Breaking News
Home / Banyuwangi / KONTES KOPI SPESIAL DI BANYUWANGI

KONTES KOPI SPESIAL DI BANYUWANGI

Kontes Kopi Spesialty Indonesia di Banyuwangi – Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil biji kopi terbaik di dunia. Secara kuantitas produksi kopi Indonesia memang masih dibawah Brazil dan Vietnam, namun secara kualitas kopi Indonesia diakui lebih unggul dibanding kopi dari negara lain. Kelebihan kopi Indonesia adalah memiliki cita rasa dan ciri khas yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain, meskipun jenisnya sama. Perbedaan wilayah setiap daerah penghasil kopi di Indonesia menghasilkan aroma dan rasa masing-masing kopi berbeda. Tak terkecuali kopi Banyuwangi.

Kontes kopi spesialty Indonesia ke 7 di Banyuwangi.
Penjurian kontes kopi spesialty Indonesia ke 7 di Pendopo Banyuwangi (sumber : Kompas.com)

Belum lama ini Banyuwangi dipilih sebagai tuan rumah Kontes Kopi Specialty Indonesia (KKSI) ke-7. Penunjukkan ini menegaskan, Banyuwangi patut diperhitungkan sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia.
Sebelumnya, ajang yang digelar Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) ini hanya dipusatkan di Jakarta. Baru tahun ke 7 digelar di Banyuwangi.
Kontes kopi ini bertujuan untuk mendukung lahirnya kopi-kopi di Indonesia yang memiliki kekhasan cita rasa dan keunggulan karakteristik dalam upaya meningkatkan posisi harga dan citra Indonesia sebagai negara penghasil kopi istimewa.

Kopi Banyuwangi.
Para juri kontes kopi (sumber : Twitter.com/a_azwarnas)

Komitmen Banyuwangi mengenalkan kopi sebagai kuliner Banyuwangi dan Banyuwangi sebagai kota kopi disebutkan sebagai hal yang menarik minat Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) untuk menggelar ajang pencarian kopi terbaik Indonesia ini digelar di Banyuwangi, 19 Oktober 2015.
Banyuwangi yang memiliki beberapa perkebunan kopi yang tersebar di berbagai wilayah, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi yang memiliki cita rasa khas. Setiap tahun dari Banyuwangi dihasilkan lebih dari 9 ribu ton kopi per tahun yang terdiri dari 90% jenis Robusta dan 10% jenis Arabika.
Sebagai tuan rumah, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menyambut baik digelarnya kontes kopi nasional di Banyuwangi. Karena hal tersebut sejalan dengan upaya Pemkab Banyuwangi, yang terus mendorong eksistensi kopi sebagai salah satu identitas Banyuwangi.
“Kami bangga kontes ini diadakan di Banyuwangi. Ini akan merangsang petani kopi di Banyuwangi untuk ikut menciptakan kopi terbaik,” ungkap Bupati Anas.
Pemkab Banyuwangi sendiri telah menjadikan kopi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata daerah. Bahkan kopi telah menjadi oleh-oleh khas yang banyak dicari wisatawan.
Salah satunya melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu (Ngopi Sepuluh Ribu Cangkir) yang digelar rutin sejak 2013 di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Dalam festival yang diadakan untuk mengangkat eksistensi kopi Banyuwangi ini, sebanyak 10 ribu lebih cangkir kopi akan disuguhkan kepada masyarakat dan wisatawan untuk diminum secara gratis.
Kebanggan Banyuwangi sebagai daerah penghasil kopi istimewa juga ditunjukkan dengan kebiasaan Bupati Anas menjamu para tamu resmi minum kopi khas Banyuwangi. Para selebriti yang berkunjung ke Banyuwangi pun selalu disuguhi kopi Banyuwangi.

Raditya nyoba kopi khas Banyuwangi di Desa Kemiren. Harumnya ampun-ampun, tulisnya di akun Twitternya (sumber : Twitter.com/radityadika)

Dalam berbagai kesempatan promosi tentang keberadaan kopi Banyuwangi selalu dilakukan Pemkab Banyuwangi. Ketika berlangsung kontes Miss Coffee International 2012 lalu di Bali, Banyuwangi mendapat kehormatan mendapat kunjungan 14 Miss Coffee kontestan dari berbagai negara. Mereka diajak mengenal kopi Banyuwangi, termasuk cara menyangrai dan meracik kopi di Desa Kemiren. Dalam ajang Banyuwangi Plantation Festival awal bulan Oktober 2015, kopi Banyuwangi juga dipamerkan sebagai salah satu komoditas andalan Kabupaten Banyuwangi.

Kontestan Miss Coffee International 2012 belajar menyangrai kopi di Desa Kemiren (sumber: Kompas.com)

Dalam kontes kopi spesialty Indonesia ke 7 ini, kopi Banyuwangi memang tidak berhasil menjadi pemenang. Namun terpilihnya Banyuwangi sebagai tuan rumah kontes kopi nasional akan menjadi momentum untuk makin memantapkan predikat Banyuwangi sebagai Kota Kopi. (berbagai sumber)

Check Also

SPECTA NIGHT CARNIVAL BANYUWANGI

Parade Budaya Jawa Timur 2015 atau Jatim Specta Night Carnival berlangsung meriah di Banyuwangi, Sabtu (14/11/2015). Kabupaten Banyuwangi dipercaya menjadi tuan rumah ke 10 pawai budaya yang digelar setiap tahun ini. Jatim Specta Night Carnival 2015 di Banyuwangi (sumber : Banyuwangikab.go.id)Dalam even yang diikuti 24 kabupaten/kota Jawa Timur ini ditampilkan berbagai kesenian khas dan kebudayaan daerah masing-masing dalam sebuah parade dan pawai berkeliling kota. Tujuannya tidak lain untuk mempromosikan potensi wisata daerah dan provinsi sebagai daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara datang ke Jawa Timur, khususnya daerah yang menjadi lokasi even. Sekaligus sebagai upaya untuk melestarikan seni dan budaya Jawa Timur yang sangat kaya dan beragam.Berbeda dengan pawai dan karnaval pada umumnya yang berlangsung siang sampai sore, Jatim Specta Night Carnival 2015 ini, sesuai dengan namanya, digelar pada malam hari. Maka pelaksanaan pawai budaya yang dimulai dari Taman Blambangan dan finish di depan kantor Pemda sejauh 2,5 km ini, didukung tata lampu yang megah. Suasana kota Banyuwangi pun gemerlap oleh kilauan cahaya lampu.Ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur unjuk atraksi seni dan budaya di hadapan ribuan masyarakat kota Blambangan, dengan iringan mobil hias bertabur lampu warna warni dan parade barisan kostum yang atraktif. Dalam parade ini Banyuwangi sendiri sebagai tuan rumah menampilkan fragmen legenda yang berjudul Mendung Langit Kedawung, yang melakonkan asal-usul berdirinya kerajaan Tawang Alun. Daerah lain seperti Kabupaten Malang menyuguhkan atraksi seni dengan tema Dewi Sri, Kabupaten Gresik yang mengangkat tema budaya Lir-ilir dengan mengambil inspirasi dari Sunan Giri dengan menyajikan pawai mobil hias. Pacitan dengan lakon Kethek Ogleng yang menceritakan kisah Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmoro Bangun. Sedangkan Kota Surabaya menyuguhkan tari Oncor Tambayu (Tambak Medokan Ayu). Tidak hanya tarian khas daerah, musik khas daerah, seni tarik suara, hingga fashion pun ditampilkan. Di awal acara bahkan ditampilkan kolaborasi berbagai kesenian di Jatim. Bila selama ini seorang Warok tampil bareng Reog, namun di Banyuwangi, Warok Ponorogo ini justru menjadi Paju (pasangan) Gandrung. Selain itu ada atraksi drumband dari kontingen Tulungagung yang membawakan lagu Umbul-umbul Blambangan sebagai musik pengiring para talent Banyuwangi Ethno Carnival. Benar-benar sebuah gelari pertunjukan seni budaya yang berkelas!Parade Kabupaten Ngawi (sumber : Grup FB Banyuwangi Bersatu/Topicustom Cak Anton)Kolaborasi Gandrung dan Warok (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)(sumber : Grup FB Banyuwangi Bersatu/Topicustom Cak Anton) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab) (sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)(sumber : Twitter.com/banyuwangi_kab)

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes