•   CCTV Online
  •   Pembuatan Website
  •   Komunikasi HT Rig
  •   Audio - Karaoke
  •   Komputer - Software
  • Jaringan - Wifi
  •   Script Aplikasi Program
  •   Kontak : Mas Dewa
  •   HP/WA : 085330200563
  •   Jl. Letkol Istiqlah No. 160c Singomayan Barat
  •   Kel. Singonegaran Kec. Banyuwangi Jawa Timur 68415
Breaking News
Home / Banyuwangi / SEJARAH BLAMBANGAN

SEJARAH BLAMBANGAN

Cerita Damar Wulan – Kawan pembaca, setelah membahas cerita Minak Jinggo dan Sejarah Blambangan (versi I), kali ini kita akan membahas Kisah Minak Jinggo, Damar Wulan dan Sejarah Blambangan versi II. Versi ini adalah versi yang menjadi patokan alur cerita film layar lebar berjudul “Damarwulan MinakJinggo (Sebuah Legenda Majapahit)” yang diputar di bioskop pada tahun 1983 seperti yang telah didokumentasikan berupa sinopsis film di situs Indonesiafilmcenter.com.

Karena sifatnya sendiri yang berupa film, maka dibutuhkan beberapa penyesuaian sudut pandang sehingga bisa menambah nilai komersil film tersebut. Dalam film tersebut sudit pandang yang diambil adalah ada pihak baik yang dianggap sebagai bintang utama pembela kebenaran, yakni Damarwulan dan pihak antagonis sebagai musuh, yakni Minak Jinggo.
minak jinggo, cerita damar wulan, blambangan, umbul umbul blambangan, legenda damar wulan, cerita damarwulan dan minakjingga, minak jinggo dan damarwulan, pusaka minak jinggo, cerita legenda damarwulan, cerita legenda damar wulan
Minakjinggo dan Damarwulan versi wayang
Cerita bermula ketika Adipati Blambangan, Minak Jinggo dikabarkan ingin memberontak kepada kerajaan Majapahit yang saat itu dipimpin Ratu Suhita atau Ratu Ayu Kencana Wungu. Tentu saja kesaktian Minak Jinggo beserta gadha sakti Wesi Kuning merupakan ancaman yang serius bagi Ratu Ayu. Menghadapi kondisi semacam itu Ratu Ayu Kencana Wungu menggelar sayembara yang berbunyi “Barang siapa dapat membunuh Minak Jinggo akan mendapatkan hadiah diperbolehkan menikahi Ratu Ayu dan akan dijadikan Raja Majapahit.
Suatu malam Ratu Ayu bermimpi mengenai petunjuk bagaimana cara mengatasi pemberontakan Minak Jinggo, yaitu dengan mengutus seorang pemuda pengurus kuda sang patih bernama Damarwulan. Keesokan harinya Ratu Ayu memrintahkan Patih Logender untuk menemukan Damarwulan dan mengutusnya untuk membunuh Minak Jinggo.
Lalu muncullah Damarwulan sebagai pemuda yang disukai banyak orang, memiliki paras tampan dan berbudi perkerti baik. Damarwulan diperlihatkan sebagai tokoh utama yang disanjung semua orang sedangkan Minak Jinggo diperlihatkan tokoh jahat buruk rupa yang dibenci semua orang.
Sang patih sendiri yang bernama Logender memiliki dua putra bernama Layang Seto dan Layang Kumitir yang membeci dan sering menyiksa Damarwulan dan memiliki seorang putri bernama Anjasmoro yang justru menyukai Damarwulan. Sang patih bisa dengan mudah menemukan Damarwulan dan memerintahkannya untuk pergi membunuh Damarwulan. Maka berangkatlah Damarwulan untuk membunuh Minakjinggo seperti yang diperintahkan.
Namun di dalam hati Patih Logender sebenarnya menginginkan putranya yang akhirnya mampu membunuh Minakjinggo, menikahi Ratu Ayu dan menjadi Raja Majapahit. Maka disusunnya rencana busuk untuk membuat keinginannya itu menjadi kenyataan.
Di sisi lain, Damarwulan mampu membuat dua selir Minak Jinggo Dewi Wahita dan Dewi Puyengan untuk mencuri gadha sakti Wesi Kuning Minak Jingg dan memberikannya kepada Damarwulan. Akhirnya Damarwulan mampu memenggal kepala Minak Jinggo dan segera kembali ke Majapahit.
Ditengah perjalanan ke Majapahit, Damarwulan dihadang Layang Seto dan Layang Kumitir. Damarwulan berhasil didorong ke jurang oleh keduanya. Lalu keduanya kembali ke Majapahit dan mengaku bahwa mereka berdua yang mampu mengalahkan Minak Jinggo. Namun hal ini membuat Ratu Ayu ragu akan kebenaran paengakuan itu. Sedangkan Damarwulan tenyata masih hidup karena ditolong arwah ayahandanya dan segera kembali ke Majapahit.
minak jinggo, cerita damar wulan, blambangan, umbul umbul blambangan, legenda damar wulan, cerita damarwulan dan minakjingga, minak jinggo dan damarwulan, pusaka minak jinggo, cerita legenda damarwulan, cerita legenda damar wulan
Cerita Damar Wulan wujud dalam bentuk wayang
Mengetahui Damarwulan kembali ke Majapahit, Ratu Ayu yakin bahwa yang membunuh Minak Jinggo sebenarnya adalah Damarwulan. Ratu Ayu mengambil keputusan untuk mengadakan adu tanding antara duo Layang Seto dan Layang Kumitir dengan Damarwulan. Siapa yang menang, dialah yang dinyatakan sebagai juara sayembara dan berhak menikahi Ratu Ayu serta menjadi Raja Majapahit. Adu laga digelar dan Damarwulan yang akhirnya menang. Damarwulan menjadi Raja Majapahit dan memperistri Ratu Ayu Kencana Wungu.
Melihat kenyataan itu, Patih Logender ambil tindakan. Dia mengarahkan Layang Kumitir untuk merangkul kerajaan-kerajaan kecil yang berniat memberontak kepada Majapahit untuk menggelar pemberontakan secepatnya. Patih juga mengarahkan agar Layang Seta membujuk dua orang saudara Damarwulan untuk memerangi Damarwulan dan membunuhnya.
Ketika Damarwulan menghadapi dua orang saudaranya itu, arwah ayahanda Damarwulan kembali hadir dan melerai duel ketiga putranya tersebut. Selanjutnya tiga bersaudara ini bersama-sama menghadapi para pemberontak dan berakhir dengan kemenangan. Begitulah kisah Damarwulan, pemuda tampan pujaan semua orang.

Check Also

BANYUWANGI ETHNO CARNAVAL

Banyuwangi Ethno Carnival 2015 - Pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2015 kembali digelar pada Sabtu, 17 Oktober 2015, mengangkat tema Usingnese Royal Wedding atau pernikahan suku Using. Karnaval ini diikuti ratusan peserta yang menampilkan ragam pengantin ala suku Using dalam balutan kostum kontemporer.Pengantin Using (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)"Dalam gelaran BEC ini, pengantin Using ditampilkan dalam bentuk desain fashion yang berkarakter oleh para desainer muda Banyuwangi. Inilah yang membedakan BEC dengan ajang serupa dari daerah lain, karena kami fokus dan bangga pada kebudayaan sendiri," papar Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Yanuar Bramuda.Parade BEC dimulai dari Taman Blambangan dengan panggung seluas 10 x 16 meter dan dilengkapi cat walk sepanjang 70 meter.Pagelaran diawali oleh parade Tari Gandrung kolosal. Setelah itu disambung prosesi ritual adat kemanten Using, yakni perang bangkat. Sebuah ritus adat yang dilakukan dalam acara pernikahan apabila kedua mempelainya adalah anak terakhir atau anak "munjilan".Ritual perang bangkat ini diawali dengan "padu-paduan" atau sahut-menyahut antarperwakilan keluarga kedua mempelai yang saling meminta agar anak mereka bisa dipersatukan.Padu-paduan ini akan diakhiri dengan kata sepakat dari kedua keluarga untuk menyatukan mempelai dan diikuti penyerahan uba rampe kepada keluarga pengantin perempuan. Yakni berupa kembang mayang, bantal yang dibungkus dengan tikar dan seekor ayam betina yang tengah mengerami telurnya.Penonton menyemut di Taman Sritanjung (sumber : Dani Firmansyah, Grup FB Banyuwangi Bersatu)Usai prosesi ini, penonton akan menyaksikan penampil khusus BEC dari mancanegara. Kemudian menyusul di belakangnya parade defile best BEC 2015 yang kemudian diikuti penampilan 37 peserta BEC cilik yang menampilkan kostum pengiring pengantin Using.Warga asing yang tampil bak penari Gandrung (sumber : Liputan6.com)Berikutnya penampil utama The Usingnese Royal Wedding menghibur penonton dengan beragam kostum kreasinya yang modern dan kontemporer. Dibawakan oleh sekitar 200 talent yang dibagi menjadi tiga sub tema yaitu Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan, dan Sekar Kedaton Wetan.Sembur Kemuning merupakan upacara adat pengantin masyarakat pesisiran di Banyuwangi. Kostum yang dikenakan didominasi warna kuning, orange dan ungu.Salah satu peserta dengan kostum Sembur Kemuning (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)Sementara Mupus Braen Blambangan yang didominasi warna merah, hitam dan emas merupakan upacara adat pengantin masyarakat kelas menengah. Peserta dengan kostum Mupus Braen Blambangan (sumber : Idda Rafsanjani, Grup FB Banyuwangi Bersatu)Sedangkan Sekar Kedaton Wetan merupakan upacara adat untuk pengantin kaum bangsawan yang diperagakan penampil dengan kostum dominasi warna hijau dan perak.Peserta dengan kostum Sekar Kedaton Wetan (sumber : Ida Rafsanjani , Grup FB Banyuwangi Bersatu)BEC BERTEMA LOKALPada Banyuwangi Ethno Carnival tahun sebelumnya Banyuwangi mengangkat tema Gandrung dan Barong Using.Menurut Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pemilihan tema yang akan diangkat dalam setiap kegiatan akbar budaya Banyuwangi merupakan hasil diskusi dengan sejumlah budayawan dan seniman Banyuwangi.Hal ini karena mereka dinilai memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih tentang tradisi serta budaya yang berkembang di Banyuwangi."Dalam penyusunan temanya kami selalu melibatkan budayawan serta seniman. Selain mereka memiliki pengetahuan lebih, pelibatan mereka ini untuk menjaga norma serta pakem-pakem tradisi setiap atraksi budaya yang akan kami tampilkan. Saat daerah lain getol membawa tema global dalam event budaya lokal, kami justru memperkenalkan budaya lokal ke publik global," tutur Anas."Kami terus konsisten mengeksplorasi budaya kami. Banyuwangi Ethno Carnival pun kami gelar dengan tema khusus tiap tahunnya karena budaya lokal kami yang memang sangat kaya. Setelah tahun-tahun sebelumnya sempat mengangkat Gandrung dan Barong Using, tahun ini yang kami persembahkan adalah tradisi pengantin Suku Using," katanya.Untuk tahun berikutnya, panitia telah menetapkan tema Banyuwangi Ethno Carnival 2016 yaitu Legenda Sritanjung-Sidopekso. Dipastikan tema Sritanjung ini akan sangat menarik karena berhubungan dengan legenda asal usul Banyuwangi. Tunggu tanggal mainnya.