•   CCTV Online
  •   Pembuatan Website
  •   Komunikasi HT Rig
  •   Audio - Karaoke
  •   Komputer - Software
  • Jaringan - Wifi
  •   Script Aplikasi Program
  •   Kontak : Mas Dewa
  •   HP/WA : 085330200563
  •   Jl. Letkol Istiqlah No. 160c Singomayan Barat
  •   Kel. Singonegaran Kec. Banyuwangi Jawa Timur 68415
Breaking News
Home / Banyuwangi / PARADE BUSANA BANYUWANGI

PARADE BUSANA BANYUWANGI

 PARADE BUSANA BANYUWANGI

Galaxy-and-Optical-Art

PARADE BUSANA BANYUWANGIPada umumnya kertas bekas dibuang begitu saja karena dianggap tidak bernilai. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena di Banyuwangi kertas bekas disulap menjadi busana fashion yang bernilai seni. Sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan yang bersih, Pemkab Banyuwangi menyelenggarakan Festival Fashion dari bahan daur ulang. Limbah daur ulang dipilih sebagai bahan dasar fashion karena selama ini tak banyak masyarakat yang memahami cara memanfaatkan sampah. Padahal dengan sentuhan seni, ternyata sampah bisa menjadi produk baru yang memiliki nilai lebih.

Melalui gelaran yang bertajuk Festival Green & Recycle Fashion Week, ditampilkan parade fashion yang memanfaatkan limbah daur ulang menjadi pakaian yang ready to use. Bahan daur ulang yang ditentukan seperti 70 persen kertas dan 30 persen bahan lain. Untuk kertas bisa kertas koran atau sejenisnya. Bahan lainnya bisa memanfaatkan plastik atau kain perca.
Festival Green & Recycle Fashion yang baru pertama kali digelar ini berlangsung di Pantai Boom, Banyuwangi, Sabtu (14/3/2015). Festival yang baru pertama kali digelar ini merupakan rangkaian acara Banyuwangi Festival 2015.

Ratusan model cilik hingga dewasa berlenggak- lenggok membawakan busana berbahan barang bekas. Meskipun dari bahan-bahan bekas, busana yang dibawakan para model ini tetap terlihat keren. Secara kreatif mereka merancang pakaian berbentuk kupu-kupu, atau putri kipas dengan sanggul menjulang. Tidak hanya busana, semua ornamen yang digunakan terbuat dari bahan bekas. Seperti meja undangan yang terbuat dari ban bekas, tenda menggunakan bambu yang ditutup paranet, dan hiasan tenda terbuat dari pernak-pernik gelas air mineral.

Langit yang mendung tidak menyurutkan aksi para peserta untuk menampilkan bakat dan pakaian dengan rancangan terbaik masing-masing. Keindahan dan keunikan busana yang dikenakan para peserta tersebut membuat ratusan pasang mata tidak ingin melewatkan. Meskipun hanya tampil sesaat, para peserta Green and Recycle Fashion Week itu menyulap kertas bekas menjadi busana yang bernilai seni. Alhasil parade fashion show yang unik ini mampu menyedot ribuan penonton yang membanjiri amfiteater di Pantai Boom.
Sehari sebelumnya, juga digelar fashion on the street di depan kantor Pemkab Banyuwangi. Tema yang diangkat masih sama yakni fashion recycle tapi pesertanya adalah para karyawan Pemkab Banyuwangi, instansi vertikal tim penggerak PKK dan perwakilan ibu-ibu dasawisma. Yang menarik, peragaan fashion ini berlangsung malam hari memanfaatkan trotoar dan jalan raya sebagai media parade.

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, atraksi ini bukan sekadar parade fesyen. “Ini  lebih pada upaya mengirim pesan penting tentang bagaimana bahan yang tidak terpakai bisa digunakan kembali,” katanya.

Anas ingin agar acara fesyen ini menginspirasi dan menarik anak muda untuk berkreasi dengan bahan daur ulang. Tujuan utama dari Festival Green & Recycle Fashion ini adalah mengelola dan mengurangi volume sampah, namun dikemas dengan cara kreatif dan inovatif. Dengan begitu diharapkan lebih banyak warga Banyuwangi yang berkontribusi dalam mengurangi volume sampah.

 green fashion

Check Also

BANYUWANGI ETHNO CARNAVAL

Banyuwangi Ethno Carnival 2015 - Pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2015 kembali digelar pada Sabtu, 17 Oktober 2015, mengangkat tema Usingnese Royal Wedding atau pernikahan suku Using. Karnaval ini diikuti ratusan peserta yang menampilkan ragam pengantin ala suku Using dalam balutan kostum kontemporer.Pengantin Using (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)"Dalam gelaran BEC ini, pengantin Using ditampilkan dalam bentuk desain fashion yang berkarakter oleh para desainer muda Banyuwangi. Inilah yang membedakan BEC dengan ajang serupa dari daerah lain, karena kami fokus dan bangga pada kebudayaan sendiri," papar Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Yanuar Bramuda.Parade BEC dimulai dari Taman Blambangan dengan panggung seluas 10 x 16 meter dan dilengkapi cat walk sepanjang 70 meter.Pagelaran diawali oleh parade Tari Gandrung kolosal. Setelah itu disambung prosesi ritual adat kemanten Using, yakni perang bangkat. Sebuah ritus adat yang dilakukan dalam acara pernikahan apabila kedua mempelainya adalah anak terakhir atau anak "munjilan".Ritual perang bangkat ini diawali dengan "padu-paduan" atau sahut-menyahut antarperwakilan keluarga kedua mempelai yang saling meminta agar anak mereka bisa dipersatukan.Padu-paduan ini akan diakhiri dengan kata sepakat dari kedua keluarga untuk menyatukan mempelai dan diikuti penyerahan uba rampe kepada keluarga pengantin perempuan. Yakni berupa kembang mayang, bantal yang dibungkus dengan tikar dan seekor ayam betina yang tengah mengerami telurnya.Penonton menyemut di Taman Sritanjung (sumber : Dani Firmansyah, Grup FB Banyuwangi Bersatu)Usai prosesi ini, penonton akan menyaksikan penampil khusus BEC dari mancanegara. Kemudian menyusul di belakangnya parade defile best BEC 2015 yang kemudian diikuti penampilan 37 peserta BEC cilik yang menampilkan kostum pengiring pengantin Using.Warga asing yang tampil bak penari Gandrung (sumber : Liputan6.com)Berikutnya penampil utama The Usingnese Royal Wedding menghibur penonton dengan beragam kostum kreasinya yang modern dan kontemporer. Dibawakan oleh sekitar 200 talent yang dibagi menjadi tiga sub tema yaitu Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan, dan Sekar Kedaton Wetan.Sembur Kemuning merupakan upacara adat pengantin masyarakat pesisiran di Banyuwangi. Kostum yang dikenakan didominasi warna kuning, orange dan ungu.Salah satu peserta dengan kostum Sembur Kemuning (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)Sementara Mupus Braen Blambangan yang didominasi warna merah, hitam dan emas merupakan upacara adat pengantin masyarakat kelas menengah. Peserta dengan kostum Mupus Braen Blambangan (sumber : Idda Rafsanjani, Grup FB Banyuwangi Bersatu)Sedangkan Sekar Kedaton Wetan merupakan upacara adat untuk pengantin kaum bangsawan yang diperagakan penampil dengan kostum dominasi warna hijau dan perak.Peserta dengan kostum Sekar Kedaton Wetan (sumber : Ida Rafsanjani , Grup FB Banyuwangi Bersatu)BEC BERTEMA LOKALPada Banyuwangi Ethno Carnival tahun sebelumnya Banyuwangi mengangkat tema Gandrung dan Barong Using.Menurut Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pemilihan tema yang akan diangkat dalam setiap kegiatan akbar budaya Banyuwangi merupakan hasil diskusi dengan sejumlah budayawan dan seniman Banyuwangi.Hal ini karena mereka dinilai memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih tentang tradisi serta budaya yang berkembang di Banyuwangi."Dalam penyusunan temanya kami selalu melibatkan budayawan serta seniman. Selain mereka memiliki pengetahuan lebih, pelibatan mereka ini untuk menjaga norma serta pakem-pakem tradisi setiap atraksi budaya yang akan kami tampilkan. Saat daerah lain getol membawa tema global dalam event budaya lokal, kami justru memperkenalkan budaya lokal ke publik global," tutur Anas."Kami terus konsisten mengeksplorasi budaya kami. Banyuwangi Ethno Carnival pun kami gelar dengan tema khusus tiap tahunnya karena budaya lokal kami yang memang sangat kaya. Setelah tahun-tahun sebelumnya sempat mengangkat Gandrung dan Barong Using, tahun ini yang kami persembahkan adalah tradisi pengantin Suku Using," katanya.Untuk tahun berikutnya, panitia telah menetapkan tema Banyuwangi Ethno Carnival 2016 yaitu Legenda Sritanjung-Sidopekso. Dipastikan tema Sritanjung ini akan sangat menarik karena berhubungan dengan legenda asal usul Banyuwangi. Tunggu tanggal mainnya.