Breaking News
Home / Banyuwangi / Kota Banyuwangi

Kota Banyuwangi

Halo kawan laros para pejuang Kota Banyuwangi. Apa kabar hari ini??

Postingan kali ini masih tentang Banyuwangi. Ya, judul yang kita ambil adalah Kota Banyuwangi. Karena memang Kota Banyuwangi ini rasa-rasanya belum habis diceritakan meskipun ratusan atau ribuan atrtikel membahasnya. Potensi yang dianugerahkan Allah SWT kepada para cucu Minak Jinggo ini begitu melimpah ruah. Tidak hanya kekayaan alam yang begitu lengkap dari puncak pegunungan di wilayah utara hingga dalamnya Lautan Hindia di wilayah selatan yang dimiliki Kab Banyuwangi. Tetapi potensi budaya, kepemilikan macam bahasa dan letak geografis yang sangat setrategis. Kota Banyuwangi juga memiliki manusia-manusi teguh yang menjaga tradisi-tradisi kebudayaan sehingga budaya-budaya ini terus lestari di tengah masuknya budaya-budaya modern. Belum lagi jika kita menengok cerita sejarah para penduduk pendahulu Kab Banyuwangi ini. Itu juga termasuk dalam kekayaan khazanah Kota Banyuwangi.

Kota Banyuwangi atau yang biasa disebut sebagai Kota Gandrung ini terletak di ujung timur Pulau Jawa. Mendapat julukan sunrise of Java, keren banget gak tuh? Kab Banyuwangi juga memiliki akses transportasi air yang baik, yakni Pelabuhan Kapal Laut Ketapang. Potensi penghasilan dari alam daratan maupun lautan berlimpah ruah.

Jalur yang biasa dilewati Suarabaya-Bali adalah lewat Jember. Menempuh jalur ini mengharuskan anda melewati Gunung Gumitir. Gunung Gumitir adalah (sesuai dengan cerita daerah setempat) tempat dimana Layang Setro dan Layang Gumitir menghadang Damar Wulan dan ingin merampas Kepala Minak Jinggo yang sudah dikalahkan Damar Wulan di Blambangan. Jika Layang Setro dan Layang Gumitir bisa merampas kepala Minak Jinggo itu, salah satu dari mereka berdua akan berhak mempersunting Ratu Kencono Wungu, karena berarti yang memenangkan sayembara Ratu Kencono Wungu adalah mereka. Namun ternyata mereka berdua tidak mampu merebut kepala Minak Jinggo tersebut dan Layang Gumitir tewas di tangan Damar Wulan. Jadilah gunung tersebut diberi nama Gunung Gumitir.

Dalam melewati Hutan Gumitir ini, anda sebaiknya berhati-hati. Selain kelokan-kelokan tajam, rawan longsor ala pegunungan, udara yang dingin, kabut, kemungkinan adanya pihak-pihak yangyang berniat berbuat jahat di tempat sepi seperti itu juga harus diwaspadai.

Setelah melewati jalan di Hutan Gunung Gumitir yang menanjak-menurun dan berkelok-kelok tajam, anda akan berada di kawasan Kecamatan Kalibaru, salah satu kecamatan perkebunan penghasil kopi Banyuwangi. Setelah itu, secara berurutan anda akan melewati daerah-daerah sebagai berikut. Kec. Glenmore satu kecamatan yang namanya agak keinggris-inggrisan. Lalu Kec. Genteng yang kalau masuk rumah tidak boleh lewat genteng tapi harus lewat pintu, nanti dikira maling kalau lewat genteng. Tapi kalau mau ke Kota Banyuwangi, anda harus lewat Kota Genteng Banyuwangi dan tidak akan diteriaki maling oleh warga sekitar. Kota Genteng Banyuwangi juga dikenal sebagai Kota Pelajar di Kab Banyuwangi.

Selanjutnya anda akan melewati Kec. Tegalsari, Kec. Gembiran dan Kec. Cluring. Lalu anda akan melewati Kec. Srono. Di Kec Srono, jika mungkin anda ingin mampir ke Muncar untuk mendapatkan ikan-ikan laut yang segar, anda bisa mengambil jalan belok kanan. Selanjutnya anda akan melewati Kec. Rogojampi dimana Lapangan Terbang Blimbingsari berada. Dilanjut ke Kec. Kabat yang dalam dialek daerah biasa disebut “kabyat”. Dimulai dari Kec. Kabat inilah akan banyak ditemui percakapan penduduk dengan Bahasa Osing yang kental. Setelah Kec. Kabat dilalui anda akan menemui gapura jalan tertuliskan “Selamat Datang” diikuti taman jalan dan Patung Gandrung debagai ikon Kota Banyuwangi.

Selepas gapura dan taman jalan tersebut anda harus bersiap-siap memasuki Kota Banyuwangi. Ketika anda melihat taman ditengah bundaran jalan dengan patung seorang kesatria naik di kereta kuda, disanalah letak Taman Tirtowangi pertanda anda telah memasuki kawasan Kota Banyuwangi.

Jika bermaksut pergi ke Bali anda akan meneruskan perjalanan ke arah utara. Memasuki kawasan Pelabuhan Ketapang untuk menyeberang ke Pulau Bali.

Jalur lain yang bisa diplih adalah jalur Situbondo-Bondowoso. Jalur ini ada di sebelah utara Kota Banyuwangi. Jalur ini akan membuat anda melewati beberapa kawasan eksotis yang sangat indah. Diantaranya adalah PLTU Paiton yang akan memanjakan amata anda dengan gemerlap ratusan lampu yang tersebar di gedung area industri mereka. Sangat menyenangkan jika bisa kita melewatinya di senja hari atau subuh hari, atau jika keduanya tidak bisa malam hari-pun akan tetap terlihat indah.

Daerah selanjutnya yang akan anda lalui adalah Wisata Pasir Putih yang mempesona. Lokasi wisata berada di pinggir jalan. Sehingga akses kelokasi wisata sangat mudah dilalui. Bahkan jika kita tidak berhenti dan menengoknya dari kendaraan anda, anda tetap bisa melihat putihnya pasir di pantai itu.

Selanjutnya adalah Hutan Jati milik Perhutani. Jalan di sana cenderung sepi dan sepertinya tidak baik dilewati jika sendiri. Namun aspal jalan terlihat bersih tanpa sampah plastik. Hanya ada dedaunan yang bertebaran menambah keasrian jalanan hutan. Kalau di wilayah ini ada pemukiman penduduk mungkin akan beda ceritanya. Manusia memang harus sangat berhati-hati dengan dirinya sendiri.

Lalu anda akan melewati Taman Nasional Baluran yang bisa dikatakan sebagi miniatur Kehutanan Indonesia. Hampir semua jenis tumbuhan hutan Indonesia hidup di Taman Nasional ini. Lanjut anda akan melewati Watudodol, pantai di piggir jalan dimana ada batu besar di tengah jalan yang anda lewati. Ini berarti juga anda hampir sampai di Pelabuhan Ketapang. Jarak sudah dekat. Dan jika anda menengok ke kiri, akan terlihat sisi utara Pulau Bali. Tentu merupakan pemandangan yang sangat indah.

Kalau anda akan menuju Banyuwangi Kota, abaikanlah Pelabuhan Ketapang dan berjalan terus ke arah selatan, ke arah Kota Banyuwangi.

Sampai disini dulu artikel kali ini.

Check Also

SPECTA NIGHT CARNIVAL BANYUWANGI

Parade Budaya Jawa Timur 2015 atau Jatim Specta Night Carnival berlangsung meriah di Banyuwangi, Sabtu (14/11/2015). Kabupaten Banyuwangi dipercaya menjadi tuan rumah ke 10 pawai budaya yang digelar setiap tahun ini. Jatim Specta Night Carnival 2015 di Banyuwangi (sumber : Banyuwangikab.go.id)Dalam even yang diikuti 24 kabupaten/kota Jawa Timur ini ditampilkan berbagai kesenian khas dan kebudayaan daerah masing-masing dalam sebuah parade dan pawai berkeliling kota. Tujuannya tidak lain untuk mempromosikan potensi wisata daerah dan provinsi sebagai daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara datang ke Jawa Timur, khususnya daerah yang menjadi lokasi even. Sekaligus sebagai upaya untuk melestarikan seni dan budaya Jawa Timur yang sangat kaya dan beragam.Berbeda dengan pawai dan karnaval pada umumnya yang berlangsung siang sampai sore, Jatim Specta Night Carnival 2015 ini, sesuai dengan namanya, digelar pada malam hari. Maka pelaksanaan pawai budaya yang dimulai dari Taman Blambangan dan finish di depan kantor Pemda sejauh 2,5 km ini, didukung tata lampu yang megah. Suasana kota Banyuwangi pun gemerlap oleh kilauan cahaya lampu.Ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur unjuk atraksi seni dan budaya di hadapan ribuan masyarakat kota Blambangan, dengan iringan mobil hias bertabur lampu warna warni dan parade barisan kostum yang atraktif. Dalam parade ini Banyuwangi sendiri sebagai tuan rumah menampilkan fragmen legenda yang berjudul Mendung Langit Kedawung, yang melakonkan asal-usul berdirinya kerajaan Tawang Alun. Daerah lain seperti Kabupaten Malang menyuguhkan atraksi seni dengan tema Dewi Sri, Kabupaten Gresik yang mengangkat tema budaya Lir-ilir dengan mengambil inspirasi dari Sunan Giri dengan menyajikan pawai mobil hias. Pacitan dengan lakon Kethek Ogleng yang menceritakan kisah Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmoro Bangun. Sedangkan Kota Surabaya menyuguhkan tari Oncor Tambayu (Tambak Medokan Ayu). Tidak hanya tarian khas daerah, musik khas daerah, seni tarik suara, hingga fashion pun ditampilkan. Di awal acara bahkan ditampilkan kolaborasi berbagai kesenian di Jatim. Bila selama ini seorang Warok tampil bareng Reog, namun di Banyuwangi, Warok Ponorogo ini justru menjadi Paju (pasangan) Gandrung. Selain itu ada atraksi drumband dari kontingen Tulungagung yang membawakan lagu Umbul-umbul Blambangan sebagai musik pengiring para talent Banyuwangi Ethno Carnival. Benar-benar sebuah gelari pertunjukan seni budaya yang berkelas!Parade Kabupaten Ngawi (sumber : Grup FB Banyuwangi Bersatu/Topicustom Cak Anton)Kolaborasi Gandrung dan Warok (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)(sumber : Grup FB Banyuwangi Bersatu/Topicustom Cak Anton) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)(sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes