut adalah detailnya:

  • Tingkat kelerengan 0–2% dapat dijumpai di seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi
  • Tingkat kelerengan 2–15% dapat dijumpai di hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Muncang dan Kecamatan Cluring
  • Tingkat kelerengan 15–40% dapat dijumpai di sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Muncal, Cluring, Gambiran, Tegalsari, Genteng, Srono, Rogojampi, Singojuruh, Giri, dan Banyuwangi.
  • Tingkat kelerengan >40% dapat dijumpai di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Purwoharjo, Muncal, Cluring, Gambiran, Tegalsari, Genteng, Srono, Rogojampi, Kabat, Singojuruh, Giri, Sempu, dan Banyuwangi.

Geohidrologi

Beberapa sungai besar maupun kecil yang melintas Kabupaten Banyuwangi mulai dari bagian utara ke selatan sehingga merupakan daerah yang cocok pertanian lahan basah, yaitu meliputi :

  • Sungai Bajulmati (20 km), melewati Kecamatan Wongsorejo.
  • Sungai Selogiri (6,173 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Ketapang (10,26 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Sukowidi (15,826 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Bendo (15,826 km), melewati Kecamatan Glagah.
  • Sungai Sobo (13,818 km), melewati Kecamatan Banyuwangi dan Glagah.
  • Sungai Pakis (7,043 km), melewati Kecamatan Banyuwangi.
  • Sungai Tambong (24,347 km), melewati Kecamatan Glagah dan Kabat.
  • Sungai Binau (21,279 km), melewati Kecamatan Rogojampi.
  • Sungai Bomo (7,417 km), melewati Kecamatan Rogojampi, Srono, dan Muncar.
  • Sungai Setail (73,35 km), melewati Kecamatan Sempu, Genteng, Tegalsari, Gambiran, Purwoharjo dan Muncar.
  • Sungai Porolinggo (30,70 km)melewati Kecamatan Genteng.
  • Sungai Kalibarumanis (18 km), melewati Kecamatan Kalibaru dan Glenmore.
  • Sungai Wagud (14,60 km), melewati Kecamatan Genteng, Cluring dan Muncar.
  • Sungai Karangtambak (25 km), melewati Kecamatan Pesanggaran.
  • Sungai Bango (18 km), melewati Kecamatan Bangorejo dan Pesanggaran.
  • Sungai Baru (80,70 km), melewati Kecamatan Kalibaru, Glenmore, Tegalsari, Siliragung dan Pesanggaran.

Iklim

Suhu udara di wilayah datara rendah berkisar antara 20°–34°C, sedangkan wilayah dataran tinggi bersuhu udara kurang dari 19°C. Tingkat kelembapan di Kabupaten Banyuwangi bervariasi antara 73–84%. Berdasarkan klasifikasi iklim Koppen, hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi masuk dalam kategori iklim tropis basah dan kering (Aw & Am) dengan dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau di wilayah Kabupaten Banyuwangi berlangsung pada periode MeiOktober dengan puncak musim kemarau adalah bulan Agustus. Sementara itu, musim hujan di wilayah Banyuwangi berlangsung pada periode NovemberApril dengan bulan terbasah adalah bulan Januari dan Februari yang curah hujan bulanannya lebih dari 280 mm per bulan. Curah hujan tahunan di wilayah Banyuwangi berkisar antara 1.000–2.000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan bervariasi antara 80–150 hari hujan per tahun.

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dalam empat periode terakhir.

Kecamatan

Artikel utama: Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi

Kabupaten Banyuwangi terdiri dari 25 kecamatan, 28 kelurahan, dan 189 desa (dari total 666 kecamatan, 777 kelurahan, dan 7.724 desa di Jawa Timur). Pada tahun 2021, luas wilayah Kabupaten Banyuwangi adalah 3.593,06 km².

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi, adalah sebagai berikut:

Transportasi

Ibu kota Kabupaten Banyuwangi berjarak 290 km sebelah timur Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Banyuwangi merupakan ujung paling timur jalur pantura serta titik paling timur jalur kereta api pulau Jawa yaitu Stasiun Ketapang.

Pelabuhan Ketapang terletak di Kota Banyuwangi bagian utara, menghubungkan Jawa dan Bali dengan kapal Ferry, LCM, roro dan tongkang.

Angkutan Antarkota

Dari Surabaya, Kabupaten Banyuwangi dapat dicapai dari dua jalur jalan darat, jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara merupakan bagian dari jalur pantura yang membentang dari Anyer hingga pelabuhan Panarukan dan melewati Kabupaten Situbondo. Sedangkan jalur selatan merupakan pecahan dari jalur pantura dari Kabupaten Probolinggo melewati Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember. Di kedua jalur tersebut tersedia bus ekonomi maupun non-ekonomi.

Angkutan Kereta Api

Terdapat pula moda transportasi darat lainnya, yaitu jalur kereta api lintas timur Jawa dan berakhir di Banyuwangi. Stasiun Banyuwangi Kota merupakan stasiun terdekat dengan Kota Banyuwangi. Stasiun Ketapang terletak di utara Kota Banyuwangi tidak jauh dari Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Stasiun kereta api yang cukup besar di Banyuwangi adalah Stasiun Ketapang, Banyuwangi Kota, Rogojampi, Stasiun Kalisetail, (Kecamatan Sempu), dan Kalibaru. Selain itu ada juga stasiun yang lebih kecil seperti Singojuruh, Temuguruh, Glenmore, Sumberwadung dan Halte Krikilan.

Angkutan Daerah

Untuk transportasi wilayah perkotaan terdapat moda angkutan mikrolet, taksi Bosowa, Ramayana, Using Transport serta van atau yang oleh masyarakat setempat disebut 'colt' yang melayani transportasi antar kecamatan dan minibus yang melayani trayek Banyuwangi dengan kota-kota kabupaten di sekitarnya.

Angkutan Udara

Bandar Udara Internasional Banyuwangi di kecamatan Blimbingsari dalam pembangunannya sempat tersendat akibat kasus pembebasan lahan, dan memakan korban 2 bupati yang menjabat dalam masa pembangunannya yaitu Bupati Samsul Hadi (2000–2005) dan Bupati Ratna Ani Lestari (2005–2010). Dan pada tanggal 28 Desember 2010, Bandar Udara Blimbingsari telah dibuka untuk penerbangan komersial Banyuwangi (BWX) – Jakarta (CGK) – Banyuwangi (BWX) dan Banyuwangi (BWX) – Surabaya (SUB) – Banyuwangi (BWX).

Angkutan Laut dan Barang

Selain itu terdapat Pelabuhan Tanjung Wangi di Ketapang, Kecamatan Kalipuro selain sebagai pelabuhan bongkar muat barang dan peti kemas, juga melayani pelayaran ke kepulauan di bagian timur Madura, seperti Kep. Sapeken, Kep. Kangean, dan Kep. Sapudi.

Moda transportasi alternatif yang juga sudah diluncurkan berupa Kapal Cepat Marina Srikandi yang memiliki kapasitas hingga 145 orang penumpang. Pengoperasian kapal ini didorong oleh pemikiran bahwa pertumbuhan pariwisata Banyuwangi juga ditopang oleh pertumbuhan pariwisata di Bali dan Lombok, sehingga perjalanan yang menghubungkan ketiganya harus terus ditingkatkan.

Penduduk

Penduduk Kabupaten Banyuwangi terdiri dari beragam suku.

Kabupaten Banyuwangi memiliki banyak objek wisata seperti:

Wisata Alam

Wisata Sejarah

Wisata Desa

  • Desa Kemiren, desa dengan adat istiadat dan budaya masyarakat suku Osing yang masih terjaga.
  • Desa Tamansari, desa di kaki Gunung Ijen yang menawarkan keindahan alam khas dataran tinggi.
  • Desa Gintangan, desa dengan produk unggulan berupa kerajinan anyaman bambu kualitas ekspor yang banyak diburu wisatawan.
  • Desa Bangsring, desa yang menawarkan keindahan bawah laut Selat Bali dan eksotika Pulau Tabuhan.
  • Desa Patoman, desa yang dijuluki sebagai "Miniatur Pulau Bali" karena menawarkan suasana perdesaan ala Pulau Dewata.
  • Kelurahan Gombengsari, kelurahan dengan perkebunan kopi yang luas dan sajian olahan kopi lokal yang khas.
  • Kelurahan Temenggungan, kampung di pusat Kota Banyuwangi yang menawarkan suasana perkampungan klasik tempo dulu dengan balutan seni dan budaya lokal yang senantiasa dilestarikan.

Kebudayaan

Petirtan di Pura Beji Ananthaboga dan Pelinggih Ganesha

Kabupaten Banyuwangi merupakan wilayah lintas pulau antara Pulau Jawa dan Pulau Bali, sehingga menjadi salah satu tempat pertemuan berbagai jenis kebudayaan. Budaya masyarakat Banyuwangi sangat beragam dan meliputi budaya lokal dari suku Jawa, suku Bali, suku Madura, dan suku Melayu. Terdapat pula budaya asing yang meliputi budaya Eropa.

Di dusun Selorejo, kecamatan Glenmore, di lereng Gunung Raung, terdapat Pura Beji Ananthaboga, sebuah pura dan petirtaan yang terletakserta menempati wilayah Perhutani KPH Banyuwangi Barat.

Batik

Batik yang disebut-sebut sebagai jati diri Bangsa Indonesia tak bisa diragukan. Keberadaannya memang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa. Motif-motifnya pun terinspirasi tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan banyuwangi, memiliki beberapa motif yang terkenal yaitu

  • Gajah Oling
  • Paras Gempal
  • Sekar Jagad
  • Kangkung Setingkes
  • Mata Ayam

Jenis Batik tadi merupakan sebagian dari Motif Batik khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

Lagu Daerah

  • Umbul-Umbul Blambangan
  • Ugo-Ugo
  • Banyuwangi Ijo Royo-Royo
  • Seblang Lukinto
  • Cengkir Gadhing
  • Ulan Andung Andung

Kesenian tradisional

Kesenian tradisional khas Banyuwangi antara lain:

Jenis kesenian tadi merupakan sebagian dari kesenian khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

Musik khas Banyuwangi

Gamelan Banyuwangi khususnya yang dipakai dalam tari Gandrung memiliki kekhasan dengan adanya kedua biola, yang salah satunya dijadikan sebagai pantus atau pemimpin lagu. Menurut sejarahnya, pada sekitar abad ke-19, seorang Eropa menyaksikan pertunjukan Seblang (atau Gandrung) yang diiringi dengan suling. Kemudian orang tersebut mencoba menyelaraskannya dengan biola yang dia bawa waktu itu, pada saat dia mainkan lagu-lagu Seblang tadi dengan biola, orang-orang sekitar terpesona dengan irama menyayat yang dihasilkan biola tersebut. Sejak itu, biola mulai menggeser suling karena dapat menghasilkan nada-nada tinggi yang tidak mungkin dikeluarkan oleh suling.

Selain itu, gamelan ini juga menggunakan "kluncing" (triangle), yakni alat musik berbentuk segitiga yang dibuat dari kawat besi tebal, dan dibunyikan dengan alat pemukul dari bahan yang sama, dan angklung, atau rebana.