Breaking News
Home / Banyuwangi / Peragaan Busana ala Banyuwangi

Peragaan Busana ala Banyuwangi

Peragaan Busana ala Banyuwangi

Peragaan Busana ala Banyuwangi. Banyuwangi punya cara unik menggelar peragaan busana. Bukan diatas panggung, tapi memanfaatkan pedistrian alias trotoar yang merupakan fasilitas pejalan kaki sebagai catwalk. Adalah pedistrian di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Blambangan Banyuwangi yang disulap menjadi media bagi para model untuk memamerkan busana batik khas Banyuwangi dalam ajang “Fashionon The Pedestrian”, Jumat (9/9/15) sore.

Peragaan Busana ala Banyuwangi.
Pagelaran fashion on the pedestrian

Tak kurang 170 peserta yang berlatarbelakang pelajar, karyawan hingga PNS berlenggak-lenggok di atas trotoar sepanjang 350 m. Mereka mengenakan busana batik hasil desain sendiri maupun hasil kolaborasi desainer lokal.
Meskipun para peserta tersebut tidak berprofesi sebagai model, mereka telah mengikuti seleksi, mulai dari cara berjalan bak peragawati hingga desain baju yang diajukan. Dari total ada sekitar 456 peserta yang mengikuti audisi, yang lolos hanya 170-an saja.

Peragaan Busana ala Banyuwangi
Deretan model amatir yang keren Peragaan Busana ala Banyuwangi

Para model amatir ini membawakan busana yang terbagi atas tiga kategori, yaitu busana kasual yang akan dibawakan peserta anak-anak, busana pesta dibawakan peserta remaja, dan dewasa akan memperagakan busana kerja.

Peragaan Busana ala Banyuwangi
Peserta yang tampil penuh percaya diri
Peragaan Busana ala Banyuwangi
Salah satu peserta dewasa Peragaan Busana ala Banyuwangi

Saat pertunjukan dimulai, para model lokal ini pun tampil bak model profesional. Dimulai dengan kategori anak, beragam busana batik kasual dengan warna-warna cerah pun mendominasi.
Berlanjut dengan kategori remaja yang membawakan busana pesta, kain batik berhasil disulap menjadi aneka busana yang berkesan elegan dan mewah. Sedangkan di busana kerja yang dibawakan oleh kategori dewasa, para model tampil dengan desain busana yang lebih formal.
LATAR BELAKANG FASHION BATIK ON THE PEDESTRIAN
Menurut Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, selain untuk menarik minat wisatawan, ajang fashion batik di trotoar ini untuk lebih membumikan kekayaan batik di tengah masyarakat.
“Banyuwangi sekarang punya sedikitnya 52 motif batik. Dengan ajang ini, batik bisa menjadi gaya hidup sehari-hari masyarakat,” ujarnya.
Di mata Anas membuat pagelaran berkualitas tidak harus ditempat yang mewah. Di trotoar pun asalkan didesain dengan aman, ramah dan nyaman bisa menjadi media yang istimewa untuk memamerkan potensi daerah.
“Ini sekaligus sebagai cara kami untuk memberikan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat. Melalui even ini kami juga ingin membuat industri batik daerah terus bergairah,” jelas Anas.

Peragaan Busana ala Banyuwangi
Anindya Kusuma Putri Peragaan Busana ala Banyuwangi

Putri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri, yang datang sebagai undangan khusus, terkejut melihat pergelaran busana Batik On Pedestrian di Banyuwangi. Selain sangat unik, ia mengaku baru pertama kali melihat pertunjukan fashion seperti itu .
“Ya, cukup surprise karena sarana umum bagi pejalan kaki bisa menjadi catwalk yang menarik. Ini jadi pengalaman fesyen yang baru. Banyuwangi menunjukkan kalau daerah mampu membuat event yang kreatif,” jelas Anindya di Banyuwangi, Jumat (09/10/2015).
Ia juga mengapresiasi karya busana yang para model kenakan sangat variatif dan lengkap, mulai desain formal sampai busana batik sehari-hari.
“Event ini menunjukkan kreativitas yang tinggi dari masyarakat lokal. Ini menjadi salah satu aset Banyuwangi yang menjanjikan untuk mengembangkan batik daerah. Masyarakat Banyuwangi harus bangga dengan semua ini,” ujarnya.
Ajang fashion on pedestrian merupakan rangkaian Banyuwangi Batik Festival 2015 yang diisi berbagai acara seperti lomba desain motif, lomba mencanting batik, dan lomba desain busana batik.

Peragaan Busana ala Banyuwangi

Check Also

SPECTA NIGHT CARNIVAL BANYUWANGI

Parade Budaya Jawa Timur 2015 atau Jatim Specta Night Carnival berlangsung meriah di Banyuwangi, Sabtu (14/11/2015). Kabupaten Banyuwangi dipercaya menjadi tuan rumah ke 10 pawai budaya yang digelar setiap tahun ini. Jatim Specta Night Carnival 2015 di Banyuwangi (sumber : Banyuwangikab.go.id)Dalam even yang diikuti 24 kabupaten/kota Jawa Timur ini ditampilkan berbagai kesenian khas dan kebudayaan daerah masing-masing dalam sebuah parade dan pawai berkeliling kota. Tujuannya tidak lain untuk mempromosikan potensi wisata daerah dan provinsi sebagai daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara datang ke Jawa Timur, khususnya daerah yang menjadi lokasi even. Sekaligus sebagai upaya untuk melestarikan seni dan budaya Jawa Timur yang sangat kaya dan beragam.Berbeda dengan pawai dan karnaval pada umumnya yang berlangsung siang sampai sore, Jatim Specta Night Carnival 2015 ini, sesuai dengan namanya, digelar pada malam hari. Maka pelaksanaan pawai budaya yang dimulai dari Taman Blambangan dan finish di depan kantor Pemda sejauh 2,5 km ini, didukung tata lampu yang megah. Suasana kota Banyuwangi pun gemerlap oleh kilauan cahaya lampu.Ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur unjuk atraksi seni dan budaya di hadapan ribuan masyarakat kota Blambangan, dengan iringan mobil hias bertabur lampu warna warni dan parade barisan kostum yang atraktif. Dalam parade ini Banyuwangi sendiri sebagai tuan rumah menampilkan fragmen legenda yang berjudul Mendung Langit Kedawung, yang melakonkan asal-usul berdirinya kerajaan Tawang Alun. Daerah lain seperti Kabupaten Malang menyuguhkan atraksi seni dengan tema Dewi Sri, Kabupaten Gresik yang mengangkat tema budaya Lir-ilir dengan mengambil inspirasi dari Sunan Giri dengan menyajikan pawai mobil hias. Pacitan dengan lakon Kethek Ogleng yang menceritakan kisah Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmoro Bangun. Sedangkan Kota Surabaya menyuguhkan tari Oncor Tambayu (Tambak Medokan Ayu). Tidak hanya tarian khas daerah, musik khas daerah, seni tarik suara, hingga fashion pun ditampilkan. Di awal acara bahkan ditampilkan kolaborasi berbagai kesenian di Jatim. Bila selama ini seorang Warok tampil bareng Reog, namun di Banyuwangi, Warok Ponorogo ini justru menjadi Paju (pasangan) Gandrung. Selain itu ada atraksi drumband dari kontingen Tulungagung yang membawakan lagu Umbul-umbul Blambangan sebagai musik pengiring para talent Banyuwangi Ethno Carnival. Benar-benar sebuah gelari pertunjukan seni budaya yang berkelas!Parade Kabupaten Ngawi (sumber : Grup FB Banyuwangi Bersatu/Topicustom Cak Anton)Kolaborasi Gandrung dan Warok (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)(sumber : Grup FB Banyuwangi Bersatu/Topicustom Cak Anton) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)(sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes