SEJARAH MINAK JINGGO

Gambar sejarah minak jinggoGambar sejarah minak jinggo
Minak Jinggo – Kali ini kita akan membahas kisah Minak Jinggo dan Kerajaan Blambangan. Ada beberapa versi cerita yang mengisahkan putra Blambangan yang satu ini. Namun kali ini kita akan mencoba membahas salah satu versi yang diyakini penulis sebagai versi yang paling mendekati kebenaran sejarah dari beberapa sumber di internet.
Awal cerita bermula di istana kerajaan Majapahit dimana Ratu Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencono Wungu merasa resah akan serangan-serangan Kebo Marcue. Kebo Marcuet sendiri digambarkan sebagai mahluk manusia berkepala kerbau yang sakti dan tidak terkalahkan. Telah dicoba untuk membunuhnya dengan mengirimkan banyak pasukan, namun Majapahit tidak juga berhasil memusnahkan Kebo Marcuet.
minak jinggo, cerita damar wulan, blambangan, blambangan motor, umbul umbul blambangan, pura blambangan, raja blambangan, blambangan umpu, hindu di jawa, sejarah minak jinggo, legenda damar wulan, minak jinggo blambangan, makam minak jinggo, cerita damarwulan dan minakjingga, tari minak jinggo, minak jinggo dan damarwulan, pusaka minak jinggo, cerita legenda damarwulan, minak jinggo banyuwangi, cerita minakjinggo, cerita legenda damar wulan, sejarah minakjinggo
Pemeran Minak Jinggo dalam Karnaval
Raden Ayu Kencana Wungu sebagai ratu mengambil tindakan menggelar sayembara bahwa barang siapa yang mampu membunuh Kebo Marcuet akan mendapatkan hadiah diperbolehkan mempersunting Ratu Ayu dan menjadi Raja Majapahit. Sayembara dengan hadiah menggiurkan ini sampai di telinga Adipati Blambangan Bhre Wirabumi yang bergelar Minak Jinggo dan saat itu juga Minak Jinggo memutuskan untuk mengikuti sayembara tersebut.
Dengan Gadha (pentungan) Wesi Kuning-nya (besi kuning), Minak Jinggo berhasil mengalahkan Kebo Marcuet. Diceritakan pula bahwa siapapun yang dihadapkan pada gadha Wesi Kuning milik Minak Jinggo akan lemas dan ambruk dengan mudahnya. Walaupun begitu, Kebo Marcuet juga ternyata memiliki kesaktian sehingga mampu melukai beberapa bagian tubuh Minak Jinggo sehingga Minak Jinggo yang awalnya tampan rupawan menjadi cacat buruk rupa.
Melihat rupa fisik Minak Jinggo yang telah buruk itu Ratu Suhita atau Kencana Wungu ingkar janji dengan menolak pinangan Minak Jinggo. Tentu saja kondisi ini membuat Minak Jinggo marah dan melakukan penyerangan untuk mendapatkan haknya mempersunting Putri Ayu dan menjadi Raja Majapahit. Untuk menghadapi Pemberontakan Adipati Blambangan, Ratu Ayu kembali menggelar sayembara, barang siapa yang mampu membunuh Bhre Wirabumi atau Minak Jinggo akan diperkenankan mempersuntingnya dan menjadi raja di Majapahit.
Seorang pemuda bernama Dharma Sasongko yang selanjutnya sering disebut sebagi Damar Wulan adalah pemuda tampan yang bertugas mengurusi kuda-kuda Patih Lohgender, patih Majapahit masa itu. Dua putra Mahapatih tidak menyukai Damar Wulan, Layang Seto dan Layang Gumitir justru cendrung memusuhi dan sering melecehkan Damar Wulan karena iri dengan ketampanan dan ketenarannya. Patih Lohgender juga memiliki seorang putri bernama Anjasmoro yang menyukai Damar Wulan. Patih Lohgender sendiri lebih cendrung membela dua putranya karena Patih juga ingi dua putranya tenar dan menjadi kebanggaan Majapahit.
Layang Seto dan Layang Gumitir semakin membeci Damar Wulan ketika mendengar Damar Wulan diutus Ratu Ayu untuk pergi ke Blambangan dan membunuh Minak Jinggo karena itu berarti Damar Wulan memiliki potensi untuk bisa mempersunting Rata Ayu nantinya dan menjadi raja Majapahit. Damar Wulan akan semakin cemerlang sedangkan mereka berdua harus tunduk kepada pemuda yang selama ini mereka lecehkan. Maka mereka membangun rencana untuk menjegal langkah Minak Jinggo.
Telah terkenal ke seantero negeri tantang kehebatan Gadha Wesi Kuning Minak Jinggo, tahu akan hal itu Damar Wulan mendekati kedua selir Minak Jinggo yang bernama Dewi Wahita dan Dewi Puyengan yang mana keduanya dikisahkan berasal dari keluarga ningrat masing-masing di Bali. Karena ketampanan, keramahan dan sikapnya yang mempesona, akhirnya Dewi Wahita mau diminta mencuri Gadha Wesi Kuning Minak Jingga dan memberikannya kepada Damar Wulan dengan perjanjian yang sudah disetujuai semua pihak berupa Damar Wulan akan menikahi Dewi Wahita dan Dewi Puyengan setelah mengalahkan Minak Jinggo nantinya.
Sangat bisa ditebak bahwa Damar Wulan jadi tidak terkalahkan dengan Gadha Wesi Kuning di tangannya. Minak Jinggo mati di tangannya, lalu Damar Wulan memenggal kepala Minak Jinggo untuk dibawa ke Majapahit dan dijadikan sebagai bukti kepada Ratu Ayu bahwa dirinya telah berhasil membunuh Minak Jingga.
Di dalam perjalanan, di sebuah gunung, Damar Wulan dihadang Layang Seto dan Layang Gumitir dengan tujuan merebut kepala Minak Jinggo. Maunya kalau Layang Seto dan Layang Gumitir berhasil membunuh Damar Wulan dan merebut kepala Minak Jinggo, keduanya bisa menghadap Ratu Ayu dan mengaku bahwa mereka yang telah membunuh Minak Jinggo dengan bukti kepala Minak Jinggo yang ada di tangan mereka sehingga salah satu dari mereka akan mempersunting Ratu Ayu dan menjadi Raja di Majapahit.
minak jinggo

Namun khayalan indah itu tidak pernah menjadi kenyataan, yang ada justru Layang Seto dan Layang Gumitir mati di tangan Damar Wulan di atas gunung itu. Kini gunung tempat mereka bertiga berduel saling membunuh biasa disebut Gunung Gumitir karena Layang Gumitir mati di sana. Gunung Gumitir sendiri merupakan perbatasan antara Banyuwangi dan Jember.

Pembahasan lebih lanjut tentang Gunung Gumitir bisa dibaca di artikel (klik) Kota Banyuwangi.

Pada akhirnya Dharma Sasongko atau Damar Wulan menjadi Raja Majapahit, menikahi Ratu Ayu Suhita atau Ratu Ayu Kencana Wungu, Menikahi Anjasmoro, Menikahi Dewi Wahito dan Dewi Puyengan.

minak jinggo

"wisata banyuwangi" - Google Berita

Kadis Pariwisata Banyuwangi Dirotasi Bersamaan dengan 50 Pejabat Lain, Bupati Singgung Zona Nyaman - Viva Baca Selengkapnya

Potret Kampung Terpencil di Banyuwangi, Warga Andalkan Satu-satunya Truk Milik Crazy Rich Setempat untuk ... - Merdeka.com Baca Selengkapnya

Inilah 4 Wisata Pantai Andalan di Kota Banyuwangi, Tiket Masuk Hanya Rp 5.000 - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

Ada Wisata Hits di Banyuwangi, HTM Murah Meriah Hanya Rp 5 Ribu, Viewnya Bikin Seger, Cocok Buat Healing Sambil Foto-Foto - RBG.id - RBG Baca Selengkapnya

Viral Ratusan Lumba-Lumba Migrasi Lewat Banyuwangi Direkam Warga - detikTravel Baca Selengkapnya

Wisata Umbul Bening Banyuwangi: Daya Tarik, Harga Tiket, dan Jam Buka - Kompas.com - Kompas.com Baca Selengkapnya

29 Tempat Wisata Banyuwangi, Mulai dari Alam hingga Budaya yang Paling Populer - kumparan.com - kumparan.com Baca Selengkapnya

Wisata Terbaru 2024 Pantai Cacalan Banyuwangi? Menyusuri Keindahan Pantai dengan Berkuda, Rasakan Sensasinya! - jogja.disway.id - Jogja Disway Baca Selengkapnya

Eksotisme Wisata Jopuro Banyuwangi, Sejuknya Mata Air Gunung Ijen hingga Warna-warni Capung yang Menyita ... - Merdeka.com Baca Selengkapnya

Jos! Dua Agenda Wisata Banyuwangi Masuk KEN Kemenparekraf 2024 - Jatim Solopos.com Baca Selengkapnya

Wisata ke Umbul Bening di Banyuwangi, Bisa Naik Sepeda Air - Kompas.com - Kompas.com Baca Selengkapnya

Rekomedasi Wisata Terbaru 2024 Pantai Banyuwangi? Pemandangan Estetik, Banyak Spot Instagramable Dijamin Betah - jogja.disway.id - Jogja Disway Baca Selengkapnya

Kawah Ijen Tutup Mendadak, Pelaku Wisata Banyuwangi Sambat Harus Putar Otak - detikJatim Baca Selengkapnya

6 Destinasi Wisata Banyuwangi Paling Banyak Dikunjungi Selama Libur Nataru, Nomor 1 Bukan Kawah Ijen - Radar Banyuwangi - Radar Banyuwangi Baca Selengkapnya

Eksplorasi Keindahan Alam Banyuwangi, Dijamin Bikin Pengen Balik Lagi - VIVA Jatim Baca Selengkapnya

Gambar sejarah minak jinggoGambar sejarah minak jinggo

Banyuwangi

Sumber : id.wikipedia.org



Banyuwangi atau Byanyuwangai adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya berada di Kecamatan Banyuwangi. Kabupaten ini terletak di ujung timur Pulau Jawa, di kawasan Tapal Kuda, yang berbatasan dengan Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Bondowoso di sebelah utara, Selat Bali dan provinsi Bali di sebelah timur, Samudra Hindia di sebelah selatan, serta Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso di sebelah barat. Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur.

Di pesisir Kabupaten Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang merupakan penghubung utama antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Masyarakat penghuni daerah ini adalah suku Jawa Osing atau Wong Blambangan.

Mungkin Anda Suka  Jamu Gendong di Banyuwangi

Sejarah

Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Kangjeng Suhunan Prabu Tawang Alun.

Sejak tahun 1743, secara administratif VOC telah menganggap Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar Perjanjian Ponorogo yang diantara isinya adalah penyerahan kekuasaan Kartasura di Jawa bagian timur (termasuk Blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal Kartasura tidak pernah mewarisi Blambangan dari Kesultanan Mataram karena Kangjeng Suhunan Prabu Tawangalun telah menyatakan kemerdekaan Balambangan pada 23 Pebruari 1653 dan Mataram tidak pernah menundukkannya lagi hingga Mataram hancur akibat Perang Raden Trunajaya.

Pasca Perjanjian Ponorogo tahun 1743, VOC tidak pernah benar-benar menancapkan kekuasaannya sampai pada akhir abad ke-17, ketika Perusahaan Hindia Timur Britania menjalin hubungan dagang dengan Blambangan..

VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaannya atas Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (1767–1772) dan bahkan baru berakhir tahun 1777.

Dalam rangkaian peperangan itu terdapat beberapa pertempuran dahsyat yang salah satunya disebut Perang Puputan Bayu yang merupakan perlawanan rakyat Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu VOC.

Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 Desember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Sayangnya, perang ini tidak dikenal luas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kompeni Belanda.

Akhir dari perang ini, VOC-lah yang memperoleh kemenangan dengan diangkatnya R. Wiroguno I (Mas Alit) sebagai Bupati Banyuwangi pertama dan tanda runtuhnya Kerajaan Blambangan. Tetapi perlawanan sporadis rakyat Blambangan masih terjadi meskipun VOC sudah menguasai Blambangan. Itu bisa terlihat dengan tidak adanya pabrik gula yang dibangun oleh VOC saat itu, berbeda dengan kabupaten lainnya di Jawa Timur.

Legenda

Tokoh legenda yang terkenal adalah Putri Sri Tanjung yang di bunuh oleh suaminya di pinggir sungai karena dicurigai oleh suaminya telah selingkuh ketika dia ditinggal menuju medan perang. Dengan sumpah janjinya kepada sang suami sang putri berkata: "Jika darah yang mengalir di sungai ini amis memang Sri Tanjung selingkuh, tetapi jika berbau harum (wangi) maka Sri Tanjung tidak selingkuh". Dan ketika darah yang mengalir ke dalam sungai tersebut berbau wangi, maka menyesallah sang suami yang dikenal sebagai Sidopekso ini.

Harumnya air itulah yang kemudian diyakini sebagai asal mula nama daerah itu sebagai Banyuwangi.

Tokoh sejarah lain ialah Minak Djinggo, seorang Adipati dari Blambangan yang memberontak terhadap Kerajaan Majapahit dan dapat ditumpas oleh utusan Majapahit, yaitu Damarwulan. Namun sesungguhnya nama Minak Djinggo tidak ada dalam daftar raja Balambangan menurut Babad Sembar sehingga dapat dipastikan bahwa kisah ini hanya legenda saja.

Julukan

Patung selamat datang di Banyuwangi pada kaki gunung Gumitir

Kabupaten Banyuwangi menyandang beberapa julukan, di antaranya:

  • The Sunrise of Java

Julukan The Sunrise of Java disandang Kabupaten Banyuwangi tidak lain karena daerah yang pertama terkena sinar matahari terbit di Pulau Jawa.

  • Bumi Blambangan

Sejarah berdirinya Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Blambangan, karena Blambangan merupakan cikal bakal dari Banyuwangi. Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Blambangan adalah kerajaan yang paling gigih bertahan terhadap serangan VOC serta Blambanganlah kerajaan yang paling akhir ditaklukkan penjajah Belanda di Pulau Jawa.

  • Osing

Salah satu keunikan Banyuwangi adalah penduduk yang multikultur, dibentuk oleh 3 elemen masyarakat yaitu Jawa Mataraman, Madura, dan Banyuwangen (kini lebih dikenal dengan Osing).

Suku Osing adalah penduduk asli Kabupaten Banyuwangi. Mereka mempunyai adat-istiadat, budaya maupun bahasa yang sedikit berbeda dari masyarakat Jawa umumnya.

  • Santet

Julukan Banyuwangi kota santet terkenal sejak peristiwa memilukan ketika 100 orang lebih dibunuh secara misterius karena dituduh memiliki ilmu santet. Peristiwa ini dikenal luas oleh masyarakat sebagai “Tragedi Santet” Tahun 1998.

  • Gandrung

Kabupaten Banyuwangi terkenal dengan Tari Gandrung yang menjadi maskot kabupaten ini.

  • 'Banteng

Kabupaten Banyuwangi dijuluki kota banteng dikarenakan di Banyuwangi tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo terdapat banyak banteng jawa.

  • Pisang

Sejak dahulu Kabupaten Banyuwangi sangat dikenal sebagai penghasil pisang terbesar, bahkan tiap dipekarangan rumah warga selalu terdapat pohon pisang.

  • Festival

Berawal dari sukses penyelenggaraan kegiatan budaya Banyuwangi Ethno Carnival pertama pada tahun 2011 lalu, maka pada tahun-tahun berikutnya seakan tak terbendung lagi semangat dan kegairahan masyarakat Banyuwangi untuk mengangkat potensi dan budaya daerah melalui rangkaian kegiatan yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi Festival.

Maka sejak 2012 acara Banyuwangi Ethno Carnival ditahbiskan menjadi agenda tahunan berbarengan dengan kegiatan lain, baik yang bersifat seni, budaya, fesyen, dan wisata olahraga.

Geografi

Kabupaten Banyuwangi di Kabupaten BanyuwangiGentengGentengBangorejoBangorejoKalibaruKalibaruGlenmoreGlenmoreSronoSronoSonggonSonggonLicinLicinBanyuwangiBanyuwangiSempuSempuRogojampiRogojampiGiriGiriKalipuroKalipuroGambiranGambiranTegalsariTegalsariPesanggaranPesanggaranPurwoharjoPurwoharjoWongsorejoWongsorejoGlagahGlagahKabatKabatSingojuruhSingojuruhBlimbingsariBlimbingsariMuncarMuncarCluringCluringTegaldlimoTegaldlimoSiliragungSiliragung Peta administrasi kabupaten Banyuwangi

Secara geografis Kabupaten Banyuwangi terletak pada koordinat 7º45’15”–8º43’2” LS dan 113º38’10” BT.

Wilayah Kabupaten Banyuwangi cukup beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan. Kawasan perbatasan dengan Kabupaten Bondowoso, terdapat rangkaian Dataran Tinggi Ijen dengan puncaknya Gunung Raung (3.344 m) dan Gunung Merapi (2.799 m). Di balik Gunung Merapi terdapat Gunung Ijen yang terkenal dengan kawahnya. Gunung Raung dan Gunung Ijen adalah gunung api aktif.

Bagian selatan terdapat perkebunan, peninggalan sejak zaman Hindia Belanda. Di perbatasan dengan Kabupaten Jember bagian selatan, merupakan kawasan konservasi yang kini dilindungi dalam sebuah cagar alam, yakni Taman Nasional Meru Betiri. Pantai Sukamade merupakan kawasan penangkaran penyu. Di Semenanjung Blambangan juga terdapat cagar alam, yaitu Taman Nasional Alas Purwo.

Pantai timur Banyuwangi yang menghadap ke Selat Bali merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Tepatnya di Kecamatan Muncar yaitu pelabuhan perikanan Muncar.

Batas wilayah

Wilayah Kabupaten Banyuwangi berbatasan langsung dengan beberapa wilayah lain, yakni:

Utara Kabupaten Situbondo
Timur Selat Bali
Selatan Samudra Hindia
Barat Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember

Topografi

Kabupaten Banyuwangi terletak di ketinggian 0–2.500 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan tingkat kelerengan, wilayah Kabupaten Banyuwangi terbagi dalam empat kategori tingkat kelerangan, yaitu tingkat kelerengan 0–2%, tingkat kelerengan 2–15%, tingkat kelerengan 15–40%, dan tingkat kelerengan >40%. Berikut adalah detailnya:

  • Tingkat kelerengan 0–2% dapat dijumpai di seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi
  • Tingkat kelerengan 2–15% dapat dijumpai di hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Muncang dan Kecamatan Cluring
  • Tingkat kelerengan 15–40% dapat dijumpai di sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Muncal, Cluring, Gambiran, Tegalsari, Genteng, Srono, Rogojampi, Singojuruh, Giri, dan Banyuwangi.
  • Tingkat kelerengan >40% dapat dijumpai di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi, kecuali Kecamatan Purwoharjo, Muncal, Cluring, Gambiran, Tegalsari, Genteng, Srono, Rogojampi, Kabat, Singojuruh, Giri, Sempu, dan Banyuwangi.

Geohidrologi

Beberapa sungai besar maupun kecil yang melintas Kabupaten Banyuwangi mulai dari bagian utara ke selatan sehingga merupakan daerah yang cocok pertanian lahan basah, yaitu meliputi :

Mungkin Anda Suka  Komunitas Banyuwangi Tiger Riders BTR

  • Sungai Bajulmati (20 km), melewati Kecamatan Wongsorejo.
  • Sungai Selogiri (6,173 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Ketapang (10,26 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Sukowidi (15,826 km), melewati Kecamatan Kalipuro.
  • Sungai Bendo (15,826 km), melewati Kecamatan Glagah.
  • Sungai Sobo (13,818 km), melewati Kecamatan Banyuwangi dan Glagah.
  • Sungai Pakis (7,043 km), melewati Kecamatan Banyuwangi.
  • Sungai Tambong (24,347 km), melewati Kecamatan Glagah dan Kabat.
  • Sungai Binau (21,279 km), melewati Kecamatan Rogojampi.
  • Sungai Bomo (7,417 km), melewati Kecamatan Rogojampi, Srono, dan Muncar.
  • Sungai Setail (73,35 km), melewati Kecamatan Sempu, Genteng, Tegalsari, Gambiran, Purwoharjo dan Muncar.
  • Sungai Porolinggo (30,70 km)melewati Kecamatan Genteng.
  • Sungai Kalibarumanis (18 km), melewati Kecamatan Kalibaru dan Glenmore.
  • Sungai Wagud (14,60 km), melewati Kecamatan Genteng, Cluring dan Muncar.
  • Sungai Karangtambak (25 km), melewati Kecamatan Pesanggaran.
  • Sungai Bango (18 km), melewati Kecamatan Bangorejo dan Pesanggaran.
  • Sungai Baru (80,70 km), melewati Kecamatan Kalibaru, Glenmore, Tegalsari, Siliragung dan Pesanggaran.

Iklim

Suhu udara di wilayah datara rendah berkisar antara 20°–34°C, sedangkan wilayah dataran tinggi bersuhu udara kurang dari 19°C. Tingkat kelembapan di Kabupaten Banyuwangi bervariasi antara 73–84%. Berdasarkan klasifikasi iklim Koppen, hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi masuk dalam kategori iklim tropis basah dan kering (Aw & Am) dengan dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau di wilayah Kabupaten Banyuwangi berlangsung pada periode MeiOktober dengan puncak musim kemarau adalah bulan Agustus. Sementara itu, musim hujan di wilayah Banyuwangi berlangsung pada periode NovemberApril dengan bulan terbasah adalah bulan Januari dan Februari yang curah hujan bulanannya lebih dari 280 mm per bulan. Curah hujan tahunan di wilayah Banyuwangi berkisar antara 1.000–2.000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan bervariasi antara 80–150 hari hujan per tahun.

Data iklim Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 32.7
(90.9)
33.6
(92.5)
33.7
(92.7)
32.7
(90.9)
31.9
(89.4)
31.5
(88.7)
31.2
(88.2)
32
(90)
33.2
(91.8)
34.6
(94.3)
33.8
(92.8)
33.3
(91.9)
32.85
(91.18)
Rata-rata harian °C (°F) 27
(81)
27.2
(81)
27
(81)
27.1
(80.8)
26.3
(79.3)
25.7
(78.3)
25
(77)
25.1
(77.2)
26
(79)
27.8
(82)
27.6
(81.7)
27.4
(81.3)
26.6
(79.97)
Rata-rata terendah °C (°F) 21.4
(70.5)
21.8
(71.2)
22.5
(72.5)
21.5
(70.7)
20.8
(69.4)
19.9
(67.8)
18.9
(66)
19.7
(67.5)
20.8
(69.4)
21.4
(70.5)
22.8
(73)
21.6
(70.9)
21.09
(69.95)
Presipitasi mm (inci) 282
(11.1)
283
(11.14)
221
(8.7)
158
(6.22)
127
(5)
90
(3.54)
62
(2.44)
40
(1.57)
48
(1.89)
87
(3.43)
152
(5.98)
243
(9.57)
1.793
(70,58)
Rata-rata hari hujan 19 19 17 14 11 8 5 3 4 7 13 18 138
% kelembapan 83 83 81 78 75 72 69 65 67 71 77 80 75.1
Rata-rata sinar matahari bulanan 158 163 184 220 226 251 290 293 285 253 201 173 2.697
Sumber #1: Climate-Data.org
Sumber #2: BMKG

Pemerintahan

Bupati

Artikel utama: Daftar Bupati Banyuwangi
No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Wakil Bupati
28 Ipuk Fiestiandani 26 Februari 2021 Petahana 32 Sugirah

Dewan Perwakilan

Artikel utama: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banyuwangi

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2009-2014 2014-2019 2019-2024
PKB 6 Kenaikan 10 Penurunan 9
Gerindra (baru) 4 Kenaikan 5 Steady 5
PDI-P 12 Penurunan 10 Kenaikan 12
Golkar 7 Steady 7 Penurunan 5
NasDem (baru) 2 Kenaikan 5
PKS 0 Kenaikan 2 Steady 2
PPP 2 Kenaikan 4 Steady 4
PAN 1 Steady 1 Penurunan 0
Hanura 2 Kenaikan 4 Penurunan 2
Demokrat 10 Penurunan 5 Kenaikan 6
PKNU (baru) 5
RepublikaN (baru) 1
Jumlah Anggota 50 Steady 50 Steady 50
Jumlah Partai 10 Steady 10 Penurunan 9

Kecamatan

Artikel utama: Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi

Kabupaten Banyuwangi terdiri dari 25 kecamatan, 28 kelurahan, dan 189 desa (dari total 666 kecamatan, 777 kelurahan, dan 7.724 desa di Jawa Timur). Pada tahun 2021, luas wilayah Kabupaten Banyuwangi adalah 3.593,06 km².

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Banyuwangi, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
35.10.01 Pesanggaran 5 Desa
35.10.02 Bangorejo 7 Desa
35.10.03 Purwoharjo 8 Desa
35.10.04 Tegaldlimo 9 Desa
35.10.05 Muncar 10 Desa
35.10.06 Cluring 9 Desa
35.10.07 Gambiran 6 Desa
35.10.08 Srono 10 Desa
35.10.09 Genteng 5 Desa
35.10.10 Glenmore 7 Desa
35.10.11 Kalibaru 6 Desa
35.10.12 Singojuruh 11 Desa
35.10.13 Rogojampi 10 Desa
35.10.14 Kabat 14 Desa
35.10.15 Glagah 2 8 Desa
Kelurahan
35.10.16 Banyuwangi 18 - Kelurahan
35.10.17 Giri 4 2 Desa
Kelurahan
35.10.18 Wongsorejo 12 Desa
35.10.19 Songgon 9 Desa
35.10.20 Sempu 7 Desa
35.10.21 Kalipuro 4 5 Desa
Kelurahan
35.10.22 Siliragung 5 Desa
35.10.23 Tegalsari 6 Desa
35.10.24 Licin 8 Desa
35.10.25 Blimbingsari 10 Desa
TOTAL 28 189

Transportasi

Ibu kota Kabupaten Banyuwangi berjarak 290 km sebelah timur Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Banyuwangi merupakan ujung paling timur jalur pantura serta titik paling timur jalur kereta api pulau Jawa yaitu Stasiun Ketapang.

Pelabuhan Ketapang terletak di Kota Banyuwangi bagian utara, menghubungkan Jawa dan Bali dengan kapal Ferry, LCM, roro dan tongkang.

Angkutan Antarkota

Dari Surabaya, Kabupaten Banyuwangi dapat dicapai dari dua jalur jalan darat, jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara merupakan bagian dari jalur pantura yang membentang dari Anyer hingga pelabuhan Panarukan dan melewati Kabupaten Situbondo. Sedangkan jalur selatan merupakan pecahan dari jalur pantura dari Kabupaten Probolinggo melewati Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember. Di kedua jalur tersebut tersedia bus ekonomi maupun non-ekonomi.

Mungkin Anda Suka  10 Tempat Wisata Banyuwangi yang indah

Angkutan Kereta Api

Terdapat pula moda transportasi darat lainnya, yaitu jalur kereta api lintas timur Jawa dan berakhir di Banyuwangi. Stasiun Banyuwangi Kota merupakan stasiun terdekat dengan Kota Banyuwangi. Stasiun Ketapang terletak di utara Kota Banyuwangi tidak jauh dari Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Stasiun kereta api yang cukup besar di Banyuwangi adalah Stasiun Ketapang, Banyuwangi Kota, Rogojampi, Stasiun Kalisetail, (Kecamatan Sempu), dan Kalibaru. Selain itu ada juga stasiun yang lebih kecil seperti Singojuruh, Temuguruh, Glenmore, Sumberwadung dan Halte Krikilan.

Angkutan Daerah

Untuk transportasi wilayah perkotaan terdapat moda angkutan mikrolet, taksi Bosowa, Ramayana, Using Transport serta van atau yang oleh masyarakat setempat disebut 'colt' yang melayani transportasi antar kecamatan dan minibus yang melayani trayek Banyuwangi dengan kota-kota kabupaten di sekitarnya.

Angkutan Udara

Bandar Udara Internasional Banyuwangi di kecamatan Blimbingsari dalam pembangunannya sempat tersendat akibat kasus pembebasan lahan, dan memakan korban 2 bupati yang menjabat dalam masa pembangunannya yaitu Bupati Samsul Hadi (2000–2005) dan Bupati Ratna Ani Lestari (2005–2010). Dan pada tanggal 28 Desember 2010, Bandar Udara Blimbingsari telah dibuka untuk penerbangan komersial Banyuwangi (BWX) – Jakarta (CGK) – Banyuwangi (BWX) dan Banyuwangi (BWX) – Surabaya (SUB) – Banyuwangi (BWX).

Angkutan Laut dan Barang

Selain itu terdapat Pelabuhan Tanjung Wangi di Ketapang, Kecamatan Kalipuro selain sebagai pelabuhan bongkar muat barang dan peti kemas, juga melayani pelayaran ke kepulauan di bagian timur Madura, seperti Kep. Sapeken, Kep. Kangean, dan Kep. Sapudi.

Moda transportasi alternatif yang juga sudah diluncurkan berupa Kapal Cepat Marina Srikandi yang memiliki kapasitas hingga 145 orang penumpang. Pengoperasian kapal ini didorong oleh pemikiran bahwa pertumbuhan pariwisata Banyuwangi juga ditopang oleh pertumbuhan pariwisata di Bali dan Lombok, sehingga perjalanan yang menghubungkan ketiganya harus terus ditingkatkan.

Penduduk

Penduduk Kabupaten Banyuwangi terdiri dari beragam suku.

Pendidikan

Daftar perguruan tinggi

Perguruan tinggi negeri

Nama Perguruan Tinggi Alamat
Politeknik Negeri Banyuwangi Labanasem
Akademi Penerbangan Indonesia Blimbingsari
Universitas Airlangga PDD Banyuwangi Giri

Perguruan tinggi swasta

Nama Perguruan Tinggi Alamat
Universitas 17 Agustus 1945 Taman Baru
Universitas PGRI Banyuwangi Kertosari
Universitas Bhakti Indonesia Sraten
Sekolah Tinggi Komunikasi PGRI Banyuwangi Taman Baru
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banyuwangi Giri
Akademi Kelautan Banyuwangi Ketapang
Akademi Kesehatan Rustida Krikilan
Institut Agama Islam Darussalam Blokagung
Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng

Pariwisata

Ombak Pantai Plengkung, salah satu ombak terbaik di dunia.

Kabupaten Banyuwangi memiliki banyak objek wisata seperti:

Wisata Alam

Wisata Sejarah

Wisata Desa

  • Desa Kemiren, desa dengan adat istiadat dan budaya masyarakat suku Osing yang masih terjaga.
  • Desa Tamansari, desa di kaki Gunung Ijen yang menawarkan keindahan alam khas dataran tinggi.
  • Desa Gintangan, desa dengan produk unggulan berupa kerajinan anyaman bambu kualitas ekspor yang banyak diburu wisatawan.
  • Desa Bangsring, desa yang menawarkan keindahan bawah laut Selat Bali dan eksotika Pulau Tabuhan.
  • Desa Patoman, desa yang dijuluki sebagai "Miniatur Pulau Bali" karena menawarkan suasana perdesaan ala Pulau Dewata.
  • Kelurahan Gombengsari, kelurahan dengan perkebunan kopi yang luas dan sajian olahan kopi lokal yang khas.
  • Kelurahan Temenggungan, kampung di pusat Kota Banyuwangi yang menawarkan suasana perkampungan klasik tempo dulu dengan balutan seni dan budaya lokal yang senantiasa dilestarikan.

Kebudayaan

Petirtan di Pura Beji Ananthaboga dan Pelinggih Ganesha

Kabupaten Banyuwangi merupakan wilayah lintas pulau antara Pulau Jawa dan Pulau Bali, sehingga menjadi salah satu tempat pertemuan berbagai jenis kebudayaan. Budaya masyarakat Banyuwangi sangat beragam dan meliputi budaya lokal dari suku Jawa, suku Bali, suku Madura, dan suku Melayu. Terdapat pula budaya asing yang meliputi budaya Eropa.

Di dusun Selorejo, kecamatan Glenmore, di lereng Gunung Raung, terdapat Pura Beji Ananthaboga, sebuah pura dan petirtaan yang terletakserta menempati wilayah Perhutani KPH Banyuwangi Barat.

Batik

Batik yang disebut-sebut sebagai jati diri Bangsa Indonesia tak bisa diragukan. Keberadaannya memang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa. Motif-motifnya pun terinspirasi tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan banyuwangi, memiliki beberapa motif yang terkenal yaitu

  • Gajah Oling
  • Paras Gempal
  • Sekar Jagad
  • Kangkung Setingkes
  • Mata Ayam

Jenis Batik tadi merupakan sebagian dari Motif Batik khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

Lagu Daerah

  • Umbul-Umbul Blambangan
  • Ugo-Ugo
  • Banyuwangi Ijo Royo-Royo
  • Seblang Lukinto
  • Cengkir Gadhing
  • Ulan Andung Andung

Kesenian tradisional

Kesenian tradisional khas Banyuwangi antara lain:

Jenis kesenian tadi merupakan sebagian dari kesenian khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

Musik khas Banyuwangi

Gamelan Banyuwangi khususnya yang dipakai dalam tari Gandrung memiliki kekhasan dengan adanya kedua biola, yang salah satunya dijadikan sebagai pantus atau pemimpin lagu. Menurut sejarahnya, pada sekitar abad ke-19, seorang Eropa menyaksikan pertunjukan Seblang (atau Gandrung) yang diiringi dengan suling. Kemudian orang tersebut mencoba menyelaraskannya dengan biola yang dia bawa waktu itu, pada saat dia mainkan lagu-lagu Seblang tadi dengan biola, orang-orang sekitar terpesona dengan irama menyayat yang dihasilkan biola tersebut. Sejak itu, biola mulai menggeser suling karena dapat menghasilkan nada-nada tinggi yang tidak mungkin dikeluarkan oleh suling.

Selain itu, gamelan ini juga menggunakan "kluncing" (triangle), yakni alat musik berbentuk segitiga yang dibuat dari kawat besi tebal, dan dibunyikan dengan alat pemukul dari bahan yang sama, dan angklung, atau rebana.